Pengetahuan Dasar ABA Guru

ABA (Applied Behavior Analysis) adalah ilmu sains yang menganalisa makhluk hidup dengan menggunakan metoda yang valid dan sistematis berdasarkan data dengan tujuan mencapai behavior yang diinginkan sesuai dengan lingkungan, apakah itu meningkatkan behavior yang diinginkan ataukah menurunkan behavior yang tidak diinginkan.

ABA adalah ilmu yang bersifat umum dan ditujukan untuk semua orang atau bahkan termasuk metoda pelatihan hewan. Contoh aplikasi pada masyarakat umum adalah ABA digunakan untuk mencapai tujuan pribadi seperti stop merokok, menurunkan berat badan. ABA juga bisa digunakan untuk pengelolaan perusahaan seperti sistem bonus, aturan perusahaan. Contoh lain adalah pengajaran ketrampilan show untuk hewan seperti lumba-lumba, singa laut, harimau, singa. Awalnya ilmu ABA ini berada di bawah ilmu psikologi (School of Psychology), tetapi karena perkembangannya “evidence-based” sebagai metoda pengajaran individu berkebutuhan khusus sehingga akhirnya sekarang juga berada dibawah Ilmu Pendidikan (School of Education). ABA sendiri merupakan ilmu yang sedang berkembang di dunia yang ditawarkan oleh lebih dari 300 universitas dan institusi terkemuka di seluruh dunia dengan mayoritas di Amerika Serikat termasuk beberapa di Asia yang menawarkan program untuk level S1, S2 dan S3.

ABA pertama kali digunakan dalam penanganan ABK khususnya autisme, pertama kali dikenalkan oleh Dr. Ivar Lovaas pada tahun 1987 yang pada waktu itu beliau mengadakan studi terhadap 59 anak terdiagnosa ASD yang berumur kurang dari 3 tahun. Hasil penelitian menunjukkan 19 orang anak yang melakukan terapi ABA 40 jam per minggu dengan terapi 1:1 (1 anak 1 terapis), 20 anak terapi ABA 10 jam per minggu dan 20 anak lain menerima terapi standar (di Amerika), yaitu terapi wicara, terapi okupasi, dan sekolah khusus. Hasilnya menunjukkan bahwa 47% dari anak yang menerima 40 jam per minggu tidak dapat dibedakan dengan anak normal setelah kelas 1 SD. Terapi ABA yang digunakan oleh beliau disebut Discrete Trial Teaching atau DTT.

Karena keberhasilan inilah kemudian ABA digunakan sebagai metoda pengajaran ABK yaitu untuk misalnya meningkatkan behavior yang prososial seperti bahasa, akademik, program mandiri, kemampuan bermain, sosial, dll. Sementara disisi lain ABA juga dapat digunakan untuk mengurangi behavior yang bermasalah seperti tantrum, suka pukul diri, tidak fokus belajar, suka gigit, mukul, dll. Aplikasi ABA sendiri sangat luas, jadi tidak hanya ABA yang duduk di meja dan terapi dengan kartu-kartu.

Ada 2 teori dasar dari ABA yang sangat penting dipahami oleh guru dalam penanganan ABK, yaitu fungsi behavior dan teori behavior ABC. Dengan memahami teori behavior, guru dapat memahami dan mengobservasi behavior ABK sehingga penanganan dapat dilakukan tepat sasaran dan juga efektif dalam metoda pengajaran di sekolah.

Fungsi Behavior

Setiap tindakan manusia selalu ada sebabnya atau dengan kata lain selalu ada fungsinya. Anak yang berkomunikasi dengan baik tentu dapat mengutarakan apa yang dia inginkan sehingga terhindar dari masalah behavior, tapi bagaimana anak yang belum bisa berbicara atau anak yang sudah berbicara tetapi belum bisa mengkomunikasikan apa yang ada dalam hatinya? Anak ini akan menggunakan behaviornya untuk berkomunikasi, dan sayangnya dia berkomunikasi dengan behavior yang bermasalah, misalnya tantrum, memukul orang, meludah, menggigit, dll.

 

Jika seorang anak melakukan problem behavior kemudian guru bertanya kenapa dia melakukan itu dan apa tujuanya? Fungsi dari behavior sang anak di sekolah adalah untuk mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan dia. Dan jika perubahan ini disukainya, kemungkinan besar sang anak akan melakukannya lagi di masa depan. Kunci penanganan dari problem behavior adalah dengan mengobservasi behavior sang anak, bukan melihat tindakannya tetapi melihat fungsi dari behavior. Jika anak tantrum di kelas, kita tidak melihat tantrumnya tetapi yang kita lihat adalah apa yang ingin anak sampaikan dari tantrum tersebut, atau dengan kata lain kita cari tahu apa fungsi dari behavior tersebut.  Mari kita kenali fungsi dari behavior.

  1. Mendapatkan perhatian atau atensi.
    Anak melakukan masalah behavior di kelas karena ingin mendapatkan atensi dari guru atau teman sebaya. Cara yang paling umum untuk mendapatkan atensi adalah dengan berkomunikasi, verbal atau gesture. Anak yang bisa berkomunikasi tentu memiliki kemampuan untuk mengangkat tangannya untuk bertanya atau berinteraksi dengan guru untuk mendapatkan atensi. Kemudian, bagaimana dengan anak yang tidak bisa berkomunikasi tetapi ingin mendapatkan perhatian? Akhirnya sang anak melakukan masalah behavior misal tantrum, memukul kepala sendiri, memukul teman, dll. Karena biasanya problem behavior ini akan mendapatkan atensi dari guru secepat kilat, bahkan terkadang guru kemudian menasehati sang anak. Apakah anak yang guru nasehati kapok atau malu? Belum tentu, anak belum tentu paham dengan bahasa nasehat yang guru berikan dan terlebih lagi terkadang ABK, khususnya autisme kurang memahami emosi, sehingga dia tidak paham guru sedang marah atau menasehati tetapi yang dia tahu adalah guru memberikan atensi yang dia inginkan.
  2. Mendapatkan sesuatu
    Misalnya mendapatkan barang atau aktivitas. Jika anak yang tidak bisa meminta apa yang dia inginkan kemudian ingin mendapatkan barang atau aktivitas tersebut, apa yang dia lakukan? Contoh misalnya di dalam kelas anak agak lapar karena bangun kesiangan dan ingin makan snack. Jika anak dapat berkomunikasi tentu anak bisa berkata kepada gurunya bahwa hari ini dia kesiangan boleh tidak makan snacknya sekarang. Mungkin guru akan mengijinkan atau anak harus menunggu sebentar. Tetapi anak jadi paham kapan dia bisa mendapatkan snacknya. Tapi bagaimana dengan anak yang tidak bisa meminta? Dan malahan tantrum atau menangis di kelas karena dia lapar dan ingin makan? Masalah behavior ini adalah cara dia berkomunikasi dengan gurunya. Terkadang guru dapat menebak apa mau sang anak sehingga anak diam tapi yang dipelajari anak adalah begini cara dia mendapatkan snacknya. Lakukan saja masalah behavior, guru akan langsung datang dan menawarkan apa yang menjadi keinginan sang anak dan pasti memberikannya, karena guru tidak ingin anak menangis di kelas.
  3. Menghindari tugas.
    Anak menghindari tugas karena bisa jadi tugas terlalu berat sehingga anak malas mengerjakannya atau tugas terlalu mudah sehingga anak bosan. JIka anak tidak memiliki kemampuan untuk mengungkapkan ke guru bahwa tugas terlalu sulit atau dia bosan, anak akhirnya melakukan tantrum untuk menghindari tugas. Biasanya penanganan anak yang tantrum kebanyakan di sekolah adalah ‘time out’ atau ‘disetrap’. Untuk anak tipikal mereka mungkin takut atau malu kena setrap. Tapi bagaimana dengan ABK khususnya autisma yang belum paham konsep emosi seperti itu. Yang mereka pahami adalah jika saya tantrum, saya senang karena saya tidak usah mengerjakan tugas yang diberikan guru. Besok kalau saya tidak mau mengerjakan tugas, saya tantrum saja lagi, karena pasti disetrap lagi. Akhirnya disetrap yang tadinya adalah sebagai hukuman tetapi untuk anak adalah sesuatu yang menyenangkan. Dalam dunia per ABA an hukuman seperti ini dalam metoda pembelajaran sudah tidak disarankan lagi karena tidak efektif.
  4. Anak melakukan behavior ini karena fungsinya otomatis. Contoh stimming pada anak autis seperti flapping hand. Fungsinya bisa jadi otomatis karena mereka memerlukannya untuk meregulasi sistem tubuhnya. Orang tipikal pun sebetulnya stimming seperti kita kalau berbicara menggoyangkan tangan atau ada orang yang jika duduk kaki bergoyang-goyang. Itu adalah stimming tetapi bentuknya umum sehingga tidak terlihat janggal. Tetapi hati-hati juga akan fungsi sensori dari behavior stimming yang terlihat otomatis ini yang bersifat stimulasi sensori, yang harus di manage dengan baik di dalam kelas.

Terkadang orang terlalu terkonsentrasi pada topografi behavior tersebut dan tidak memikirkan apa yang mengontrol behavior tersebut. Padahal behavior yang sama bisa memiliki fungsi yang berbeda dan penanganannya bisa juga berbeda. Jadi jika kita melihat masalah behavior pada anak misal tantrum, janganlah dilihat tantrumnya, tetapi dilihat fungsi dari tantrum. Bisa jadi tantrum karena ingin atensi atau tantrum karena ingin menghindari tugas yang diberikan. Atau, bisa jadi tantrum karena kedua alasan tersebut, karena atensi dan ingin menghindari tugas yang diberikan. Cara penanganan behavior yang sama, tantrum, jika fungsinya berbeda, akan berbeda.

Atau sebaliknya fungsinya sama tapi topografi dari behaviornya berbeda, misal anak ingin menghindari tugas bisa jadi di anak yang satu munculnya dalam bentuk tantrum, di anak yang lain bisa jadi anak jadi memukuli temannya karena anak yang tidak bisa mengungkapkan keinginannya bahwa dia tidak bisa mengerjakan atau terlalu mudah tugas itu dan kemudian mukul temannya, bu guru akan menyetrap sang anak. Karena tujuannya tercapai, akhirnya anak akan melakukannya lagi di masa depan.

Kunci dari penanganan masalah behavior adalah dengan tidak memberikan fungsi dari behavior tersebut, pelan-pelan behavior akan menurun. Jika fungsinya adalah atensi, jangan berikan atensi, tapi kita tentu harus mencegah anak mencelakakan dirinya atau orang lain (misal anak memiliki masalah behavior memukul diri sendiri atau anak lain). Jika fungsinya karena menghindari tugas, tetap berikan tugasnya. Jadi mulai sekarang jika anak melakukan masalah behavior, stop sejenak jangan cepat kita bereaksi tapi observasi apakah fungsi dari behaviornya? Contoh penanganan jika fungsinya adalah ingin sesuatu, berarti tetap jangan berikan sesuatu itu. Contoh langkah-langkah:

  • Jika tidak mengganggu atau membahayakan diri sendiri atau orang lain, abaikan saja.
  • Jika berbahaya jauhkan dari yang menyebabkan bahaya atau pegang tangan anak (atau ajarin anak supaya memegang kedua tangannya) supaya tidak sampai melukai orang lain dan katakan stop dengan nada datar, tanpa emosi, tanpa memarahi. Tidak perlu merespons terlalu jauh dengan masalah behavior anak untuk saat ini, biarkan anak tenang. Tidak perlu juga menasehati pada saat ini (karena nanti bisa jadi timbul fungsi yang lain nantinya bahwa anak menikmati atensi yang diberikan oleh guru).
  • Guru bisa membantu anak tenang dengan berkata stop kemudian sshhtt.. dan mengajaknya berhitung misal 1-5 atau 1-10 tergantung sang anak supaya anak tenang. Jika anak belum bisa bicara, guru yang bisa berhitung.
  • Setelah anak tenang, kemudian tanyakan “Mau apa?” Jika anak belum bisa menjawab berikan prompt (petunjuk). Misal Mau apa? hasil observasi terlihat anak ingin ambil buku yang dia sukai. Prompt dengan “Buku?”. Tanyakan sekali lagi, “Mau apa?”.
  • Jika anak menjawab dengan tenang (tanpa trantrum) “Buku” berikan barangnya. Jika tidak ulangi prosedur untuk membuat anak tenang diatas.
  • Pada kesempatan lain saat anak tenang, ajarkan anak bagaimana cara meminta apa yang dia inginkan (teknik mand dalam VB) sehingga lain kali dia tidak perlu tantrum untuk meminta apa yang dia inginkan tetapi menggunakan bahasanya sesuai fungsinya.
  • Ada baiknya untuk meningkatkan pengertian anak, di lain kesempatan gunakan social story atau buku cerita yang menggambarkan jika ingin sesuatu ya minta saja tidak usah melakukan problem behavior.
  • Yang harus dingat adalah apapun yang terjadi pada saat anak melakukan masalah behavior jangan diberikan barang/aktivitas itu.

Adakalanya behavior meningkat sesaat yang disebut extinction burst, jangan kuatir itu berarti guru berada di jalan yang benar, bukan karena program gagal. Setelah problem behavior menurun, sekali-kali akan timbul lagi yang disebut spontaneous recovery, jangan panik, tidak apa-apa karena itu memang sesuai dengan teori behavior.

 

Teori Behavior ABC

Teori yang kedua yang sangat penting untuk dipahami dalam menghadapi ABK adalah teori behavior ABC (Antecedent, Behavior, Consequence).

Antecedents              –>                  Behavior          –>                       Consequences
(sebelum behavior)                                                                             (sesudah behavior)
Terjatuh                                             Menangis                                  Ayah gendong
Penyampaian Tugas                     Mengerjakan tugas                Reinforcers

Dari teori diatas jelas terlihat bahwa behavior terjadi karena kejadian yang terjadi sebelum (antecedent) dan sesudah behavior (consequences). Apakah kemudian akan membuat behavior itu terjadi lagi dimasa depan atau tidak.

Antecedent adalah kejadian, orang atau sesuatu yang langsung terjadi sebelum behavior. Bisa jadi lebih dari satu antecedent. Contoh: ada teman yang mengambil barangnya, atau ada anak harus pindah ke pelajaran lain (misal dari kelas matematika ke pelajaran olahraga), dll. Sementara consequence adalah sesuatu atau perubahan dari lingkungan yang langsung terjadi setelah behavior, yang kemungkinan mengontrol behavior.

Ada 2 jenis consequence yaitu:

  • Reinforcerment yaitu consequences yang meningkatkan probabilitas behavior terjadi lagi dimasa depan. Misal guru berkata jika anak sudah selesai tugas matematikanya boleh istirahat lebih cepat 5 menit, tentu anak akan semangat mengerjakan matematika karena dia akan mendapatkan waktu istirahat yang dia inginkan. Tetapi harus dipahami bahwa konsep reinforcement adalah sesuatu yang memang anak sukai, bukan sesuatu yang guru pikir anak suka.
  • Punishment adalah consequence yang menurunkan probabilitas behavior terjadi lagi di masa depan. Misal time out, positive correction (jika anak meludah maka harus disuruh membersihkan ludahnya). Punishment sebaiknya dihindari dalam konsep belajar mengajar karena dapat menyebabkan emosi/tantrum dari si anak. Di Amerika sendiri, punishment di beberapa sekolah/center special need harus mendapatkan ijin dari direktur/pimpinan center. Secara kode etik, seorang behavior analyst akan selalu memprioritaskan reinforcement dan menjadikan punishment sebagai pilihan terakhir sehingga anak selalu belajar dengan motivasi tinggi.

Konsep reinforcement atau pemberian reinforcer adalah konsep yang paling penting dalam memahami metoda pembelajaran yan bisa dipraktekkan pada semua anak, khususnya ABK. Anak ABK atau autisma umumnya tidak termotivasi untuk belajar. Kemudian apa yang harus dilakukan untuk memotivasi anak untuk belajar? Sementara anak lain bisa guru bujuk untuk belajar atau memahami pergi ke sekolah untuk belajar, menjadi anak pintar dan mencapai cita-cita. Apakah anak autisme demikian juga? Tergantung level bahasa sang anak, tetapi bisa jadi sulit.

Karena mungkin ada konsep yang berbeda dengan anak tipikal. Contohnya reinforcement yang berbentuk pujian mungkin bekerja untuk anak tipikal karena anak memiliki rasa sosial dan senang dipuji guru atau menjadi tauladan teman-temannya. Bagaimana ABK yang belum terlalu mengerti fungsi bahasa dan kurang memiliki rasa sosial? Sama seperti setrap yang tidak berfungsi, pujian bisa jadi tidak berarti apa-apa buat mereka, atau mereka paham tapi keberhasilannya minim. Tergantung dari tingkat pemahaman dari sang anak, bisa jadi anak early learner lebih memahami apa yang dapat mereka rasakan atau dapatkan langsung. Itulah kenapa anak pemula di terapi ABA selalu diberikan reinforcer yang berbentuk langsung dan nyata buat anak yang dia sukai seperti makanan, mainan, aktivitas dll. Tentu hal ini mungkin agak sulit diterapkan di lingkungan sekolah, tetapi anak yang sudah siap sekolah sudah mulai bisa menerima sesuatu yang agak ‘menunggu’, sehingga reinforcer dapat berbentuk yang tidak terlalu langsung. Pada terapi ABA, proses pemberian reinforcer sendiri bertahap akan dikurangi sehingga anak tidak tergantung pada reinforcer. Yang harus iingat guru adalah reinforcer ini bisa jadi perlu penyesuaian sebelum diterapkan pada ABK yang akan dibicarakan minggu depan. Reinforcer ini pelan-pelan akan ditingkatkan dari yang berbentuk langsung menjadi yang lebih kearah sosial sehingga anak paham akan pujian atau reinforcer yang bentuknya lebih dapat diterima dalam tatanan sekolah.

Untuk bergabung dengan diskusi tentang topik-topik lain mengenai metoda ABA dan VB untuk penanganan ABK silahkan anda tambahkan:  FB Group: Rury ABA/VB Untuk Autisma
Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.