Mengajarkan Mand

*
*
*
*
Seperti yang dibahas minggu lalu, BF Skinner dalam teorinya verbal behavior membagi kemampuan berbahasa ekspresif menjadi 4 jenis verbal operant sesuai fungsi dari bahasa itu sendiri, manding adalah salah satunya. Mand adalah request atau meminta sesuatu bisa barang atau aktivitas yang diinginkan. Sebelum behavior (antecedent) nya adalah ingin sesuatu misal kue, behaviornya bilang ‘kue’, sesudah behavior (reinforcer=reward) adalah kue. Mand adalah satu-satunya bahasa ekspresif yang reinfocersnya menguntungkan anak yaitu barang/aktivitas yang diinginkan. Reinforcers inilah yang menjadi motivasi yang sangat kuat untuk mand dan membuat anak ingin berbicara atau komunikasi.
*
Mand adalah verbal operant yang pertama kali diajarkan kepada anak karena secara alami mand memang yang pertama muncul di bayi yang baru lahir. Bayi baru lahir menangis, kenapa menangis? Karena dia mand untuk menyusu atau ingin digendong. Karena sesuatu hal, kemampuan Mand di anak autis (atau yang telat bicara) tidak berkembang. Malahan Mand menjadi kekurangan dari anak autis. Banyak anak autis yang bisa bicara dan melabel bermacam-macam benda, tetapi tidak bisa mand untuk hal-hal kecil seperti meminta makan atau mainan kesukaan, menanyakan informasi sederhana, dll. Mand juga dapat mengurangi problem behavior karena anak biasanya melakukan problem behavior karena ketidakmampuannya menyampaikan keinginan atau mendapatkan informasi yang diinginkan.
*
Mand juga merupakan dasar dari percakapan timbal balik karena melibatkan orang lain. Berinteraksi dengan terapis atau gurupun akan menjadi reinfocers buat sang anak, karena anak butuh bantuan orang lain untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
*
*
Untuk menciptakan motivasi kita harus ‘membersihkan’ lingkungan sehingga anak harus berusaha (mand) untuk mendapatkan yang dia inginkan. Yang pertama adalah letakkan semua barang si anak di atas jangkauan mereka sehingga jika dia ingin mainan yang diletakkan di atas lemari dia perlu bantuan orang lain untuk mendapatkannya. Yang kedua adalah simpan makanan/mainan di dalam kontainer plastik yang tertutup. Jika dia ingin makan kue, dia perlu minta bantuan kita untuk membuka toples, demikian juga kalau anak ingin bermain mobil-mobilan perlu bantuan untuk membuka kontainer plastik. Kemudian, jika ingin mengerjakan sesuatu, jangan diberikan semua yang dibutuhkan. Jika kita siapkan makanan jangan berikan sendoknya, dia harus mand untuk sendok. Jika ingin menggambar, berikan kertasnya tetapi jangan berikan krayon, biar dia meminta untuk itu. Jika anak belum bisa menjawab, prompt (beri petunjuk) dan kita dapat mencontohkan jawabannya.
*
Mand bentuknya macam-macam. Bisa sesuatu seperti makanan, minuman, mainan, video klip, bisa kata kerja seperti gendong, putar, peluk. Dua bentuk mand ini adalah dasar yang bisa digunakan untuk latihan mand untuk pemula. Mand yang lebih tinggi misalnya kebutuhan (minta tolong), atensi (lihat saya, liat ini) dan informasi (apa, dimana, kapan, siapa, dll).
*
Bagaimana memulai latihan mand. Kita harus mengobservasi sesuatu yang sangat disukai anak dan kapan motivasinya kuat. Buatlah daftar potensial reinforcersnya. Pilihlah sesuatu yang kata-katanya mudah diucapkan (lebih baik lagi kalau anak sudah bisa bicara katanya atau membunyikannya), anak sangat suka barangnya, mudah diberikan dan habis atau bisa diminta kembali. Makanan yang mudah dipotong-potong seperti kue, kerupuk, apel, anggur sekitar 0.5x1cm adalah cocok untuk latihan mand, karena mudah diberikan dan langsung habis. Meminta ‘bubble’ juga cocok untuk aktivitas awal. Aktivitas sederhana seperti putar, gendong (sambil di ayun), kitik-kitik, dorong (sambil main ayunan) adalah cocok untuk level awal. Berikan banyak pilihan reinforcers jadi kita tidak seperti mengambil apa yang mereka sedang inginkan/mainkan
*
*
Yang harus dihindari dari training Mand adalah kata-kata yang kurang spesifik seperti tolong, minta lagi, makan, minum, main dll, karena anak akan bingung, saya bilang ‘tolong’ kok semua datang ya, tapi tolongnya tolong untuk apa? Kata makan juga membingungkan, makan apa ya? Yang harus dihindari lainnya adalah kata yang bersifat negatif seperti selesai, istirahat, tidak karena akan memotivasi anak untuk meminta kata ini selagi aktivitas dilakukan. Barang atau aktivitas yang sulit diberikan atau sulit diambil juga sebaiknya dihindari seperti berenang, naik sepeda, bermain diluar, permen karet, dll. Untuk level awal, sebaiknya hindari kata yang berhubungan dengan tata karma seperti ‘terima kasih’. Anak bingung karena belum mengerti konsep dari tata karma, di level ini mereka masih melihat sesuatu yang langsung dan bisa didapat.
*
Untuk generalisasi, sekali mengajarkan mand, jangan hanya 1 kata tetapi sekitar 3-5 kata apalagi untuk anak yang belum vokal supaya anak tidak mengasosiasikan kata itu dengan mendapatkan sesuatu. Misal anak hanya dilatih mand dengan kue, dia akan mengasosiasikan bilang ‘kue’ dengan mendapatkan semua barang yang dia inginkan. Itulah kenapa mand harus spesifik benda atau aktivitasnya. Untuk anak yang sudah vokal, setelah mereka menangkap konsep “saya minta kemudian saya bisa dapat barang yang saya inginkan”, mand bisa cepat ditingkatkan ke berbagai jenis barang.
*
Mand juga bisa dilatih sambil bermain, misal sambil bermain puzzle, anak mand potongan-potongan puzzlenya. Sambil bermain kereta api/mobil-mobilan, anak meminta potongan jalan kereta api/mobil. Sambil bermain masak-masakan mereka meminta piring, gelas, sendok, garpu, dll. Supaya mudah tergeneralisasi, pertanyaan mand juga harus bervariasi seperti Ingin apa? Mau apa? Lokasipun harus diubah-ubah bisa di kamar, ruang tamu, diluar rumah, disekolah, dll.
*
Untuk lebih akurat, biasanya behavior analyst mengambil data dari Mand seperti form terlampir. Jadi ditulis kata-kata target, kemudian beri garis apakah Mand yang dilakukan anak dengan bantuan prompt penuh (terapis sebut semua katanya), prompt sebagian (terapis sebut kata depan/sebagian kata) tanpa prompt (anak independen menyebutkan katanya). Kata-kata target untuk yang belum/sedikit vokal bisa ditulis hanya hurufnya saja seperti k(kue), m(mobil), dll. Untuk perbandingan, kita ukur jumlah kata yang diucapkan anak dalam hitungan per jam. Kita bandingkan dari hari ke hari, apakah meningkat? Apakah kata-kata yang dia ucapkan juga bertambah? Selamat mencoba.
*

Jika anak belum bicara atau awal terapi, tahapannya adalah sebagai berikut:

  • Assess bunyi atau kata yang bisa diucapkan oleh anak (jelas maupun tak jelas). Pilih reinforcers yang anak sudah dapat membunyikannya. Misalnya anak sudah bisa bicara “a” pilih “apel”, atau bisa “buh” pilih “bubble”, atau bisa “mbil” pilih “mobil”. Pelan-pelan bunyi tersebut dibentuk menjadi mendekati kata yang diinginkan dengan mand.
  • Jika perlu, ajarkan beberapa bahasa isyarat untuk reinforcersnya untuk melatih mand dan mengurangi problem behavior, cukup 5 bahasa isyarat saja.
  • Di beberapa hari pertama terapi kita harus menyenangkan anak supaya anak senang berinteraksi dengan kita (pairing) Kita bermain sambil memberikan reinforcers gratis kepada anak. Beberapa anak sangat cepat respons terhadap orang/aktivitas baru beberapa lagi tidak.
  • Jika anak respons (melihat ke kita/barangnya) berikan barangnya sambil kita sebut nama barangnya 3x, dekatkan reinforcersnya ke dekat mulut sehingga anak memperhatikan bagaimana mulut bergerak atau membuat suara
  • Jika anak sudah senang bermain sama kita dan memberikan respons yang baik, pada kesempatan berikutnya coba anak sebut nama ujungnya misal ingin kue… cukup bilang k…. kasih kue nya… pelan-pelan kita bentuk kata dari k k-we kue
  • Jika anak sudah bisa bilang k…. tahapan berikutnya baru dikasih jika dia bilang k- we • Jika anak sudah bisa k-we, tahapan berikutnya baru dikasih jika dibilang kue. Demikian seterusnya untuk kata-kata lain.
  • Sangat butuh kesabaran untuk mengeluarkan vokal dari anak yang belum bisa bicara. Latihan rutin adalah kunci keberhasilan. Disarankan latihan setiap hari minimum 30-60 menit supaya anak cepat menangkap konsepnya.
  • Jika anak menangis dan ingin merebut reinforcersnya, biarkan dia menangis, simpan reinforcersnya. Anda harus kuat, bahwa reinforcers hanya didapatkan kalau dia mengatakannya (kecuali di awal-awal terapi, reinforcersnya gratis supaya anak senang berinteraksi). Reinforcers hanya diberikan pada saat terapi saja.
  • Mand ditahap awal benda ada dalam pandangan anak. Jika anak sudah mahir, benda bisa disembunyikan. Apakah anak masih bisa minta tanpa melihat bendanya?

*

Tips-tips lain supaya anak non vokal menjadi vokal dan memiliki artikulasi yang baik:

  • Perkaya lingkungan anak dengan berbicara satu kata saja. Kata-kata yang terlalu panjang dan cepat membingungkan si anak. Contoh setiap kegiatan kita dengan anak ‘identifikasi dengan kata’. Misal kita mengantar anak pergi ke sekolah, daripada kita katakan “Mama dan adik pergi sekolah” katakan saja “sekolah”. “Adik mau apel?” katakan saja “apel”. Terutama untuk kata-kata yang berfungsi sebagai reinforcers atau kata-kata yang sering dia gunakan.
  • Perbanyak gerakan motorik kasar sebelum, saat dan sesudah terapi Mand. Untuk beberapa anak bermain motorik dan sensori menghasilkan peningkatan memproduksi suara. Kerjasama dengan terapis okupasi atau terapis sensori anda.
  • Tingkatkan otot-otot mulut anak dengan bubble, peluit, sedotan dan mainan yang melibatkan tiup meniup. Terapis bicara menyarakan untuk tidak menggunakan gelas bayi karena dapat memperburuk artikulasi, sebaiknya gunakan sedotan, botol air minum atau gelas biasa untuk minum untuk meningkatkan dan mengontrol otot mulut.
  • Untuk anak yang sudah vokal tetapi belum jelas, kita harus latih bahwa anak hanya bisa mendapatkan apa yang dia inginkan (Mand) jika meminta dengan kata yang jelas.
  • Kita buatkan daftar kata-kata sesuai kategori pengucapannya. Misal kelompok 1 adalah kata-kata yang artikulasinya jelas, kelompok 2 adalah kata-kata yang kurang jelas tetapi ada potensial untuk dilatih dengan cepat dan kelompok 3 adalah kata-kata yang sulit. Pengelompokan ini memudahkan kita untuk memilih kata-kata mana yang perlu dilatih setiap hari untuk perbaikan artikulasi. Jangan lupa berkerjasama dengan terapi wicara anda.
Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *