Mengajarkan Membaca

*
*
*
Individu dengan autisma memandang dunia secara berbeda dengan orang-orang biasa karena mereka memiliki perbedaan dalam memproses kemampuan kognitif mereka. Kemampuan yang unik dan perbedaan ketertarikan mempengaruhi bagaimana mereka berinteraksi dengan bacaan, memahami komunikasi dan tulisan. Sebuah studi menyebutkan bahwa anak autis memiliki kekurangan dalam memahami bacaan tetapi banyak dari mereka memiliki kemampuan yang sangat baik untuk menerjemahkan kode-kode tulisan dan mengingat kata-kata dalam tulisan, bahkan sekitar 5-20% memiliki kemampuan di atas rata-rata usianya dalam memecahkan kode tulisan (hyperlexia), artinya mereka dapat membaca sendiri tanpa diajari dibawah usia 5 tahun bahkan ada yang sudah bisa membaca kalimat dibawah 3 tahun. Tetapi mereka belum tentu memahami apa yang mereka baca, walaupun sebagian memahami dalam konteks yang terbatas.
*
Membaca adalah kemampuan yang penting dimiliki oleh anak autis karena membaca bisa menjadi alat untuk intervensi anak autis untuk mengurangi kekurangannya, mereka mengenal banyak hal dari apa yang mereka baca. Apalagi untuk anak autis, memproses bahasa tulisan (yang bersifat pasti) lebih mudah dibanding memproses bahasa oral (yang tentu berbeda pengucapan setiap orang dalam nada dan intonasinya). Kemampuan membaca sangat mempengaruhi kemampuan pengetahuan verbal, kosa kata dan pengetahuan dari sang anak, sehinga membaca dan pemahamanannya adalah alat yang sangat penting dalam intervensi anak autis. Tentunya ini tidak dapat disamaratakan kepada semua anak autis karena setiap individu autisme adalah unik dan berbeda.
*
Karena setiap anak autis itu berbeda dan kemampuan membaca mereka pun bervariasi, sehingga sangat penting untuk menentukan metoda apa yang cocok untuk individu tersebut sesuai kemampuannya. Apapun itu dalam terapi ABA kita harus dapat menentukan baseline (dasar), dimana anak itu berada sekarang dan mentargetkan tujuan dari intervensi, misal menghitung huruf, kata, kelancaran membaca (fluency), kosa kata dan pemahamaan bacaan (reading comprehension).
*
Tips-tips dalam membaca:
  • Tanamkan kepada anak bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan. Pilihlah buku bergambar yang menarik yang sesuai dengan minat anak. Misal anak suka kereta api, boneka, barney, dll.
  • Pilih buku yang sesuai dengan level si anak. Misal di awal membaca hanya buku dengan 1 kata, kemudian dengan 1 kalimat, demikian seterusnya.
  • Jadikan kegiatan membaca adalah rutin di rumah misal kegiatan sore atau sebelum tidur dan dimulai dari usia dini sehingga jika anak menolak kita bisa lebih tegas untuk mengajak anak untuk membaca.
  • Sama seperti mengajarkan membaca di anak-anak normal, anak autis harus diperkenalkan dengan kemampuan pra-baca seperti alphabet, pengenalan bunyi (kata yang di mulai dengan huruf tertentu). Pengenalan ini pun bisa dilakukan sambil bermain dan menggunakan teknik ABA.
  • Anak autis sering tidak dapat ‘menunjuk’ dengan jarinya. Membaca dapat digunakan sebagai latihan mereka menunjuk. Sebutkan kata-kata dan arahkan anak ke gambar atau tulisannya (tergantung level anak).
  • Berikan reinforcers jika anak melakukan apa yang kita inginkan sehingga mereka mengasosiasikan membaca dengan hal yang menyenangkan (terutama untuk anak yang tidak suka membaca).
  • Individu dengan autisma adalah visual learner, sehingga belajar membaca melihat dengan gambar akan membantu mereka untuk membaca dan memahami isi bacaan.
  • Buatlah kata-kata yang bermakna buat mereka dan pasangkan (matching) dengan tulisannya. Kata-katanya yang real, ada barang atau aktivitasnya. Jika perlu tempel barang-barang di rumah dengan tulisan-tulisan buat anak latihan membaca. Pengajaran bisa dilakukan sambil bermain atau sambil di meja dengan metoda ABA. Contoh kata awal: bola, buku, makan, minum, kue, kursi, meja, dll.
  • Ada metoda yang mengajarkan kata-kata ini dalam suku kata: bo-la, bu-ku, ma-kan, Pemenggalan suku kata bisa memudahkan dalam membaca kata-kata yang mirip, tetapi hati-hati dalam penggunaannya, jangan sampai anak akan menjadi seperti tersendat bacanya bo-la bukan bola.
  • Tentu sangat lama jika kita mengajarkan satu-satu benda dengan tulisannya, jika anak terlihat sudah cukup mahir, anda bisa memulai dengan kata lain (yang ada kemiripan yang anak bisa sebelumnya dalam suku kata, tetapi kata yang lainnya tetap ada artinya). Misal bola-botol, buku-kuku, makan-main, dll.
  • Banyak anak autis yang cepat bisa membaca tetapi kurang memahami artinya sehingga sebaiknya kota kata yang digunakan disesuaikan dengan barang atau kegiatan yang mereka lakukan sehari-hari sehingga mereka dapat menghubungkannya dengan pehamanan apa yang mereka baca. Misal memfoto kegiatan mereka sehari-hari dan dijilid menjadi buku cerita sederhana akan sangat membantu pemahaman.
  • Jika anak sudah bisa menulis, pasangkan kegiatan membaca (kata-kata targetnya) dengan mengeja atau menulis dan menggunakan kata-kata itu dalam kegiatan sehari hari. Kalau anak belum menulis bisa dengan kegiatan menyusun alphabet.
  • Sambil membaca, tanyakan anak tentang isi bacaan, jika anak belum vokal anak bisa menjawab sambil menunjuk. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan pertanyaan yang dikaitkan dengan kegiatan anak setiap harinya. Misal anak membaca tentang binatang di kebun binatang, anda bisa tanyakan bagian anggota tubuh binatang, mata mana? dan setelah itu tanyakan mata adik mana?
  • Daftar pertanyaan bisa dikembangkan dari bacaan Apa? Siapa? Dimana? Kapan? Jika anak levelnya lebih tinggi lagi bisa ditanyakan Kenapa? Bagaimana? Ceritakan kembali cerita dengan kalimat sendiri.
  • Data yang diambil untuk kemampuan membaca dalam bentuk, jumlah kata yang dapat dibaca, kecepatan membaca dalam per menit atau kemampuan memahami bacaan (contoh form terlampir).
  • Kemampuan memahami bacaan dapat menggunakan target-target kata yang sudah dipahami anak dalam sesi terapi, sebagai latihan NET (natural environment training) atau mengetes kemampuan anak memahami konsep di terapi dalam kehidupan sehari-hari.
*
Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.

2 Replies to “Mengajarkan Membaca”

  1. Assalamu’alaikum bu Rury…
    Saya selalu mengikuti pelajaran dari ibu untuk anak saya.

    Boleh saya minta tolong kirimkan k email lampiran contoh form nya bu ?…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *