Teori Behavior ABC dan Reinforcers

*
*
Minggu lalu sudah kita bahas fungsi dari behavior yang bisa disebabkan oleh faktor biologis/medis dan faktor lingkungan. Dimana untuk ABA, yang kita bahas hanyalah yang menyangkut faktor lingkungan, atau bagaimana faktor lingkungan membentuk behavior yang dijabarkan sebagai teori behavior ABC (A=antecedent; B=behavior dan C=consequences) atau dengan kata lain behavior terbentuk karena kejadian yang terjadi sebelum dan sesudah behavior. Seorang behavior analyst hanya fokus untuk faktor lingkungan ini.
*
Teori ABC
Antecedents              –>                  Behavior          –>             Consequences
Terjatuh                                            Menangis                          Ayah gendong
Penyampaian Tugas              Mengerjakan tugas                  Reinforcers
 *
Antecedents adalah kejadian, orang atau sesuatu yang langsung terjadi sebelum behavior yang bisa dalam bentuk waktu terjadi, lingkungan, adanya orang lain atau aktivitas lain. Sebelum behavior pun bisa saja terjadi lebih dari 1 antecedent dalam waktu yang sama. Contoh: lingkungan yang berisik/terlalu terang/terlalu panas, transisi ke aktivitas baru, harus mengerjakan aktivitas yang tidak disukai, diganggu oleh orang lain, dll
*
Consequences adalah sesuatu atau perubahan dari lingkungan yang langsung terjadi sesudah behavior dan kemungkinan mengontrol behavior. Ada 2 jenis dari consequences yaitu reinforcement dan punishment.
Reinforcement adalah consequences yang meningkatkan probabilitas behavior terjadi lagi di masa depan.
*
Reinforcement tidak sama dengan menyuap (bribery). Karena bribery diberikan sebelum behavior yang diinginkan dan biasanya diberikan setelah ada problem behavior. Contohnya jika kita anak rewel kemudian kita katakan, jika kamu diam nanti mama belikan es krim. Itu adalah bribery, dan bisa jadi mengajarkan kepada anak bahwa rewel adalah cara yang baik untuk mendapatkan es krim. Sementara reinforcement diberikan sesudah behavior yang diinginkan terjadi seperti yang diajarkan oleh “Grandma Rule”, kalo mau bermain Ipad coba selesaikan PR mu. Anak akan menyelesaikan PRnya karena dia ingin bermain Ipad. Contoh lain, karyawan akan bekerja baik jika perusahaan memiliki sistem bonus yang menarik dan jelas.
*
Punishment adalah consequences yang menurunkan probabilitas behavior terjadi lagi di masa depan. Contoh: time-out, positive correction (jika anak meludah maka harus disuruh membersihkan ludahnya). Punishment sebaiknya dihindari karena dapat menyebabkan emosi/tantrum dari si anak. Di Amerika sendiri, punishment di beberapa sekolah/center special need harus mendapatkan ijin dari direktur/pimpinan center. Secara kode etik, seorang behavior analyst akan selalu memprioritaskan reinforcement dan menjadikan punishment pilihan terakhir sehingga anak selalu belajar dengan motivasi tinggi.
*
Motivasi adalah kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Anak harus datang menyambut terapis bukan menghindar dari terapis atau kalau orangtua menjadi terapis, anak harus senang berinteraksi dengan orangtua sewaktu orangtua memberikan materi terapi. Untuk menciptakan motivasi yang kuat, yang pertama terapis/orangtua harus mengobservasi di lingkungan yang alami mengenai sifat si anak, apa yang dia suka, apa yang akan menyebabkan dia tertarik untuk belajar dll. Yang kedua adalah ‘pairing’ memasangkan bahwa terapis adalah seorang yang menyenangkan dan banyak memberikan hadiah. Biasanya anak di awal perkenalan harus banyak di berikan ‘free acess’ terhadap reinforcernya sehingga anak memandang terapis adalah ‘giver’ pemberi reinforcers bukan orang yang menyuruh mereka bekerja. Yang ketiga adalah harus mengikuti prinsip-prinsip dari efektivitas reinforcers.
*
Karena keterbatasan bahasa dan interaksi sosial, anak autis biasanya tidak memiliki keinginan untuk belajar secara alami dari lingkungan, mereka juga tidak/belum antusias dengan sosial reinforcer (pujian) seperti anak typical sehingga perlu dimotivasi dengan reinforcer yang terlihat dan bisa langsung dinikmati. Biasanya untuk pemula atau anak yang masih kecil, reinforcers yang efektif berupa makanan (kue, buah, kripik, permen, dll), minuman (jus, susu), mainan, aktivitas kecil (gendong, putar, kitik2) dll. Dr. Mary Barbera menyarankan dalam programnya bahwa reinforcers yang paling efektif adalah 2 jenis makanan, 1 jenis minuman dan video klip (sebaiknya dari DVD krn terapis yang pegang control). Jika anak sudah mulai mengerti dan dapat dikontrol, reinforcers dasar seperti makanan dan minuman secara bertahap akan dikurangi dan diarahkan menjadi reinfocers yang lebih alami dan ditingkatkan levelnya dalam bentuk token, sosial (pujian).
*
Dalam memberikan reinforcers juga harus efektif sehingga harus diperhatikan tingkat keinginan anak untuk mendapatkan reinforcer itu (deprivation). Reinforcers akan efektif jika anak hanya bisa mendapatkannya di saat terapi saja. Anak yang suka krupuk dan hanya bisa makan krupuk saat terapi tentu akan semangat terapinya untuk mendapatkan kerupuk. Yang kedua adalah immediacy, atau ke’segera’an. Jadi setelah behavior terjadi, reinfocers harus segera diberi, supaya anak tahu betul apa yang diinginkan terapis/orangtua. Yang ketiga adalah ‘size’ atau ukuran reinforcers. Pertanyaan yang mudah-mudah belikan yang kecil (kue 0.5cm x 1cm), kalau menjawab pertanyaan yang agak sulit berikan lebih besar. Yang keempat adalah contingency hubungan atau kemungkinan terjadinya pemberian reinforcer sebagai syarat tugasnya dilakukan.
 *
Jadwal pemberian reinforcers pun harus di atur. Di awal reinforcers diberikan setiap jawaban benar, tapi pelan-pelan harus dikurangi supaya anak tidak bergantung terhadap reinforcers. Ada bermacam-macam jadwal pemberian reinforcers, tetapi yang paling efektif adalah yang disebut VR = variable ratio schedule reinforcement yang maksud adalah reinforcers diberikan berdasarkan rasio yang bervariasi pada setiap jawaban benar. Contohnya VR 3, artinya reinforcer diberikan dengan rata-rata setiap 3 jawaban benar, tapi bisa setiap 2, bisa 5, bisa 1, tetapi dalam satu set trial rata-rata adalah 3. Behavior biasanya kuat dan stabil karena anak tidak tahu kapan mendapatkan reinforcers. Contohnya: mesin dingdong di kasino, kenapa orang kecanduan?
*
Dalam menjalakan terapi kita harus menyeimbangkan antara consequences dan reinforcementnya. Perilaku akan bermasalah jika demands terlalu tinggi, consequence atau reinforcement terlalu rendah. Contohnya jika gaji kecil ya karyawan akan demo. Perilaku tidak bermasalah atau minimal jika demands rendah, consequences atau reinforcement tinggi. Contohnya anak akan senang belajar jika dia mendapatkan reinforcers yang banyak.
*
Dibawah ini ditampilkan 3 tombol terapi Corbone dalam terapi. Jika kita ingin anak patuh, tidak menghindar dan juga tidak stimming saat terapi, jadi terapis atau orangtua harus pintar menyeimbangkan antara consequences dan reinforcementnya.
*
Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *