Mandiri Dengan Chaining

 

Contoh Chaining Form

Dalam melakukan assessment pada ABK, hal yang sering terlupakan adalah tidak dilakukannya assessment secara menyeluruh terhadap sang anak sehingga terkadang program hanya dikhususkan pada pengajaran bahasa dan akademik. Padahal, program kemandirian tidak kalah pentingnya dengan program lain yang diperlukan ABK. Melatih program kemandirian untuk ABK pun tidaklah sederhana dan sangat memerlukan kesabaran ekstra. Program kemandirian juga sangatlah penting dalam keberhasilan anak di sekolah, sehingga harus dikenalkan sedini mungkin demi masa depan sang anak. Salah satu contoh program kemandirian adalah daftar checklist kemandirian yang dikeluarkan sebagai pelengkap VB-MAPP yaitu daftar dari program mandiri untuk anak usia dibawah 4 tahun.

Salah satu cara untuk mengajarkan suatu ketrampilan atau kemandirian untuk ABK adalah menggunakan chaining. Sebagaimana kita ketahui ABK, utamanya autisme memiliki keterbatasan dalam memulai komunikasi, melakukan joint attention, spontanitas dalam imitasi gerakan maupun vokal. Mereka juga memiliki kekurangan untuk mengenal, memahami dan menebak perilaku orang lain sehingga sulit melakukan observasi terhadap gerakan orang lain dan kemudian secara spontan mengimitasi gerakan tersebut. Selain itu, mereka juga memiliki masalah dalam mengikuti tugas dan mengingat urutan dari tugas tersebut. Mengingat keadaan yang demikian disebut di atas, bagaimana cara mengajarkan kemampuan yang cukup kompleks dan panjang dengan urutan tertentu terhadap ABK? Salah satunya adalah menggunakan prinsip Applied Behavior Analysis, ABA, yaitu metoda chaining.

Chaining adalah metoda pengajaran suatu ketrampilan yang cukup kompleks dengan membagi ketrampilan tersebut menjadi tugas sederhana (simple task analyses) atau rantai perilaku sederhana. Sebuah rantai perilaku adalah tahapan yang spesifik yang jika digabungkan bersama akan menghasilkan produk yang diinginkan. Setiap respons dari rantai itu berfungsi sebagai instruksi untuk mengerjakan rantai berikutnya.

Contoh tugas yang bisa diajarkan dengan metoda chaining adalah program mandiri seperti memakai sepatu, sikat gigi, cuci tangan, makan sendiri. Selain mengajarkan kemandirian, chaining juga dapat digunakan untuk mengajarkan ketrampilan lainnya seperti mengajarkan cara kerja seperti memasak, mengerjakan tugas-tugas kerja, prakarya, membersihkan rumah, dll. Mengajarkan akademik seperti alphabet, berhitung, matematika. Mengajarkan berbicara seperti melatih echoics. Mengajarkan kemampuan bermain seperti menggunakan komputer, bermain yang menggunakan aturan, dll.

Ada 3 jenis tipe dari chaining:

  1. Forward Chaining (chaining yang berurutan dari depan). 
Adalah perilaku sederhana dalam rantai diajarkan sesuai urutannya dari depan. Jadi jika kita ingin mengajarkan cara sikat gigi kita mengajarkan link yang pertama misalnya mengambil odol dan membukanya. Kemudian urutan-urutan berikutnya yang mengerjakan adalah terapis/orang tua sampai sikat gigi selesai. Kemudian pemberian reinforcer.
  2. Total-task chaining
Ketrampilan yang diajarkan sama dengan forward chaining (dari depan) yang merupakan variasi dari forward chaining tetapi semua langkah diajarkan sekaligus. Hal ini bisa dilakukan untuk tugas yang tidak terlalu kompleks atau kemampuan anak yang sudah paham sebagian analisa tugasnya tetapi kesulitan menentukan urutan tugas. Anakpun sudah memiliki kemampuan imitasi gerakan.
  3. Backward Chaining (chaining yang diajarkan terbalik)
Adalah perilaku sederhana diajarkan dari urutan yang paling belakang. Jika kita ingin mengajarkan cara sikat gigi kita mengajarkan dari urutan yang paling belakang. Misalnya mencuci sikat gigi dan meletakkan sikat gigi di tempatnya kemudian pemberian reinforcers. Urutan pengerjaan tugas sikat gigi di depannya dilakukan oleh terapis. Jika anak sudah mahir, proses berikutnya adalah sikat gigi kemudian mencuci sikat gigi dan meletakkan sikat gigi ditempatnya kemudian permberian reinforcers.

Faktor-faktor yang mempengaruhi behavior chain:

  1. Analisa tugas (task analysis) yang lengkap. Semakin lengkap dan akurat analisa tugasnya, semakin besar kemungkinan sang anak memiliki kemajuan dan cepat belajar ketrampilan baru.
  2. Panjang dan kompleksitas. Semakin panjang dan komples ketrampilan yang diajarkan, semakin lama mencapai kemahiran.
  3. Reinforcer dan jadwal pemberian reinforcers yang cocok, karena terapis juga harus memperhitungkan motivasi sang anak dan juga jumlah responsnya dari sebuah rantai.
  4. Variasi dari stimulus, terapis harus memperhitungkan kemungkinan adanya variasi dari 
 Misalnya ingin mengajarkan proses cuci tangan. Adakah kemungkinan tidak ditemukannya tissue/handuk di toilet umum, tetapi kemudian anak diajarkan mengeringkan dengan hand dryer.
  5. Variasi dari respons, terapis harus memperhitungkan kemungkinan adanya variasi dalam respons. Misalnya dalam proses pembuatan kue misalnya, ada adonan yang langsung di bakar di oven ada adonan yang harus ditambahkan kacang, dll. Kemudian sampai mana tingkat kematangan dari masing-masing adonan yang tentu berbeda.

Manakah yang efektif, forward atau backward chaining? Keduanya sama-sama efektif dalam mengajarkan ketrampilan yang diinginkan. Prosedur mana yang dipilih atau paling efektif tergantung dari pengetahuan sang anak saat itu dan juga tentang ketrampilan baru itu sendiri, karakteristik sang anak dan juga karakteristik tugasnya.

Bagaimana caranya?

  1. Tentukan ketrampilan yang ingin diajarkan. Misalnya anak diharapkan bisa mencuci tangannya sendiri.
  2. Bagi cara mencuci tangan sendiri menjadi analisa tugas sederhana. Pembagian ini sangat 
tergantung dari komplesitas tugas dan profil sang anak. Contoh analisa tugas dari mencuci tangan adalah (lihat file excel terlampir sebagai contoh pengisian form):
    1. Perintah “cuci tangan” dari terapis
    2. Membuka keran
    3. Membasahkan tangan
    4. Mengambil sabun
    5. Menyabuni tangan
    6. Mencuci tangan sampai bersih dari sabun
    7. Menutup keran
    8. Mengeringkan tangan
  3. Memilih metoda yang digunakan: forward atau backward chaining:
    1. Jika memilih forward chaining, berarti membuka keran diajarkan dahulu (jika perlu menggunakan prompt) kemudian langkah-langkah berikutnya di kerjakan dengan bantuan terapis. Setelah selesai berikan reinforcernya. Jika anak sudah bisa masuk ke analisa tugas berikut tugasnya menjadi membuka keran dan membasahkan tangan, langkah selanjutnya dikerjakan dengan bantuan terapis dan diakhiri dengan reinforcer. Demikian seterusnya sampai tugas mencuci tangan lengkap.
    2. Jika memilih backward chaining, berarti setelah terapis berbicara ‘cuci tangan’ langsung terapis membantu semua analisa tugas kecuali mengeringkan tangan. Anak diharapkan mengeringkan tangan sendiri (prompt jika perlu). Kemudian setelah mahir, ajarkan 2 chain terakhir menutup keran dan mengeringkan tangan kemudian berikan reinforcernya. Demikian seterusnya sampai anak mahir semua urutan cuci tangan.
  4. Kumpulkan data dan bandingkan dengan sebelum intervensi. Adakah anak memiliki kemajuan?
  5. Sesuaikan prosedur intervensi jika diperlukan dan jangan lupa selalu mengecek kemampuan anak dalam program maintenance kalau anak sudah mahir. Apakah anak selalu mengingat prosedur tersebut dengan benar?

Prosedur chaining ini berguna untuk mengajarkan bermacam jenis ketrampilan baru dan untuk semua jenis anak dengan keterlambatan perkembangan. Untuk membantu pemahaman prosedur dan juga konsep dari ketrampilan baru tersebut, metoda chaining ini juga dapat dikombinasikan dengan visual skedul, social story dan video modelling. Visual skedul adalah urutan pengerjaan dari urutan tugas yang dapat digunakan sebagai visual prompt buat sang anak yang bisa ditempel di dinding atau ditaruh di album/buku instruksi. Social story adalah buku cerita tentang situasi tertentu atau program yang sedang diajarkan tersebut. Video modelling dimana seorang model memperagakan tugas yang akan diajarkan. Dengan kombinasi metoda ABA diatas diharapkan anak dapat terlatih dan melakukan semuanya secara mandiri.

Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.

FB Group: Rury ABA/VB Untuk Autisma
 * Website: www.rurysoeriawinata.com

Youtube: Rury ABA/VB * Ig: rurysoeria