Mengajarkan Ya/Tidak Kepada Anak Autis Usia Dini

*
Meskipun terlihat sederhana, tetapi mengajarkan “ya/tidak” terhadap sebagian anak autis yang memiliki bahasa yang kaku adalah cukup rumit. Jika mampu menjawab pertanyaan “ya/tidak” dengan benar, anak dapat memberikan pilihan, menjawab pertanyaan dan secara jelas menggambarkan apa yang dia ingin dan butuhkan. Kemampuan ini dapat mengurangi frustasi karena kesalahpahaman komunikasi di anak autis. Beberapa anak autis yang tidak paham konsep “ya/tidak” akan menjawab semua yang ditanyakan dengan “ya”, atau dilain waktu akan selalu menjawab “tidak”, sementara dia tidak paham maknanya yang akhirnya akan menimbulkan masalah behavior menangis, tantrum, dll.
*
Mengajarkan menjawab “ya/tidak” adalah kemampuan yang cukup kompleks karena dia melibatkan beberapa verbal operants (mand=meminta, tact=melabel, echoic=meniru bunyi dan intraverbal=menjawab pertanyaan). Sebelum memulai program, kita harus melakukan assessment apakah anak paham menjawab “ya/tidak” dalam setiap verbal operantnya. Menurut Dr. Mary Barbera, urutan pengajaran “ya/tidak” dimulai dengan “ya/tidak mand” (Kamu mau apel?), jika sudah mahir dilanjutkan “ya/tidak tact” (Apakah ini apel?) dan terakhir “ya/tidak intraverbal” (Apakah makanan favoritmu apel?).
*
Untuk sedikit menurunkan problem behavior, mengajarkan berkata “tidak” atau respons dengan menggeleng dapat diajarkan lebih dini tetapi mengajarkan berkata “ya/tidak” dalam satu paket khusus sesi terapi baru dilakukan setelah beberapa syarat terpenuhi. Memang sedikit aneh kedengarannya, tetapi anak-anak autis terkadang dapat mengungkapkan apa yang dia tidak mau (dan berkata “tidak” atau mendorong barangnya atau menggelengkan kepalanya) dibanding mengungkapkan bahwa dia ingin barangnya dan berkata “ya”.
*
Syarat untuk mengajarkan “ya/tidak manding” adalah anak sudah mahir beberapa mand (di atas 25) yang barangnya terlihat ataupun tidak terlihat dan juga sudah bisa mand beberapa aktivitas. Pengajaran “ya/tidak” terlalu cepat akan mengurangi mand yang spontan dan bisa menyebabkan penurunan dari kemampuan mand nya karena anak akhirnya hanya akan menunggu ditanya dan menjawab “ya/tidak”. Mand diajarkan pertama karena memiliki motivasi dan anak bisa langsung memahami arti dari “ya/tidak”, bahwa apa yang dia inginkan dia bisa jawab ”ya” dan apa yang tidak dia inginkan dia jawab “tidak”.
*
Tahapan pengajaran “ya/tidak”:
1. Mengajarkan “ya/tidak manding” dan barangnya terlihat
  • Pilihlah barang yang anak suka, anak sudah dapat mand dengan spontan saat barangnya tidak terlihat dan juga sudah mahir tact. Pilihlah barang yang anak tidak suka tetapi bisa tact barangnya. Lakukan pengetesan sebelum ditanya, apakah anak benar-benar suka atau tidak dengan barang itu saat itu dengan melihat reaksinya, anak mengambil atau mendorong barang itu. Jika sudah yakin, saat terapi, berikan prompt penuh sebelum anak menjawab dengan kesalahan.
  • Batasi latihan “ya/tidak” sekitar 10-20 menit sesi per hari. Jika terlalu banyak akan terjadi penurunan “ya/tidak manding” yang spontan. Sementara kegiatan sehari-hari tetap fokus pada mand yang spontan. Jangan lakukan latihan “ya/tidak” diluar sesi jika anak belum banyak mand yang spontannya.
  • Melatih “ya”. Asumsi anak mau kue.
    Terapis          : “Mau kue?” Prompt dengan “ya” dan anggukan kepala
    Anak echo   : “ya”
    Transfer — tanyakan sekali lagi
    Terapis          : “Mau kue?” Kurangi prompt dengan partial prompt (y-) atau gesture (terapis mengangguk)
    Anak             : “ya”
  • Melatih “tidak”. Asumsi anak tidak mau makan buncis
    Terapis          : “Mau buncis?” Prompt dengan “tidak” dan gelengan kepala Anak echo   : “tidak”
    Transfer — tanyakan sekali lagi
    Terapis          : “Mau buncis?” Kurangi prompt dengan partial prompt (n-) atau gesture (terapis menggeleng)
    Anak             ”  “tidak”
  • Jika diperlukan bisa dibantu dengan tulisan “ya” dan “tidak”
  • Jika anak meng-echo dengan “ya kue” atau “tidak buncis”, berarti anak kurang paham dengan pertanyaannya dan hanya meng-echo karena jawaban cukup “ya” atau “tidak” saja. Ulangi lagi pertanyaan, tetapi hilangkan kata bendanya, jadi tanyakan dengan “Mau apa?” sehingga anak tidak mengecho barangnya (“ya kue”, “tidak buncis”). Setelah agak mahir, coba lagi dengan nama barangnya dan jika anak sudah mahir dan tidak echo nama barangnya, bisa diperkenalkan kembali dengan pertanyaan “Mau #barang?”.
  • Setelah anak mahir dan jawaban 80% benar selama 3 hari berturut-turut, acak pertanyaan dengan jawaban ”ya” dan “tidak”. Jangan lupa tetap melatih mand spontan supaya tidak hilang.

*

2. Mengajarkan “ya/tidak manding” dan barangnya tidak terlihat
  • Jika anak sudah mahir “ya/tidak manding” yang barangnya terlihat, mulai secara perlahan barang yang sama disembunyikan di dalam tempat tertutup dan tanyakan kepada anak. “Mau kue?” “Mau buncis?” seperti prosedur di atas.
  • Jika sudah mahir, baru mulai mulai diperkenalkan di natural environment atau kegiatan sehari-hari. Jangan lupa selalu mendorong penggunaan mand yang spontan dan sekali-kali ajukan pertanyaan “ya/tidak mand”.
  • Jika anak terlihat berkurang penggunaan mand yang spontan, coba kurangi ajukan pertanyaan “ya/tidak”.
  • Ajarkan kemahiran ini di berbagai macam setting, orang yang berbeda dan tempat berbeda, misal di rumah dengan seluruh keluarga, di sekolah, dll.

*

3. Mengajarkan “ya/tidak tacting”
  • Dimulai dengan kata-kata yang sudah anak punya dan mahir
  • Jika diperlukan beri bantuan tulisan “ya” dan “tidak”
  • Jika sudah mahir, hilangkan perlahan prompt tulisan “ya” dan “tidak” sehingga anak bisa menjawab secara mandiri, walau mungkin di awal tulisan masih ada dan hanya perlu menunjuk tulisannya (tidak diangkat seperti di video contoh), perlahan dikurangi menjadi prompt dengan gesture (anggukan dan gelengan) atau verbal partial prompt (y untuk ya; t untuk tidak)
  • Dimulai dengan kata-kata benda, dilanjutkan kata kerja dan kata-kata sifat, fungsi, kategori, dll.
  • Setelah mahir dalam sesi terapi, sebaiknya di praktekkan di lingkurangan sehari-hari supaya anak dapat mengeneralisir jawabannya.

*

4. Mengajarkan “ya/tidak intraverbal “
  • Mengajarkan ya/tidak intraverbal akan menjadi hal yang cukup sulit, karena beberapa intraverbal benar-benar sudah abstrak yang kadang sulit dipahami oleh anak autis.
  • Tetapi bisa dilatih dengan cara yang mirip dengan tact di atas, dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang anak sudah mahir dan dipraktekkan di lingkungan sehari-hari. Pertanyaan yang jawabannya lebih pasti lebih dulu diajarkan dibandingkan yang lebih abstrak. Gunakan VB-MAPP intraverbal subtest sebagai panduannya.
  • Bebarapa anak yang sudah mahir mand dan tact sudah bisa langsung mengeneralisir di intraverbal tanpa latihan khusus.
*
Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *