Membangun Interaksi di Rumah

Anak-anak belajar dari lingkungan. Setelah bayi lahir, mereka belajar dari lingkungan yaitu dari orang dan obyek sekitar mereka. Bayi melihat benda dan juga memperhatikan apa yang orang sekitar lakukan, dalam bentuk gerakan, bahasa tubuh, suara, dll. Melihat dan mendengar dari lingkungan sekitar adalah kesempatan belajar yang sangat penting. Mayoritas tipikal bayi dan anak-anak senang melihat dan berinteraksi dengan orang, otak mereka terkoneksi bahwa berinteraksi dan terlibat dengan orang lain adalah aktivitas yang sangat menyenangkan. Mereka belajar banyak sekali dengan berinteraksi dengan orang lain ini.

Sebaliknya, anak dengan autisme terlahir dengan tidak menunjukkan keinginan yang kuat untuk melihat dan berinteraksi dengan orang lain seperti anak tipikal. Sebuah studi menunjukkan bahwa anak dengan autisme cenderung menyukai benda dibanding orang. Ketika mereka tidak tertarik berinteraksi dengan orang lain, mereka kehilangan waktu untuk belajar, padahal anak perlu meilhat, memperhatikan, mengikuti gerakan, bahasa tubuh dan ekspresi wajah orang lain serta berinteraksi untuk belajar komunikasi, emosi, bahasa dan interaksi sosial. Jika ini tidak terjadi, mereka mengalami keterlambatan komunikasi dan sosial.

Untuk mempercepat proses pengajaran bahasa dan sosial, kita perlu meningkatkan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan orang, yaitu dengan mendapatkan atensi mereka untuk berinteraksi dengan orang lain sedini mungkin. Utamanya dengan orangtua, karena anak kecil menghabiskan sebagian besar dari waktunya di rumah. Berapa lama anak sehari terapi dalam 24 jam. Lebih banyak di rumah bukan?

Apa yang orangtua lakukan untuk meningkatkan atensi anak terhadap orang lain? Menurut Early Start Denver Model, salah satu program intervensi dini yang mengimplementasikan prinsip ABA dan juga melibatkan partisipasi aktif dari orangtua, dibawah beberapa langkah yang bisa anda lakukan:

1. Identifikasi apa yang menarik untuk anak anda

Mayoritas anak dengan autisme sangat tertarik kepada benda dan mainan serta menghabiskan banyak waktunya dengan barang tersebut. Jika anak anda termasuk tipe yang ini, tentu lebih mudah, anda dapat menggunakan benda ini sebagai jembatan berinteraksi dengan anak. Beberapa anak lain menyukai permainan fisik seperti menari, menyanyi, melompat, gelitik, lari dan berayun. Anda dapat meningkatkan interaksi sosial dengan anak menggunakan aktivitas ini. Anak yang senang dan memperhatikan orangtua karena menyukai aktivitas yang diberikan adalah anak yang siap belajar. Jika anak termotivasi dengan kegiatan yang dia senangi, dia akan menunjukkan inisiatif dan spotanitas sehingga orangtua dapat memberikan kesempatan belajar komunikasi dan sosial dalam interaksi ini.

Sekarang waktunya anda pikirkan apa yang anak anda sukai dan apa yang mereka perhatikan? Bikin daftarnya, apakah itu benda, mainan, makanan, buku atau aktivitas? Obyek atau aktivitas apa yang anak anda biasanya cari? Obyek apa yang anak anda lihat, ambil atau pegang? Aktivitas apa yang anak biasanya minta dari anda atau anggota kelurga lainnya? Apa yang membuat anak anda tersenyum dan tertawa? Apa yang menenangkan buat sang anak atau apa yang membuatnya rewel? Jika anak anda tidak terlihat tertarik kepada benda atau aktivitas, coba lihat bagaimana anak merespons terhadap aktivitas sehari-hari? Mungkin anda bisa melihat lebih jelas, apa yang dia biasa datangi atau apa yang dia hindari? Cara yang paling mudah menarik perhatian anak adalah dengan bermain yang melibatkan barang yang dia sukai. Untuk anak lain yang benar-benar tidak suka barang atau aktivitas, anda bisa menciptakan ketertarikan ini dengan melibatkan anak pada mainan atau aktivitas yang bersifat sensori, seperti mainan-mainan bertesktur, berbunyi, menyala atau gelitik sang anak, dll.

2. Berinteraksilah dengan posisi yang tepat

Secara utama komunikasi sosial terjadi melalui mata, muka dan gerakan tubuh. Kita ingin anak melakukan kontak mata dan anak dapat melihat dengan jelas muka, ekspresi, dan gerakan mulut sewaktu kita berbicara. Sebisa mungkin dalam posisi dekat dan level yang sama (berhadapan). Duduk di kursi yang berhadapan tentu adalah posisi ideal saling berhadapan, tapi bisa juga dalam posisi lain, misal jika kita melakukan aktivitas menyanyi bersama dengan gerakan bisa dalam duduk di lantai berhadapan. Di lain waktu mungkin anak kita pangku tetapi dalam posisi menghadap kita. Banyak sekali posisi yang bisa dilakukan, tapi pastikan anak dapat melihat muka kita dengan baik.

Banyak aktivitas yang dilakukan dalam posisi berhadapan, seperti bernyanyi, bermain, membaca buku, dll. Melakukan aktivitas makan dan mandi adalah kesempatan yang baik untuk meningkatkan kontak mata dan interaksi sosial sang anak.

3. Kurangi kompetisi dengan hal yang membuat anak terdistraksi dengan aktivitas kita

Anda mungkin perlu mengurangi hal-hal di lingkungan yang dapat mengganggu aktivitas interaksi sosial dengan anak seperti TV, Ipad, komputer, mainan yang membuat anak sulit berinteraksi dengan hal baru, dll. Matikan TV, komputer dan sembunyikan Ipad dan mainan-mainan yang bisa mengganggu interaksi. Anda perlu mengontrol keberadaan barang-barang ini dan menyimpannya. Jika perlu, anda pindah ke ruangan lain untuk berinteraksi dengan sang anak dengan lebih baik.

Untuk anak pemula, sebaiknya interaksi hanya dilakukan oleh satu orang, jika lebih bisa jadi anak terdistraksi dan kesempatan belajarnya pun menjadi terganggu. Anak dengan autisme pemula sudah memiliki kesulitan untuk memberikan atensi pada satu orang, sehingga berinteraksi dengan terlalu banyak orang dalam saat yang bersamaan akan sulit. Ide bergantian adalah lebih baik daripada beinteraksi saat bersamaan. Tentu jika nantinya ketrampilan berinteraksi sosial anak sudah meningkat, secara perlahan bisa ditingkatkan jumlah orang yang berinteraksi dengannya pada saat yang sama.

4. Identifikasi jarak tedekat yang membuat anak nyaman

Semua orang memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda terhadap berapa dekat saat mereka berinteraksi. Beberapa orang memilih untuk tidak terlalu dekat. Untuk menarik perhatian sang anak, perlu dipelajari seberapa dekat anak bisa dalam posisi nyaman dengan kita. Jika anak terlihat nyaman, dan terlihat menjauh atau membuang muka mungkin posisi kita terlalu dekat. Pastikan anda paham seberapa kah jarak yang membuat mereka nyaman. Beberapa anak mungkin memiliki mood yang berbeda, kadang suka dekat, kadang suka jauh. Kenalilah kebiasaan dan kesukaan sang anak.

5. Bergabung dengan mengikuti keinginan sang anak

Sangat umum terjadi orangtua berinteraksi dengan anak dengan cara menawarkan sesuatu yang orangtua pikir harus anak sukai, padahal anak sudah ingin melakukan aktivitas yang lain. Terkadang karena diinterupsi oleh orangtua dengan hal yang mereka tidak sukai, anak akan bertambah marah dan tantrum yang membuat orangtua putus asa. Cara terbaik untuk berinteraksi adalah dengan mengikuti keinginan sang anak. Studi membuktikan bahwa untuk anak usia dini, belajar bahasa lebih mudah jika orang dewasa mengikuti atensi dan anak dan berbicara tentang sesuatu yang mendapat perhatian dari sang anak. Terkadang mengalihkan perhatian dengan memberikan aktivitas yang lain dapat mengurangi atensi sang anak. Anda dapat menggunakan obyek, mainan atau aktivitas yang anak sukai untuk membangun interaksi. Beberapa tips dalam berinteraksi adalah:

a. Active Listening
Active listening berarti memposisikan kita di depan sang anak sehingga anak dengan mudah berbagi pandangan, melihat apa yang anak lakukan dan memahami apa tujuannya, memberi komentar apa yang dia lakukan, memuji, buat beberapa efek atau drama dari mainan-mainannya. Kita mungkin membantu mengambil mainan yang dia jatuhkan, mendorong sesuatu sehingga lebih dekat dengan sang anak atau mengimitasi aktivitas anak dengan obyek. Kegiatan ini akan menciptakan suasana dimana anak dan kita berbagi atensi dengan sesuatu yang sama. Berbagi atensi adalah alat yang paling ampuh untuk belajar dan membuat bahasa menjadi sesuatu yang ada fungsinya.

b. Narasi pada aktivitas
Bergabunglah dengan aktivitas sang anak dengan berbagi ketertarikan dengan aktivitas yang dia senangi dengan melihat, tersenyum, menggangguk, dan gerakan tubuh yang menyenangkan anak. Sembari melihat anak bermain, tambahkan kata sederhana atau frasa untuk menggambarkan apa yang anak lakukan. Ingat, jangan gunakan kata atau kalimat yang kompleks sehingga anak tidak paham koneksi dari kata dan aktivitasnya. Menjelaskan apa yang anak lakukan tanpa interupsi atau mengubah fokus sang anak akan membantu untuk menjaga atensi sang anak sehingga dapat memberikan kesempatan belajar yang lebih lama.

c. Tawarkan bantuan
Cara lain untuk meningkatkan atensi dan interaksi sang anak saat anda melihat dan memberikan narasi apa yang dia lakukan. Dilain waktu cobalah dengan menawarkan bantuan. Berikan pada sang anak langsung mainan jika terlihat mereka tertarik, daripada meletakkannya di dekat sang anak. Sebutkan nama mainannya. Jika memberi makan, berikan sedikit demi sedikit. Potongan kecil akan memberikan kesempatan belajar yang lebih banyak untuk berkomunikasi. Pastikan anak paham bahwa anda adalah bagian dari aktivitas yang menyenangkan ini sehingga anak akan lebih atensi kepada orangtua dan juga mendengarkan apa yang diucapkan. Jika anak sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri, ciptakanlah suasana dimana anak pasti memerlukan bantuan orang lain untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Misalnya meletakkan mainan yang anak suka di atas atau di dalam kontainer.

d. Imitasi aktivitas sang anak
Salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan atensi kepada anda adalah dengan interaksi imitasi dengan sang anak. Saat berhadapan dengan sang anak, bermainlah dengan mainan atau obyek yang sama, secara bergantian. Atau mungkin diawal perlu digunakan 2 benda yang sama, dimana anda mengikuti gerakan sang anak. Kemudian tambahkan bahasa dengan ber-narasi apa yang dilakukan sang anak dan bersama.

e. Campur semua teknik diatas
Pada kenyataannya, semua 4 teknik diatas dilakukan bersama saat kita berinteraksi dengan anak-anak. Walaupun mungkin pada satu waktu kita fokus pada 1-2 teknik, tapi pada kenyataannya semua teknik bisa dipakai pada aktivitas yang sama.

Perbanyak aktivitas diatas dan berinteraksi dengan sang anak. Mungkin diawal anda hanya dapat menangkap 3 menit dari fokus sang anak, tetapi secara perlahan anda targetkan untuk selalu ditingkatkan, misal 5, 8, 15 menit dan sampai akhirnya 20 menit atau lebih. Lakukanlah secara rutin setiap hari untuk membantu anak menggunakan bahasa yang dia pelajari dialam terapi ABA di lingkungan sehari-hari. Karena kita ingin anak tidak hanya dapat menjawab jika ditanya saat terapi saja, tetapi lebih jauh lagi sang anak dapat menggunakan bahasanya secara fungsional seperti teman-teman tipikalnya.

Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.