Discrete Trial Teaching

Discrete Trial Teaching (DTT) adalah membagi sebuah kemampuan menjadi langkah-langkah kecil dan mengajarkan satu langkah dalam satu waktu sampai menjadi mahir. Sistem pengajarannya dalam bentuk pengulangan (repetisi) dengan memberikan reinforcement, jika perlu dibantu dengan prosedur prompt.  DTT adalah salah satu teknik pengajaran dibawah naungan ilmu Applied Behavior Analyst. Jadi DTT tidak sama dengan ABA, tetapi merupakan sebagian kecil dari ABA.

DTT pertama kali digunakan oleh Dr. Lovaas dalam penelitiannya untuk metoda pengajaran anak autis. 47% anak dalam penelitian beliau yang mengikuti DTT selama 40 jam seminggu tidak dapat dibedakan dengan anak normal saat anak berada di kelas 1 SD. Sampai saat ini DTT adalah metoda yang paling banyak di adakan penelitian sebagai intervensi untuk anak autis. DTT telah digunakan puluhan tahun dan terbukti sebagai treatment yang efektif dan evidence based untuk menangani anak autis.

Dalam siklus discrete trial terdapat:

  • Instruksi/stimulus discrimination
  • Respons
  • Feedback/reinforcement

Diantara feedback dan instruksi berikutnya ada jeda sedikit sekitar 2-3 detik.

Stimulus discrimination adalah stimulus/instruksi dari lingkungan yang memberikan sinyal kepada perilaku yang berhubungan dengan reinforcement. Instruksi ini harus sederhana, padat and jelas. Setelah anak paham dan memiliki level bahasa yang cukup instruksi di atas pelan-pelan akan dibuat lebih alami.  Bersamaan dengan instruksi tidak ada perintah lain seperti “duduk tenang”, ‘tangan yang manis”, “lihat saya” atau sebut nama anak sebelum instruksi. Dalam memberikan instruksi pernyataannya harus spesifik, satu langkah pada waktu itu. Meskipun anak tidak respons, instruksi jangan diulang-ulang.

Respons dalam bentuk behavior sebagai respons dari instruksi. Bentuk dari responsnya adalah

bisa benar atau tidak benar. Ketika anak memberikan respons kita harus menilai kualitas dari responsnya bagaimana? Kontak mata, atensi ke terapis dan usaha sang anak. Berikan waktu 3 detik ke responsnya. Pemberian respons harus konsisten.

Feedback adalah konsekuensi yang mengikuti respons dari sang anak. Feedback memberikan tanda ke anak bahwa responsnya benar atau tidak benar. Response harus konsisten untuk setiap terapis. Reinforcement diberikan untuk

meningkatkan kemungkinan behavior akan terjadi lagi di masa depan. Ada 3 jenis feedback:

  • Benar dengan atensi yang baik dari sang anak (kontak mata, atensi dan usaha keras) – berikan reinforcer yang terbaik
  • Benar dengan atensi yang kurang baik dari sang anak (tidak ada kontak mata, atensi dan usaha keras) – berikan reinforcer yang ditengah
  • Tidak ada response –> ulangi instruksi dengan prompt

Prompt adalah petunjuk dari terapis untuk memberikan jawaban yang benar. Prompt ini sangat berguna untuk di awal belajar untuk mengurangi frustasi, meningkatkan motivasi dan kecepatan belajar. Yang harus diperhatikan adalah prompt harus dikurangi secara perlahan sebelum anak tergantung dengan prompt. Terkadang terapis tidak sadar memberikan prompt kepada anak misalnya dengan lirikan mata perubahan intonasi dan kecepatan berbicara yang merujuk ke jawaban yang benar.

Errorless learning adalah prosedur memberikan prompt di awal setelah instruksi untuk memastikan anak menjawab dengan benar. Errorless learning dilakukan dengan tujuan mengurangi frustasi sang anak dan meningkatkan motivasi. Errorless learning mengikuti prinsip Most-to-least prompt (MTL). Prompt dari errorless learning pelan-pelan dihilangkan sehingga anak bisa menjawab sendiri (prompt fading).

Contoh DTT untuk mengajarkan warna kepada anak:

  1. Mass trial – dalam isolasi (dengan prompt di awal jika anak belum bisa). Letakkan 1 kartu merah. Katakan pada anak “Tunjuk/ambil merah”.
  2. Menggunakan distractor. Letakkan 2 kartu: kartu merah dan hijau. Katakan pada anak “Tunjuk/ambil merah” (dengan prompt di awal jika anak belum bisa). Jika dengan 1 distractor anak bisa, gunakan 2 distractor.

Bisa stop disini atau dilanjutkan:

  1. Ajarkan warna kedua dengan mass trial dalam isolasi (seperti langkah 1), misalnya biru. “Tunjuk/ambil biru”.
  2. Menggunakan distractor. Letakkan 2 kartu: kartu biru dan kuning. Seperti langkah 2. “Tunjuk/ambil biru”

Digabung pengajaran merah dan biru:

  1. Rotasi secara acak untuk 2 kartu yang diajarkan kartu merah dan biru menggunakan hijau dan kuning sebagai distractor.
  2. Rotasi secara acak juga bisa dilakukan dengan kartu-kartu warna yang lain yang mungkin sudah dipelajari.

Untuk prosedur DTT sendiri bervariasi, jadi tidak usah diperdebatkan. Masing-masing terapis memiliki kebijaksanaan sendiri asal dilakukan sesuai prinsip siklus DTT diatas dan didasari dengan prosedur yang evidence based atau memiliki prosedur yang bisa dipertanggung jawabkan referensinya. Ada terapis yang memilih untuk menggunakan prompts langsung (MLT=Most to Least prompting) seperti errorless learning ada center yang memilih untuk menggunakan NNP (no no prompt) maksudnya adalah 2 kali jawaban berturut-turut salah, baru kemudian anak diberikan prompt.

Untuk prosedur jika anak melakukan kesalahan, prosedur koreksi juga bervariasi. Apakah perlu berkata tidak/salah/stop atau langsung saja tanpa komentar presentasi tugas berikut dengan prompt.  Untuk prosedur yang terakhir anak akan paham salah karena tidak menghasilkan reinforcer dan dilakukan pengulangan tugas. Hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa frustasi karena untuk beberapa anak, kata-kata tidak/salah/stop akan berkonotasi negatif dan mengurangi motivasi. Yang pasti apapun prosedurnya, jika anak melakukan kesalahan, beri kesempatan anak untuk melakukan tugas lagi secara benar. Jangan hanya memberikan koreksi secara verbal atau contoh yang benar, tetapi anak harus mencobanya berulang-ulang ketrampilan baru tersebut sampai benar dan mandiri.

Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.