Kesimpulan dan Kesalahan

Beberapa minggu lalu sudah dijelaskan tentang dasar metoda ABA dan VB, fungsi behavior, teori behavior ABC dan tentang teknik-teknik mengajarkan kemampuan dasar untuk anak autis usia dini dengan menggunakan VB-MAPP sebagai acuan, yang terdiri dari manding, tacting, echoic, intraverbal, imitasi gerak, mengikuti perintah, matching-to-sample, kemampuan bermain dan sosialiasi dengan menggunakan metoda ABA yaitu errorless learning, prompting, shaping, dll. Kemudian setelah anak-anak ini mahir melakukan kemampuan di atas, bagaimana melatih kelancaran (fluency) dari semua kemampuan di atas sehingga anak lebih mahir dan alami? Bentuk kesalahan apa yang umumnya terjadi dalam penyusunan program ABA?

Mengajarkan dengan Task Variation (Variasi Tugas)

Teknik pengajaran metoda ABA awalnya diajarkan oleh Ivar Lovaas dengan DTT (discrete trial teaching) yang dituangkan dalam program EIBI (Early Intensive Behavior Intervention) sebagai pintu penggunaan ABA sebagai metoda pengajaran anak autis yang terbukti berhasil secara ilmiah (evidence-based). Eksperimen tersebut membuktikan bahwa 47%  anak dibawah 3 tahun yang mengikuti program ABA selama 40 jam seminggu tidak dapat dibedakan lagi dengan anak normal saat mereka berada di kelas 1 SD.

Dengan keberhasilan tersebut bukan berarti teknik ABA menjadi sesuatu yang bisa langsung diterima oleh praktisi dunia ke-autis-an.  Sampai saat ini di luar negeri pun metoda ABA masih mendapat sinisme dan kritisme dari praktisi yang lain, atau sesame praktisi ABA sendiri. Misalnya adalah DTT menjadikan anak memiliki kemampuan menjawab seperti robot, hanya menghapal, jawaban seperti diatur dan tidak alami.  Anakpun sangat bergantung dengan prompt dari orang lain untuk berbicara dan berinteraksi. DTT terlalu banyak konsentrasi dalam imitasi dan program kepatuhan anak. Lebih dari itu anak yang di terapi dengan ABA memiliki masalah dengan generalisasi, tidak dapat mengaplikasikan kemampuannya diluar konteks atau setting yang diajarkan di atas meja. Padahal kalau kita ingin berpikir lebih jauh tidak bisa sepenuhnya bisa disalahkan terhadap penerapan metoda ABA karena definisi dari anak autis sendiri adalah anak yang memiliki kekurangan/keterbatasan dalam interaksi sosial dan komunikasi timbal balik, yang termasuk di dalamnya kurangnya bahasa spontan, ekspresi wajah dan intonasi yang monoton, hambatan komunikasi 2 arah, dll.

Harus dimengerti pula tentunya setelah puluhan tahun, teknik ABA sudah berkembang pesat dibanding metoda dasar DTT yang ditemukan Lovaas puluhan tahun yang lalu. Berbagai macam jenis intervensi berdasarkan ABA pun bermunculan. Sementara metoda DTT pun sudah berevolusi untuk mengurangi kritisi dari para praktisi autis. Salah satunya adalah dengan pengembangan “Teaching with Task Variation” dimana disini presentasi tugas yang anak sudah mahir di campur dan di acak untuk meningkatkan atensi dan ketertarikan anak terhadap terapi, momentum terapi juga berjalan lebih cepat dan alami serta terbukti meningkatkan kemampuan belajar dari sang anak terutama kemampuan berpikir anak lintas verbal operant dan lintas FFC (features/sifat, functions/fungsi and category/kategori dari suatu benda/aktivitas). Sehingga diharapkan anak lebih fokus, atensi tinggi dan lebih fleksible/alami dalam merespons suatu pertanyaan dari orang lain.

Salah satu program Teaching with Task Variation yang dikembangkan oleh Dr. Mary Barbera adalah PaTTAN system (Pennsylvania Training and Technical Assistance Network, badan pemerintah di Pennsylvania-US yang menangani ABK) adalah dengan mengorganisir kartu-kartu terapi agar teratur dan sistematis dalam pengajarannya. Pengaturannya adalah sebagai berikut:

  • Gunakan kartu-kartu berwarna untuk menuliskan perintah dari tugas yang sudah master dengan menggunakan warna yang berbeda untuk masing-masing verbal operant:
    • Merah = listener responding, contoh: pegang mata, angkat tangan, tunjukkan lompat, dll
    • Hijau = tact/labeling yang tidak melibatkan gambar, contoh: terapis bertanya “Apa yang saya lakukan?”, anak menjawab “senyum” jika terapis tersenyum
    • Biru = intraverbal, contoh: “Apa makanan favoritmu?”, “Apa yang diproduksi lebah?”, “Kamu tidur di_____”.
    • Ungu = Gerakan imitasi motor, contoh: “Ikuti ini” terapis mengangkat tangan, anak mengangkat tangan juga mengikuti terapis
    • Kuning = Echoic, contoh: terapis berkata “apel” anak mengikuti “apel”
    • Putih = visual performance; jarang dipergunakan, langsung pakai kartu bergambar saja
  • Tuliskan apa yang dikatakan terapis dalam “ “. Dan jawaban yang diharapkan tanpa “ “ sehingga semua terapis dapat mengetahui kata/kalimat apa yang dipakai untuk terapi saat itu.
  • Kartu-kartu ini kemudian diacak dan dikocok sehingga tercampur dan bervariasi dalam verbal operant. Beri tanda dimulai dari mana, jika tidak habis hari ini bisa dilanjutkan besok dimulai dengan tanda tersebut.
  • Untuk kartu-kartu benda atau aktivitas yang bergambar, beri tanda dibelakangnya apakah anak sudah master apa belum supaya tidak tercampur.
  • Kartu-kartu untuk tact bisa dicampur dengan kartu-kartu warna seperti di atas atau bisa juga terpisah tetapi dalam penugasannya dipresentasikan bergantian.
  • Untuk target yang lain (matching-to-sample, puzzle, dll) pisahkan dan beri tanda mana yang belum dan sudah master.

Kesalahan Dalam Penyusunan Program ABA

Menurut Dr. Mary Barbera, seorang BCBA-D, pakar VB, penulis buku VB dan juga seorang ibu dari anak autis, ada 5 kesalahan umum dalam menyusun program ABA, yaitu

  1. Tidak meng-asess anak secara komprehensif.
    Kebanyakan program ABA hanya terkonsentrasi dalam bahasa saja atau malahan akademik saja. Padahal untuk pengembangan anak secara utuh agar dia bisa mandiri di masa depan, anak harus di assess secara menyeluruh kemampuannya dengan assessment tool contohnya dengan VB-MAPP. Hal-hal yang harus di assess adalah:
  • Bahasa dan sosial, tentu ini adalah yang utama dalam pengembangan anak autis
  • Problem behavior, adakah masalah perilaku dari sang anak yang dapat mengganggu jalannya terapi atau menghambat anak untuk belajar?
  • Self-care, kemampuan anak untuk mandiri mengurus dirinya sendiri
  • Leisure skills, kemampuan anak untuk mengisi waktunya dengan kegiatan yang bermakna seperti bermain, membaca, dll
  • Safety awareness, kemampuan anak untuk memahami adanya bahaya sesuai dengan umurnya. Beberapa anak autis karena masalah sensory tidak memilki rasa takut atau tidak merasakan sakit, sehingga perlu dilatih secara khusus. Jikapun anak tidak ada masalah sensory dalam hal ini, tetapi perlu juga diajarkan untuk mengantisipasi bahaya yang mungkin kurang dia pahami karena keterbatasan bahasa dan kekurangan dalam membaca perilaku sosial orang lain. Misal: jangan bicara dengan orang asing, jangan bukakan pintu untuk orang asing, harus menengok kanan ke kiri jika menyebrang jalan, harus berlaku apa jika hilang di mall, dll
  • Akademik
  1. Terlalu fokus terhadap akademik.
    Kemampuan anak untuk mengikuti kegiatan akademik memang penting di sekolah, tetapi selayaknya bukanlah merupakan program utama dari terapi, khususnya untuk anak usia dini. Karena kemampuan akademik yang advance tanpa ditunjang dengan kemampuan bahasa yang seimbang akan menghambat kemampuan akademik untuk menuju tingkatan yang lebih tinggi. Kemampuan akademik tanpa anak bisa dikontrol kemauannya, tantrum yang berlebihan, tidak bisa mengikuti perintah, tidak punya kemampuan imitasi, dan belum mandiri untuk toilet, makan, dll, apakah ada gunanya? Apakah ada sekolah yang mau menerima anak dengan gambaran demikian?
  2. Tidak mengajarkan self-care
    Kemampuan anak mandiri di dalam dan di luar rumah merupakan kemampuan yang harus diajarkan kepada anak autis. Lihatlah anak-anak seumurnya selayaknya sudah bisa apa? Kita harus mengajarkan dengan target-target tersebut. Contoh self-care anak usia dini: toilet training, mandi dan memakai baju/celana/sepatu sendiri, merapikan barang-barang sendiri, makan sendiri, dll.
  3. Pembuatan program yang terlalu tinggi
    Terkadang penyusunan program tidak sesuai urutan perkembangan anak, yang seharusnya menguasai prasyarat kemampuan yang harus dimiliki sebelumnya atau fondasinya. Walaupun beberapa anak autis memiliki splinter skills (kemampuan tersendiri yang di atas kemampuan lainnya bahkan dibanding dengan anak normal sekalipun), tetapi untuk kemampuan yang lain kita harus membuat programnya dari program dasar. Lebih baik memberi penilaian rendah saat assessmen daripada menilai tinggi tetapi ragu-ragu. Membangun kemampuan anak seperti membangun rumah, jika salah satu fondasinya bolong atau tidak kuat, rumah itupun tidak tegak berdiri tetapi menjadi tidak sempurna dan rapuh.
  4. Tidak bekerjasama di dalam tim: orangtua, guru, terapis, psikolog, dll
    Kunci keberhasilan program adalah kolaborasi dan komunikasi yang baik antara orangtua, guru, terapis, psikolog dan orang-orang dirumah yang berhubungan atau mengurus anak sehingga anak tidak bingung dan dapat mencapai tujuan dalam 1 arah tidak terdistorsi ke arah yang lain.

Demikianlah program dasar untuk anak usia dini menggunakan metoda ABA khususnya VB. Program dasar ini jika kita petakan dalam VB-MAPP adalah setara dengan program dasar level 1 atau kemampuan anak typical usia 0-18 bulan. Masih banyak yang harus diajarkan sebelum dapat melengkapi seluruh kemampuan dalam VB-MAPP. Adapun VB-MAPP sendiri adalah alat assesmen dan petunjuk untuk membuat program secara menyeluruh dari seorang anak yang terlambat perkembangannya sesuai perkembangan anak typical sampai umur 4 tahun.

Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *