Kesalahan dan Tips Terapi ABA

Kesalahan Dalam Penyusunan Program ABA

Menurut Dr. Mary Barbera, seorang BCBA-D, pakar VB, penulis buku VB dan juga seorang ibu dari anak autis, ada 5 kesalahan umum dalam menyusun program ABA, yaitu

  1. Tidak meng-asess anak secara komprehensif.
    Kebanyakan program ABA hanya terkonsentrasi dalam bahasa saja atau malahan akademik saja. Padahal untuk pengembangan anak secara utuh agar dia bisa mandiri di masa depan, anak harus di assess secara menyeluruh kemampuannya dengan assessment tool contohnya dengan VB-MAPP. Hal-hal yang harus di assess adalah:
  • Bahasa dan sosial, tentu ini adalah yang utama dalam pengembangan anak autis
  • Problem behavior, adakah masalah perilaku dari sang anak yang dapat mengganggu jalannya terapi atau menghambat anak untuk belajar?
  • Self-care, kemampuan anak untuk mandiri mengurus dirinya sendiri
  • Leisure skills, kemampuan anak untuk mengisi waktunya dengan kegiatan yang bermakna seperti bermain, membaca, dll
  • Safety awareness, kemampuan anak untuk memahami adanya bahaya sesuai dengan umurnya. Beberapa anak autis karena masalah sensory tidak memilki rasa takut atau tidak merasakan sakit, sehingga perlu dilatih secara khusus. Jikapun anak tidak ada masalah sensory dalam hal ini, tetapi perlu juga diajarkan untuk mengantisipasi bahaya yang mungkin kurang dia pahami karena keterbatasan bahasa dan kekurangan dalam membaca perilaku sosial orang lain. Misal: jangan bicara dengan orang asing, jangan bukakan pintu untuk orang asing, harus menengok kanan ke kiri jika menyebrang jalan, harus berlaku apa jika hilang di mall, dll
  • Akademik
  1. Terlalu fokus terhadap akademik.
    Kemampuan anak untuk mengikuti kegiatan akademik memang penting di sekolah, tetapi selayaknya bukanlah merupakan program utama dari terapi, khususnya untuk anak usia dini. Karena kemampuan akademik yang advance tanpa ditunjang dengan kemampuan bahasa yang seimbang akan menghambat kemampuan akademik untuk menuju tingkatan yang lebih tinggi. Kemampuan akademik tanpa anak bisa dikontrol kemauannya, tantrum yang berlebihan, tidak bisa mengikuti perintah, tidak punya kemampuan imitasi, dan belum mandiri untuk toilet, makan, dll, apakah ada gunanya? Apakah ada sekolah yang mau menerima anak dengan gambaran demikian?
  2. Tidak mengajarkan self-care
    Kemampuan anak mandiri di dalam dan di luar rumah merupakan kemampuan yang harus diajarkan kepada anak autis. Lihatlah anak-anak seumurnya selayaknya sudah bisa apa? Kita harus mengajarkan dengan target-target tersebut. Contoh self-care anak usia dini: toilet training, mandi dan memakai baju/celana/sepatu sendiri, merapikan barang-barang sendiri, makan sendiri, dll.
  3. Pembuatan program yang terlalu tinggi
    Terkadang penyusunan program tidak sesuai urutan perkembangan anak, yang seharusnya menguasai prasyarat kemampuan yang harus dimiliki sebelumnya atau fondasinya. Walaupun beberapa anak autis memiliki splinter skills (kemampuan tersendiri yang di atas kemampuan lainnya bahkan dibanding dengan anak normal sekalipun), tetapi untuk kemampuan yang lain kita harus membuat programnya dari program dasar. Lebih baik memberi penilaian rendah saat assessmen daripada menilai tinggi tetapi ragu-ragu. Membangun kemampuan anak seperti membangun rumah, jika salah satu fondasinya bolong atau tidak kuat, rumah itupun tidak tegak berdiri tetapi menjadi tidak sempurna dan rapuh.
  4. Tidak bekerjasama di dalam tim: orangtua, guru, terapis, psikolog, dll
    Kunci keberhasilan program adalah kolaborasi dan komunikasi yang baik antara orangtua, guru, terapis, psikolog dan orang-orang dirumah yang berhubungan atau mengurus anak sehingga anak tidak bingung dan dapat mencapai tujuan dalam 1 arah tidak terdistorsi ke arah yang lain.

Tips-tips Dalam Terapi Yang Dapat Meningkatkan Respons Anak

Setelah anak-anak autis diterapi ABA dan mahir ketrampilan yang diajarkan, tetapi terkadang mereka masih memilik hambatan dalam menerapkan ketrampilan tersebut di dalam kehidupan sehari-hari karena tingkat kesadaran diri terhadap lingkungan dan respons mereka masih belum cukup untuk mengikuti dinamika komunikasi kehidupan sehari-hari yang berjalan sangat cepat. Jika anda hitung dan pikirkan berapa kata per menit yang kita biasa gunakan untuk percakapan sehari-hari atau berapa detik respons yang orang umun dapat menunggu jawaban dari pihak kedua yang mereka ajak interaksi. Dalam hitungan detik 1-2 detik, orang umum merespons pertanyaan anda, baru timbullah komunikasi timbal balik yang sempurna. Secepat itulah anda harus melatih anak autis untuk dapat meminta atau bertanya ke orang lain untuk kebutuhan mereka dan merespons pertanyaan orang lain.

Dibawah ini adalah tips-tips yang bisa dilakukan di dalam terapi atau kehidupan sehari-hari yang dapat meningkatkan spontanitas respons anak autis:

  1. Tingkatkan mand (meminta sesuatu) dimana saja, kapan saja. Mand menciptakan interaksi anak terhadap dunia luar, karena mand didorong oleh motivasi sang anak. Selalu tingkatkan dan latih kemampuan mand dimanapun anda berada. Ciptakan kesempatan anak untuk meminta barang, aktivitas atau informasi dari anda. Simpan barang-barang anak ditempat yang anak tidak bisa jangkau sehingga dia membutuhkan bantuan orang dewasa untuk mendapatkannya. Sembunyikan juga barang-barang yang dia butuhkan sehingga dia harus bertanya informasi tentang barang itu, tetapi berikan pasangannya sebagai prompt. Contoh beri makan tanpa sendok sehingga anak harus bertanya “Dimana sendok?” Berikan kertas tanpa pensil sehingga anak bertanya “Dimana pensil?” atau barang-barang yang diperlukan untuk satu rutinitas. Misal sembunyikan tas sekolah dimana anak akan mencari sewaktu berangkat sekolah “Dimana tas saya?”. Atau tanyakan atau pancing anak apa yang dia butuhkan. Di depan pintu anda diam, biarkan anak mand untuk membuka pintu (pintu sengaja dikunci). Saat berangkat dengan motor atau mobil anda pura-pura lupa kunci tanyakan, perlu apa untuk menyalakannya? Anak bisa mand “Mana kuncinya?”. Pada saat terapipun ciptakan motivasi pada sang anak untuk selalu melakukan Mand. Gunakan Mand saat anak meminta reinforcer.
  2. Tingkatkan kemampuan anak untuk mengikuti perintah. Amati dulu berapa instruksi yang anak bisa ikuti, misal dimulai dari 1 instruksi sederhana. “Pegang mata”, “Angkat tangan”, lanjutkan dengan “Buang sampah ini”, “Nyalakan lampu”, “Panggil papa”. Setelah anak mahir tingkatkan menjadi 2 instruksi “Pegang mata dan hidung”, Pergi ke dapur dan buang sampah ini”, “Buka kulkas dan ambil minum”, “Ambil tas mama di kamar”. Kemudian lanjutkan dengan 3 perintah, misal “Pegang mata, telinga dan kaki”, “Bawa piring kotor ke dapur, buang isinya ke tong sampah dan letakkan piring di tempat cuci piring”. Jangan lupa berikan perintah sampai selesai, baru anak boleh melakukan instruksi. Respons dan urutan harus benar. Kecepatan juga perlu terus dilatih. Sama seperti melatih ketrampilan yang lain, gunakan errorless learning, prompt dan reinforcer. Jika anak belum mahir, di awal diajari dengan prompt, dan prompt perlahan dikurangi.
  3. Ajarkan anak selalu mengucapkan salam atau membalas salam dari orang lain sebelum masuk ke kelas, tempat terapi, berpapasan dengan orang yang dia kenal. Tergantung level sang anak, bisa “hai”, “hai nama orang”, “pagi nama orang”, “dadah”. Jika anak belum vokal, bisa dengan melambaikan tangan saja.
  4. Sediakan waktu 5 menit dari waktu terapi untuk anak berinteraksi dengan teman dan terapis yang lain secara konsisten. Tergantung level sang anak, ajak mereka untuk berkenalan dan bertanya kepada teman atau terapis lain. “Apa kabar?”, “Siapa namamu?”, “Apa senang kamu hari ini senang?”, “Umur kamu berapa?” Jika anak sudah pada tingkat mahir berbahasa ajarkan untuk percakapan sehari-hari. Contoh: memberi/menerima pujian, apa yang kamu lakukan hari ini? Bagaimana perasaan kamu hari ini?
  5. Kumpulkan tugas dari anak yang sudah mahir, latih untuk ketepatan dan kecepatan anak menjawab (Task variations – Pattan System). Kumpulkan semua tugas anak yang sudah mahir dari berbagai macam verbal operants, tuliskan pada kartu-kartu (satu ketrampilan satu kartu) kemudian dikocok acak. Tanyakan pada anak dengan kecepatan. Latih terus sampai anak dapat merespons paling tidak 25 pertanyaan dalam 1 menit. Kecepatan anak menjawab di dalam terapi ini akan mempengaruhi kecepatan anak dalam merespons di lingkungan alami. Program ini juga dapat digunakan untuk melatih target baru karena terbangunnya “behavior momentum” dan fokus anak sehingga dia akan lebih fokus dalam merespons tugas baru. Tetapi perhatikan komposisi tugas yang sudah mahir dan yang baru sehingga anak tidak frustasi karena terlalu banyak tugas yang baru. Jangan lupa juga gunakan errorless learning dan prompting untuk melatih tugas baru supaya anak semangat berlatih karena semakin banyak mendapatkan reinforcer.
  6. Ajarkan anak untuk menunggu dan duduk manis atau berdiri tegak. Beberapa anak autis mengalami kesulitan dalam menunggu dan minim memiliki ketrampilan untuk duduk manis atau berdiri tegak tanpa goyang-goyang. Padahal ketrampilan ini sangat diperlukan untuk anak dapat berintegrasi di lingkungan sebenarnya. Latih ketrampilan di atas anak dan dimulai dari lama anak melakukan kegiatan di atas secara mandiri. Misal anak hanya tahan menunggu 5 detik, kemudian pasang target 5 detik. Ajarkan/ajak anak berhitung atau bisa juga dengan anda yang berhitung atau timer, setelah anak mampu menunggu selama 5 detik berikan reinforcernya. Demikian seterusnya waktu ditingkatkan menjadi 10, 20, 30, dan seterusnya sampai anak mampu menunggu selama yang kita inginkan. Cara yang sama juga dilatih untuk duduk manis dan berdiri tegak.
  7. Ajarkan anak untuk menahan emosinya secara mandiri. Anak yang sedang tantrum sulit sekali untuk diintervensi membuat dia diam. Dia sendirilah yang harus dilatih untuk mengontrol dirinya saat dia berada di puncak emosi. Jika anak emosi, ajarkan untuk kedua tangan dia berpegangan kemudian berhitung, biasanya kegiatan berhitung ini akan memecah konsentrasi dan dapat meredakan amarahnya. Posisi dapat duduk manis atau berdiri tegak tergantung kondisinya. Atau ajarkan anak untuk menarik napas dalam-dalam untuk menurunkan emosi. Baru kita bisa arahkan anak ke kegiatan lain atau mengajaknya berbicara (jika diperlukan). Kedua tangan yang berpegangan adalah penting, jika tidak anak dapat meluapkan emosinya dengan memukul orang lain, melempar barang atau menyakiti diri sendiri. Anak yang sudah terlatih menahan emosi secara mandiri akan otomatis (atau sedikit prompt) melakukan hal tersebut jika timbul emosi.
  8. Jika anak terlihat bosan dengan kegiatan terapi di meja. Ajak anak untuk melakukan aktivitas yang membuat anak aktif seperti lompat, lari, jalan keluar ruangan, putar-putar di kursi, dll. Kegiatan ini bisa dilakukan selain melatih mand sang anak. Misal: saya mau lompat, ayo bangun (ke terapis), ikut saya, ayuk lari, dll.  Atau sekedar memberikan instruksi pada anak untuk bergerak dan membuang kebosanan anak. Misal sentuh pintu dan duduk kembali, ucap salam ke ___ (terapis lain), dan beri pinsil ini ke ____ (teman terapinya), dll. Panjangnya instruksi tergantung kemampuan sang anak.
  9. Campur kegiatan dengan mengerjakan tugas LKS sesuai untuk latihan di natural environment seperti buku-buku LKS, pra sekolah, dll termasuk latihan natural environment dengan membaca buku.
  10. Latih anak untuk dapat bermain dan juga bermain sosial. Jika anak masih pemula ajarkan bermain sendiri sesuai umurnya dan jika anak sudah siap untuk sosialisasi, ajarkan juga bermain dengan teman-teman sebaya menggunakan games-games sosial seperti ular tangga, domino, masak-masakan, mobil-mobilan, dll.
Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.