Mengajarkan Instructional Control

*

*

Apakah anak anda atau murid anda sering menghindar dari terapi, memililki problem behavior saat terapi? Jika iya jawabannya, berarti anda belum memiliki instructional control terhadap sang anak. Apakah itu Instructional control? Yaitu hubungan kerja yang positif diantara sang terapis dan anak, dimana anak merenpons dengan konsisten terhadap semua tugas dari terapis selama sesi berlangung, anak menyukai aktivitas terapi, tidak banyak melakukan problem behavior atau menghindar dari terapi.  Kuncinya adalah reinforcement yang tepat dimana respons dari sang anak akan berbanding lurus dengan reinforcement yang dia dapatkan setelah melakukan tugas tersebut.

Apa sajakah yang menentukan nilai dari reinforcerment itu terhadap anak?

  1. Nilai dari reinforcer. Apakah reinforcer itu cukup bernilai untuk sang anak, terutama saat itu? Hal ini berhubungan dengan motivasi sang anak. Jika anak sudah lama tidak memakan kue favoritnya, tentu saat terapi kue itulah yang cocok dijadikan reinforcer. Tetapi kalau anak bisa mendapatkan kue itu secara bebas diluar terapi, tentu nilai kue itu akan berkurang untuk sang anak. “Untuk apa saya capek-capek belajar dengan terapis, sementara nanti mama kasih kue itu sehabis terapi” yang berada dalam pikiran anak.
  2. Usaha untuk melakukan tugas. Apakah tugasnya mudah atau terlalu sulit? Anak akan lebih tertarik untuk mengerjakan tugas yang mudah atau pengerjaan dan jawaban dibuat mudah. Sehingga metoda DTT (discrete trial teaching) dan errorless learning sangat membantu dan memotivasi anak autis untuk belajar. Tidak ada orang yang senang melakukan kesalahan. Terlalu sering menghadapi kesalahan menjadikan anak frustasi dan mogok belajar. Apalagi jika tugasnya mudah, anak sering mendapatkan reinforcer. Anak semakin senang belajar bukan?
  3. Skedul dari pemberian reinforcer. Anak akan merespons tugas dengan baik jika reinfocers yang diberikan konsisten. Jika anak mulai tidak mau mengerjakan tugas, berarti mereka kurang mendapatkan reinforcer.
  4. Jumlah dari reinforcer. Apakah cukup bermakna untuk sang anak? Semakin sulit tugasnya, reinfocernya juga harus semakin besar artinya buat sang anak.
  5. Kecepatan pemberian reinforcer. Reinforcer harus diberikan langsung setelah tugas dilaksanakan. Untuk anak-anak yang sudah paham bisa sedikit agak delay misal diberikan di keesokan harinya atau di akhir minggu. Tetapi jika kemampuan bahasa anak belum sampai situ, ada baiknya semua reinforcer diberikan langsung.

Selain reinforcement di atas, terapis dan sang anak harus menjalakan proses ‘pairing’ yaitu memasangkan terapis, materi dan tempat dengan reinforcer atau sesuatu yang menyenangkan sehingga anak merasa senang berada dalam lingkungan yang penuh dengan reinforcer atau dengan kata lain membangun kepercayaan antara terapis dan sang anak. Konsep pairing ini penting untuk murid baru, murid lama dengan problem behavior dan murid lama yang patuh. Murid yang patuh pun sekali-kali perlu diberikan refreshing dengan proses pairing kembali.

Pairing dilakukan dengan memberikan reinforcers secara bebas tanpa tugas, dengan syarat anak tidak melakukan masalah behavior sehingga anak belajar bahwa dia bisa mendapatkan sesuatu dalam hai ini adalah reinforcer jika tidak melakukan problem behavior dan juga berada dekat sang terapis. Diawal tugas yang diberikan pun sangat mudah. Contohnya jika anak selalu menghindar dari sang terapis, mungkin duduk dekat terapis saja asal anak tidak melakukan problem behavior sudah bisa mendapatkan reinforcers. Pairing juga menjadikan terapis lebih memahami sang anak, sangat paham barang atau aktivitas apa yang benar-benar dapat berfungsi sebagai reinforcer pada saat yang tepat.

Untuk mengetahui reinforcers apa yang mungkin menarik saat itu untuk sang anak, bisa dilakukan assessmen terhadap reinforcers. Untuk menjaring kemungkinan reinforcers, terapis bisa menanyakan kepada orangtua, makanan atau barang apa yang mungkin menarik untuk sang anak. Ada berbagai macam preference reinforcers assessment yang paling sederhana adalah letakkan beberapa reinforcers yang kemungkinan anak suka, kemudian catat apa yang pertama anak ambil dan beri urutannya. Kemungkinan saat itu, yang pertama anak ambil adalah reinforcers yang paling kuat pada hari itu untuk sang anak. Reinforcer yang kuat diberikan untuk tugas yang sulit, demikian sebaliknya reinforcer yang kurang kuat diberikan untuk tugas yang mudah. Kekuatan reinforcers mungkin saja berubah setiap harinya, sehingga sebaiknya assessment dilakukan di setiap awal terapi.

Tips untuk reinforcer:

  • Mudah diberikan, contohnya makanan, minuman, video clip,
  • Cepat habis dimakan atau hilang, seperti kue, bubble
  • Berikan dalam potongan kecil untuk mengurangi kebosanan anak
  • Dapat diberikan berulang sehingga dapat digunakan berkali-kali
  • Dikontrol dan diberikan oleh terapis

Yang paling penting adalah memasangkan reinforcers dengan terapisnya sehingga terapis sendiri merupan reinforcers bagi sang anak.

Pada saat proses pairing:

  • Sebutkan nama reinforcers yang diberikan saat itu
  • Sebutkan nama anak dengan reinforcers, dan bukan nama anak dengan instruksinya. Contoh: “rayhan, kue” atau “rayhan ini kue”, bukan “rayhan tunjukkan mata”. Jadi konsep yang diajarkan setiap terapis memanggil, sesuatu yang positif akan datang ke anak sehingga anak patuh terhadap terapis.
  • Jangan berikan tugas yang sulit saat pairing
  • Jangan menjadi tukang ambil apa yang anak suka, sehingga lebih baik reinforcersnya berbentuk sesuatu yang cepat habis (makanan) atau hilang sendiri (seperti bubble_. Kecuali anak memang sudah paham konsep waktu bermain dengan reinforcernya dan tidak tantrum berlebihan jika waktu tersebut habis. Untuk membantu anak mengantisipasi waktu bermain dengan reinforcer gunakan jam pasir atau alarm.

Dalam pelaksanaan terapi:

  • Jangan lupa juga mensanitize lingkungan sehingga tidak ada lagi reinforcers yang gratis lagi untuk sang anak sehingga anak membutuhkan orang lain untuk mendapatkannya. Mau tak mau anak berhubungan dengan terapis dan terapis berfungsi sebagai reinforcer bagi sang anak.
  • Pasangkan meja dengan tempat bermain juga sehingga anak tidak mengasosiasikan meja dengan tempat belajar, tetapi sebagai tempat menarik yang bisa mendapatkan mainan atau melakukan kegiatan menarik. Lakukan permainan sebisa mungkin juga di atas meja bukan hanya penyampaian tugas.
  • Jangan membuat anak bekerja untuk ‘istirahat’ sehingga anak mengasosiasikan terapi dengan bekerja dan istirahat adalah hal yang menyenangkan sehingga anak selalu ingin istirahat. Padahal konsep yang ingin kita ajarkan adalah terapi adalah kegiatan yang menyenangkan. Contoh yang tidak dianjurkan terapis berkata “Ayo kita selesaikan ini setelah itu kamu bisa istirahat”.

Untuk selalu menjalankan terapi yang lancar, hal-hal ini yang perlu diingat oleh terapis:

  1. Gunakan errorless learning – cek di website
  2. Campur jenis dan variasi tugas (Task Variation) – cek di website
  3. Skedul pemberian reinforcer.
    Setiap awal pengajaran biasanya anak diberi reinforcer setiap jawaban benar. Tetapi harus diingat bahwa reinforcer harus pelan-pelan dikurangi sampai anak mengerjakan tugas tersebut tanpa reinforcer. Misal di awal anak mendapat sepotong kecil kue setiap menjawab pertanyaan, lama-lama dikurangi menjadi setiap menjawab 2 kemudian 3, 5 atau yang paling efektif adalah skedul secara bervariasi (variable ratio schedule) dimana anak diberikan reinforcer dengan rata-rata waktu tertentu. Contoh VR 3 adalah pemberian reinforcer rata-rata setiap 3 jawaban benar, tetapi pemberiannya bisa setiap 2, 4, 6 atau 1, dimana jika dirata-rata dalam 1 set (10 kesempatan) sejumlah 3 jawaban benar baru mendapatkan reinforcernya. Konsep ini secara penelitian terbukti yang paling efektif, karena anak tidak tahu kapan datangnya reinforcer sehingga selalu patuh.Jika anak sudah mulai tidak semangat mengerjakan tugasnya kemungkinan tugas terlalu sulit dan reinforcers terlalu sedikit. Tidak ada orang yang mau mengerjakan tugas sulit tanpa imbalan yang pas.
  4. Gunakan instruksi yang cepat sehingga anak makin sering terpapar reinforcers, targetnya adalah 16-25 target per menit. Hal ini juga untuk melatih fluency (kelancaran). Fluency adalah hal yang sangat penting selain mastery (mahir) karena secara sosial anak harus bisa menjawab sesuatu pertanyaan dalam waktu yang sangat singkat.

Walaupun sudah berusaha menjalankan semua program dengan baik, tetapi tetap saja anak memiliki problem behavior saat terapi. Hal ini kemungkinan anak ingin mengetes terapis, apa yang akan terjadi jika saya mengerjakan hal ini? (tantrum, atau tidak mau mengerjakan tugas, keluar dari meja, dll). Tips-tips untuk mengatasinya:

  • Lakukan prosedur extinction, artinya tidak memberikan apa yang dia ingin dapatkan, sehingga behavior tidak memliliki fungsi lagi, diharapkan problem behavior akan turun. Misal jika fungsinya adalah atensi, berarti tidak memberikan atensi akan menyetop problem behavior (lihat tulisan sebelumnya tentang mengatasi problem behavior dari anak)
  • Jangan pernah memberikan reinforcer disaat anak melakukan problem behavior. Jika anak ingin lari dari tempat duduknya, tahan anak dan tetap jangan berikan reinforcernya supaya anak belajar jika ingin mendapatkan reinforcersnya dia harus duduk di meja dan melakukan tugas.
  • Jika problem behavior terlalu sering dilakukan sang anak, coba observasi lagi apakah proses pairing berjalan baik? Analisa metoda pengajaran, apakah sudah melakuan task variation, errorless learning? Apakah skedul pemberian reinforcers terlalu jarang atau reinforcer kurang menarik? Apakah terapis kurang memperhatikan motivasi anak dalam mendapatkan reinforcers saat itu? Apakah tugasnya terlalu sulit? Jangan pernah menyalahkan anak, tetapi coba observasi apakah kekurangan kita dalam mengajar. Terapis yang baik akan selalu memperbaiki metoda pengajaran yang efektif.
  • Jika sudah terjadi instructional control, anak akhirnya berpikir bahwa tidak ada gunanya menjalankan problem behavior, karena jika saya patuh terhadap terapis banyak hal yang menyenangkan bisa saya dapatkan.
  • Proses pairing tidak pernah berhenti. Terkadang berikan reinforcers gratis di saat terapi untuk menunjukkan kepada anak bahwa terapis menyukai anak apapun kondisinya walaupun anak selalu patuh.

Konsep instructional control ini juga dapat diterapkan oleh orangtua dirumah, dalam terapi di rumah atau kegiatan sehari-hari.

Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.