Imitasi Gerakan dan Mengikuti Perintah

*

*

8 Okt-Contoh Form Program Anak Usia Dini

*

Mengajarkan Imitasi Gerakan

Kemampuan anak untuk imitasi gerak dari orang lain merupkan kemampuan penting untuk perkembangan bahasa dan sosial dari sang anak karena secara alami anak belajar dengan cara meniru dari lingkungan, gerakan atau vokal. Jika anak dapat mengikuti gerakan dari orang lain, anak dapat belajar banyak kemampuan tanpa atau sedikit training. Sebagian anak autis tidak dapat mengikuti imitasi gerak meskipun gerakan sederhana sehingga memerlukan training tersendiri untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

Di awal terapi yang paling penting dalam trainingnya harus dilakukan secara menarik, sebisa mungkin sambil bermain dan jangan lupa memberikan reinforcer sebagai motivasi mereka untuk belajar. Contohnya: bermain cilukba, pura-pura jadi monster, bikin mimik-mimik lucu sehingga anak tertarik untuk imitasi geraknya. Bisa juga sambil memindah-mindahkan kacang di dalam toples menggunakan sendok, atau sambil bermain mobil-mobilan, boneka dll. Aktivitas apa saja yang anak suka bisa digunakan sebagai latihan imitasi. Jika anak sudah dapat mengikuti gerakan yang menarik buat sang anak, training selanjutnya akan lebih mudah dengan imitasi gerakan yang kita inginkan.

Jika ternyata anak tidak dapat mengikuti dengan training secara alami di atas, kita perlu melakukan training yang lebih intensif. Dimulai dengan kata “tirukan” atau “kerjakan” anak diharapkan meniru gerakan yang kita inginkan. Jika perlu target dipecah menjadi gerakan-gerakan yang lebih sederhana. Contoh jika ingin mengajarkan imitasi gerakan bermain boneka, mungkin kita perlu membaginya menjadi memberi botol susu, menidurkan boneka, mengganti celana boneka, menyelimuti boneka, dll Jika anak sudah mahir, kompleksitas dari gerakan bisa ditingkatkan.

Contoh terapis ingin anak imitasi gerakan cilukba

Terapis             : “Tirukan” (sambil terapis melakukan gerakan cilukba)

Anak                : Jika anak lakukan – beri reinforcer

Jika anak diam atau lakukan kesalahan, ulangi lagi prosedur

Terapis             : “Tirukan” (sambil terapis melakukan gerakan cilukba)

Anak                : Anak meniru (jika perlu dengan bantuan  physical prompt penuh dari terapis) — errorless learning

Terapis             :  “Pintar, hebat” sambil memberi reinforcer/rewardnya.

Demikian selanjutnya, tetapi sebisa mungkin prompt dikurangi secara perlahan sehingga anak akhirnya bisa mandiri imitasi gerak tanpa bantuan terapis.

Cara agar training efektif:

  1. Perintah hanya diberikan jika anak sudah siap (memperhatikan terapis). Terapis harus memberikan instruksi verbal yang sederhana seperti “tirukan” atau “kerjakan” diikuti dengan gerakan model yang sederhana. Jumlah target gerakan antara 3-5 gerakan.
  2. Diajarkan secara errorless learning, supaya anak lebih semangat untuk belajar, karena smeakin sering berhasil dan mendapatkan reinforcernya. Jangan lupa untuk mengurangi prompt secara perlahan jika anak sudah mahir.
  3. Imitasi training akan berhasil baik jika dilakukan secara konsisten sebanyak mungkin. Ada anak yang cepat belajar, ada yang membutuhkan waktu lebih banyak bahkan sampai ratusan trial baru berhasil mengikuti gerakan.

Macam-macam imitasi:

  1. Imitasi mainan/obyek – melatih kemampuan bermain dan dimulai dari apa yang disukai anak. Gunakan 2 set mainan yang sama (jika perlu), misal: mobil-mobilan, boneka, balok, kereta api, dll
  2. Imitasi motorik kasar – gerakan tanpa material, seperti: tepuk tangan, sentuh mata, berdiri, tangan ke atas, dll. Pilihlah target yang selaras dengan training ikuti perintah atau mengajarkan anggota tubuh
  3. Imitasi motorik halus – imitasi gerakan halus yang lebih detil seperti menunjuk, jempol, tekan-tekan play dough, meronce, mewarnai, menulis, dll.
  4. Imitasi oral motor – imitasi ini adalah dasar untuk membantu membentuk artikulasi dan mengikatkan kemampuan vokal dari sang anak. Contoh: buka mulut, senyum, cium jauh, tiup, dll

Jika anak sudah mahir meniru 1 gerakan, dilanjutkan dengan imitasi 2 gerakan atau bahkan sampai seri dari gerakan. Imitasi gerakan misalnya terapis ingin anak mengikuti 2 gerakan dari terapis: pegang hidung dan pegang mata, berdiri dan tangan ke atas, dll. Setelah mahir, imitasi dilanjutkan di lingkungan sehari-hari misalnya melakukan nyanyian sambil gerakan, menggambar, dll.

 

Mengajarkan Mengikuti Perintah Sederhana (One Step Instruction)

Mengikuti perintah sederhana sebetulnya merupakan salah satu bagian listener responding/receptive language, tetapi di awal program karena erat kaitannya dengan imitasi gerak, maka digabungkan penjelasannya disini. Listener responding yang lebih umum akan di jelaskan minggu depan. Pengajaran imitasi gerak dan mengikuti perintah sederhana dilakukan saat bersamaan tetapi dicatat dalam lembar data terpisah (contoh form terlampir).

Untuk anak yang kesulitan untuk mengerti listener responding, training untuk listener responding bisa dimulai dengan training mengikuti perintah sederhana. Kemampuan mengikuti perintah adalah sangat penting untuk kehidupan sehari-hari dan keberhasilan akademik. Untuk tahap awal, kemampuan ini dilatih dengan bahasa yang sederhana dan dilakukan dengan perintah langsung dalam ruang terapi, dan jika sudah mahir dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Langkah pengajarannya hampir sama dengan pengajaran imitasi gerak di atas sebagai berikut:

  1. Terapis memberikan perintah jika anak sudah siap memperhatikan terapis. Pilih 3-5 perintah sekali pengajaran. Dahulukan perintah yang paling sederhana dan digunakan anak dalam aktivitas sehari-hari.
  2. Ajarkan secara errorless learning. Jika diperlukan dimulai dengan physical prompt penuh, dan kemudian berikan reinforcers. Secara perlahan prompt dikurangi jika anak sudah mahir sampai anak dapat mandiri melakukan instruksi tersebut. Jangan lupa pilih reinforcers yang memberikan motivasi kuat anak untuk belajar.
  3. Pengulangan adalah kunci dari keberhasilan terapi ini. Latihlah setiap hari di berbagai kesempatan.

Contoh: terapis ingin mengikuti perintah tepuk tangan

Terapis             : “Tepuk tangan”

Anak                : Jika anak lakukan – beri reinforcer

Jika anak diam atau lakukan kesalahan, ulangi lagi prosedur

Terapis             : “Tepuk tangan”

Anak                : Anak bertepuk tangan dibantu dengan physical prompt penuh dari terapis dengan menggunakan prinsip errorless learning

Terapis             :  “Pintar, hebat” sambil memberi reinforcer/rewardnya.

Demikian selanjutnya sampai anak mahir. Jika anak sudah mahir, prompt dikurangi secara perlahan sehingga anak akhirnya bisa mandiri mengikuti perintah tanpa bantuan terapis. Di kehidupan sehari-hari kita bisa melatih anak mengikuti perintah misal dengan tutup pintu, buang sampah, letakkan piring ini dapur, nyalakan/matikan lampu, dll

Jika anak sudah mahir melaksakan 1 perintah, dapat ditingkatkan kompleksitas dari perintah menjadi 2 perintah sekaligus atau bahkan 3 perintah sekaligus. Perhatikan apakah mampu melaksanakan 2 atau 3 perintah dan anak bisa melakukan dengan urutan yang benar? Contoh di tempat terapi, tepuk tangan kemudian injak bumi, lambai tangan kemudian pukul meja. Contoh di kehidupan sehari-hari: pergi ke dapur dan ambil piring makan, pergi ke kamar dan ambil tas mama, cuci tangan dan cuci kaki, dll.

Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *