Optimasi Terapi Batita/Balita

Jika anda memiliki anak batita atau balita yang belum bisa berkomunikasi atau berbicara apa yang anda lakukan? Atau memiliki klien yang terdiagnosa dengan autism, speech delays atau ADHD, apa yang akan anda lakukan? Salah satu terapi yang memang ‘evidence based’ untuk menangani anak-anak autism, ADHD dan speech delay menggunakan metoda ABA. Tetapi, program ABA bagaimana yang harus dijalankan untuk menghadapi anak dengan usia dini?

Seperti yang pernah dijelaskan sebelumnya bahwa metoda ABA berdasarkan teori ABC dimana A adalah antecedent, B adalah behavior dan C adalah consequences, dimana behavior akan berulang jika konsekuensinya adalah sesuatu yang menyenangkan, atau reinforcer atau sesuatu yang anak inginkan, bukan sesuatu yang kita pikir anak ingin. Jika anak melakukan sesuatu dalam hal ini adalah target-target yang kita programkan anak mendapatkan apa yang dia inginkan, besar kemungkinan anak akan melakukannya lagi dengan senang hati dimasa depan.

Ilmu ABA saat ini sudah sangat berkembang, penanganan anak dengan autisme dengan ABA tidak melulu di atas meja, apalagi untuk anak usia dini, utamanya dibawah 3 tahun atau 5 tahun yang secara alami juga tidak mungkin diharapkan belajar di atas meja dalam jangka waktu yang lama. Lebih lagi banyaknya anak, khususnya anak dengan autisme yang kurang dapat mengimplementasi kemampuan yang dia sudah mahir di atas meja dalam lingkungan alami sehingga sudah seharusnya terapi diprogramkan sejak awal untuk memperbanyak implementasi apa yang mereka pelajari di atas meja dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anak yang hanya menjawab pertanyaan jika dilakukan di meja terapi saja dan ditanya oleh terapisnya, tetapi jika ditanyakan hal yang sama diluar terapi dan bukan ditanya oleh terapisnya, anak tidak bisa menjawab.

Anak-anak yang terdiagnosa autisme terlahir tidak memiliki keinginan atau motivasi untuk berinteraksi, sehingga diperlukan motivasi yang dibangun dari reinforcer yang didapatkan. Anak ini tidak atau minim memiliki interaksi sosial padahal interaksi sosial adalah sangat penting dalam proses pembelajaran dan ini adalah dasar yang dibutuhkan untuk implementasi ketrampilan di lingkungan alami (atau kegiatan sehari-hari). Jadi interaksi sosial adalah hal yang penting dibangun dalam terapi. Apalagi anak dengan autism terlahir sangat terpatri dengan sesuatu obyek, mereka lebih tertarik dengan obyek disbanding interaksi sosial.

Sekarang bayangkan dari sudut pandang anak yang sangat termotivasi bermain dengan obyek. Setiap terapis datang yang dilakukan adalah menyuruh melakukan tugas-tugas, mengambil barang yang dia suka, menyuruh duduk manis dalam jangka waktu yang lama, dan selalu dimeja padahal secara umur mereka juga belum diharapkan seperti itu. Tentu pengalaman yang didapatkan sang anak tidaklah sesuatu yang menyenangkan atau pengalaman positif. Bagaimana diharapkan mereka menyukai interaksi sosial jika mereka menilai negatif dengan kedatangan terapis? Bagaimana kita mengharapkan anak memiliki ketertarikan terhadap interaksi sosial jika kita hanya mengajarkan dengan kartu-kartu di atas meja tanpa interaksi? Anak autism yang memang terlahir terpatri dengan obyek, kemudian diterapi dengan obyek lagi (kartu-kartu), akan semakin terpaku dengan obyek juga, bukan dengan interaksi sosialnya.

Proses pairing harus dilakukan dengan baik supaya terhindar dari hal seperti ini. Pairing adalah memasangkan terapis dengan sesuatu yang menyenangkan untuk sang anak, bukan melulu kedatangan terapis dengan ‘kerja’, ‘kerja’ dan ‘kerja’. Apakah ada anak yang senang dengan bekerja terus menerus? Orang dewasa saja tidak bisa kerja terus menerus dan perlu selingan dalam pekerjaannya. Dalam terapi juga diperlukan membangun interaksi sosial, tidak hanya interaksi anak dengan kartu-kartu dan menghapal saja.

Kenali apa yang mereka suka. Apa yang paling memotivasi sang anak? Biarkan mereka memilih apa yang mereka inginkan dan melihat dari sisi mereka. Apa yang menarik mereka itulah yang kita lakukan sambil nanti pelan-pelan membentuknya menjadi yang kita inginkan atau harapkan. Bergabunglah dengan mereka. Jika anak suka sesuatu yang berputar, mungkin gasing adalah sesuatu yang menarik buat mereka dan cocok dijadikan reinforcer. Jika anak suka bermain kelitik, lompat atau gendong, mungkin itu merupakan aktivitas yang cocok dijadikan reinforcer. Jika anak senang sekali dengan beberapa jenis makanan, tentu makanan itu cocok pula sebagai motivasi anak untuk terapi. Jika anak sudah senang berinteraksi dengan kita, terapis sudah memiliki nilai buat sang anak, barulah kita bisa meningkatkan demand atau tugas pada sang anak.

Anak yang berusia dini, mungkin belum memiliki pra communication behavior skills, yaitu kemampuan yang diperlukan sebelum anak dapat dilatih secara efektif untuk mahir kemampuan lain yang contohnya adalah:
1. Berbagi senyum dengan orang lain yang merupakan dasar dari interaksi sosial dengan orang lain
2. Menunjuk kepada sesuatu yang diinginkan yang sangat penting untuk training mand (meminta sesuatu)
3. Mengikuti arah ditunjuk yang mungkin cukup penting untuk training tact, mand, listener dll
4. Mata yang mengikuti arah barang, yang tentu sangat penting dalam melatih listener sehingga anak mampu untuk scanning atas gambar yang ada di atas meja atau di buku
5. Mengambil sesuatu barang, yang tentu penting untuk melatih banyak ketrampilan seperti tact, listener, vp-mts, dll
6. Suara vokal yang bolak balik yang sangat penting untuk training echoics
7. Melakukan kontak mata jika barang yang dilihat hilang dari pandangan yang sangat diperlukan untuk banyak ketrampilan lain
8. Memiliki engagement yang cukup dalam beraktivitas aktivitas
9. Kemampuan menunjukan “showing”
10. Mengikuti ekspresi wajah yang sangat penting untuk kemampuan interaksi sosial timbal balik dengan orang lain
11. Joint attention yaitu kemampuan memberikan atensi pada hal yang sama dengan orang lain yang sangat penting untuk kemampuan sosial, proses pembelajaran, dll. Kemampuan joint attention adalah banyak dari gabungan pra komunikasi di atas
12. Imitasi adalah kemampuan yang sangat penting supaya anak dapat belajar langsung dari lingkungan. Anak banyak sekali belajar dari lingkungannya.
13. Bermain dan bermain sosial yang timbal balik

Semua program ABA adalah unik bergantung dari sang anak. Pembuatan program berdasarkan hasil assessment dari alat assessmen yang jika menggunakan metoda ABA/VB salah satunya adalah VB-MAPP. Tetapi terkadang sulit sekali mencapai target tersebut karena mungkin anak belum memiliki kemampuan yang dibutuhkan di atas untuk mencapai target sehingga diperlukan pemikiran untuk melatih kemampuan di atas sebelum dapat melatih target-target dalam VB-MAPP jika anak belum atau minim memilikinya.

Dalam penyusunan program anak juga harus dipikirkan apa yang terbaik buat sang anak, sehingga sangat diperlukan assessment secara menyeluruh menggunakan VB-MAPP karena perkembangan anak diharapkan seimbang supaya ketrampilan yang dihasilkan adalah seoptimal mungkin. Case manager atau terapis diharapkan memiliki background yang menyeluruh dalam penyusunan program sang anak. Tidak ada progam ABA yang copy paste atau semua anak baru menggunakan program yang sama dan memulai dari yang sama. Setiap anak adalah unik dan tentu program yang disusun haruslah unik juga.

Contohnya adalah program pukul rata bahwa harus ada program matching. Padahal banyak anak yang sudah memiliki kemampuan matching secara alami tetapi masih diberikan program matching di meja lagi sampai tingkat jauh yang melebih dari target-target yang lain karena begitulah program yang sudah digariskan. Padahal program dasar yang anak harus miliki saja anak belum bisa, seperti anak belum bisa mand, imitasi, dll. Dipanggil namanya saja anak belum bisa merespons, bagaimana dia bisa merespons dengan baik tugas-tugas lain yang diberikan padanya? Terkadang orangtua yang kurang paham akan senang jika anak sudah bisa matching banyak gambar, bisa memasang urutan gambar sulit, bermain puzzle rumit tapi apakah itu berguna untuk sang anak yang kemampuan dasar lainnya masih rendah?

Atau program yang terpaku dengan melabel benda-benda (tacting) saja dengan harapan anak dapat men-generalisasi- sendiri kemampuan tersebut dan menggunakan bahasanya secara fungsional. Tentu hal ini tidaklah bijaksana. Utamanya anak dengan autism adalah anak bisa banyak memiliki kosa kata tetapi tidak bisa menggunakan kemampuan kosa kata tersebut dalam lingkungan alami.

Program yang ada juga haruslah seimbang, tidak ada program yang satu harus komplit baru program yang lain baru jalan, utamanya untuk program dasar. VB-MAPP sudah menggariskan secara jelas program pengembangan apa saja yang harus dilakukan sesuai perkembangannya dan sebisa mungkin target-targetnya seimbang. Adalah normal waktu pemetaan pertama, anak dengan autism memiliki kemampuan yang acak, makanya anak tidak terlihat merespons bahasa dan sosial secara sempurna seperti anak tipikal tetapi tugas kitalah yang mengisi gap-gap ini sehingga anak memiliki kemampuan seoptimum mungkin.

Anak yang hiperaktif atau sangat menyukai bergerak, kemudian di buatkan program yang berbentuk DTT diatas meja saja, apakah yang terjadi? Tentu akan terjadi banyak problem behavior. Anak akan banyak melawan untuk bergerak, sementara terapis memaksa anak untuk duduk dalam jangka waktu yang lama sehingga anak trauma dengan belajar, utamanya trauma dengan terapi ABA. Anak bisa saja tantrum yang berlebihan atau yang ekstrim akan memukul dirinya sendiri atau terapis, karena dengan memukul berarti waktu belajar akan berkurang. Padahal, konsep belajar tidak harus selalu di meja. Apakah iya ada anak umur dibawah 5 tahun bisa duduk tenang berjam-jam? Tentu mereka perlu gerak, perlu selingan, mereka bukan robot. Jika anak memiliki banyak energi kombinasikan terapi dengan banyak bergerak. Belajar tidak harus di atas meja. Misalnya 20 menit di meja, kemudian lakukan bermain dalam konteks terapi misal mand, tact, dll. Kemampuan belajar di lingkungan alami ini juga diperlukan anak, yaitu mengimplementasikan apa yang dia sudah mahir di dalam kehidupan sehari-hari.

Membangun bahasa haruslah yang fungsional. Belajar sambil bermain dengan mainan adalah salah satu cara mengajarkan kemampuan berbahasa yang fungsional dan juga mengajarkan kemampuan yang disebutkan di atas. Dengan bermain juga inisiatif sang anak bisa dijaga. Terlalu banyak DTT menyebabkan inisiatif anak terganggu. Jadi sangat penting juga menargetkan bermain yang fungsional dan juga melatih inisiatif anak sejak usia dini, apalagi jika anak didiagnosa dengan autisme.

Jadi bagaimana menangani anak-anak usia dini ini dalam terapi, khususnya ABA?
• Lakukanlah assessment secara menyeluruh sehingga kita paham apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan dari sang anak. Jika case manager atau terapis menggunakan metoda ABA/VB, sudah seharuskan mereka menggunakan beberapa metoda assessment yang sesuai, misal VB-MAPP, ABBLSR, atau program-program VB lain, tetapi pastikan didalam assessment tersebut ada point-point yang digunakan dalam konsep ABA/VB. Dari hasil assessment inilah kemudian dibuatkan programnya.
• Harus diingat juga adalah perkembangan sang anak. Adalah normal anak umur 2-3 tahun tantrum tanpa alasan atau hanya bisa fokus dan duduk di meja dalam waktu yang tidak panjang.
• Anak adalah anak-anak bukan robot, jadi pintar-pintarlah membaca mood sang anak. Jika anak kurang mood hari itu, coba sedikit turunkan target atau perbanyak reinforcer supaya anak tetap bersemangat dalam terapi. Pikirkan pula jika anak hari itu terlalu banyak menghindar atau stimming. Apakah yang kira-kira terjadi. Evaluasilah target dan reinforcernya selain kondisi sang anak pada hari itu.
• Adalah normal anak usia dini utamanya dibawah 3 tahun memiliki atensi yang pendek. Adalah normal juga, jika mereka terkadang menjawab inkonsisten bukan karena tidak bisa tetapi karena tidak mood. Jadi kenali anak tidak dan janganlah kaku dalam menerapkan target. Target ABA yang berlaku umum adalah 80% dalam 3 hari berturut-turut. Tetapi kita tahu anak mahir, tetapi dihari ke 3 dia tidak mood, apakah bijaksana kita mengulangnya lagi di hari ke 4 atau memasang target anak harus bisa 100% dalam 3 hari berturut-turut baru dikatakan mahir? Atau anak yang kita tahu sangat cepat menyerap pelajaran, apakah bijaksana kita menunggu semua target baru dikatakan mahir jika anak bisa melakukan dalam 3 hari berturut-turut?
• Lakukan belajar secara repetisi dan rutin yang akan sangat membantu anak dalam memahami konsep belajar. Implementasikan pada kegiatan sehari-hari. Misal belajar membaca, mungkin semua barang dirumah bisa dituliskan supaya anak bisa membacanya, dll

Terkadang orangtua mengasosiasikan terapi dengan belajar atau yang diharapkan dari terapi adalah sang anak belajar, belajar berbicara, belajar menghapal kata-kata dengan kartu, menghapal jawaban-jawaban intraverbal, menghapal gerak-gerak atau belajar akademis. Padahal dengan bermain banyak sekali yang anak pelajari. Juga ada anggapan belajar juga harus di ruangan, harus dimeja, padahal belajar bisa dimana-mana sambil berkegiatan apa saja. Jadi, luangkanlah waktu di rumah dan juga terapi untuk bermain (sambil belajar).

Setelah kita memahami cara belajar anak utamanya dengan autism, Apa yang bisa dilaksanakan di tempat terapi dan juga dirumah yang bisa dilakukan orangtua dalam meningkatkan kemampuan diatas?
• Berinteraksilah dengan anak dengan bermain interaksi sosial seperti cilukba, petak umpet, bernyanyi bersama.
• Bermain dengan menggunakan alat sehingga anak menikmati sosial interaksi dengan orang lain dan juga mengetahui cara bermain seperti di taman bermain, bola, dll
• Bermainlah dengan menggunakan mainan karena dengan bermain banyak sekali yang anak pelajari
• Saat melakukan kegiatan sehari-hari libatkan sang anak sehingga anak dapat berbagi interaksi dan kegiatan menyenangkan seperti saat makan, memasak, dll termasuk didalamnya saat melakukan kegiatan sehari-hari kemandirian seperti cuci tangan, mandi, termasuk didalamnya anak melakukan toys membereskan mainan, buang sampah, dll
• Bermainlah dengan buku, alphabet dan angka sehingga anak dapat belajar sembari meningkatkan kemampuan belajar sang anak. Gunakan buku, Ipad, video games, komputer, dll.
• Implementasikan bahasa dan kegiatan sosial yang anak sudah bisa dalam melakukan kegiatan di atas.

Untuk bergabung dengan diskusi tentang topik-topik lain mengenai metoda ABA dan VB untuk penanganan ABK silahkan anda tambahkan: FB Group: Rury ABA/VB Untuk Autisma

Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu �yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.