Melatih Joint Attention

Anak autis memiliki kekurangan atau keterbatasan dalam sosial interaksi dengan orang lain. Mereka tidak secara alami memiliki kemampuan tersebut. Kemampuan ini dapat dilatih secara sistematis dengan menggunakan teknik Applied Behavior Analysis (ABA). Salah satu kemampuan yang penting untuk membangun kemampuan sosial untuk anak autis adalah kemampuan untuk joint attention (atensi pada hal yang sama dengan orang lain). Kemampuan ini adalah fondasi dari banyak kemampuan lain. Kegagalan memiliki kemampuan joint attention membuat anak sulit untuk belajar dari lingkungan sehingga anak semakin terlambat perkembangannya dan juga memiliki potensi memiliki masalah behavior karena tidak memiliki kemampuan ‘membaca’ lingkungan. Anak yang memiliki kekurangan di joint attention juga memiliki masalah dengan bahasa.  Studi menunjukkan bahwa intervensi yang fokus kepada joint attention akan meningkatkan kemampuan sosial anak.

Joint attention adalah perilaku dari 2 orang yang biasa terjadi dalam komunikasi yang biasanya berkembang di usia 8 – 15 bulan. Joint attention adalah kemampuan sosial komunikasi pertama yang melibatkan obyek, kejadian atau orang lain. Kemampuan ini penting karena menyangkut masalah perkembangan bahasa, kosa kata, kemampuan sosial (ketidakmampuan anak untuk berpikir dalam perspektif/sudut pandang orang lain dalam berbicara) dan perkembangan emosi dari anak. Contoh joint attention adalah menunjukkan mainan kepada orang lain, melihat sesuatu diluar secara bersama, membaca bersama, anak menunjuk ke sesuatu dan mencari perhatian orang lain, anak datang ke seseorang untuk menunjukkan sesuatu, dll

Tanda-tanda bahwa sang anak memiliki masalah dalam joint attention adalah bermasalah dalam berinteraksi/mengenali asal suara atau stimulasi sosial, bermasalah dalam melihat ke arah apa yang ditunjuk orang lain, bermasalah dalam menunjuk (dengan tangan) dan berbagi cerita, bermasalah dalam melihat yang berdasarkan referensi orang lain. Misal lawan bicara berkata “Lihat itu”, anak tidak dapat melihat hal yang direferensikan oleh orang tersebut. Pertanyaan lainnya adalah apakah anak merespons terhadap stimulus yang ada langsung di depan matanya? Atau jika stimulus itu dipindahkan, apakah anak masih bisa merespons atau mengikutinya? Apakah anak respons jika namanya dipanggil? Apakah anak respons jika namanya dipanggil sementara dia sedang asik dengan aktivitasnya? Apakah anak pernah menunjuk, bercerita atau mengarahkan orang lain terhadap sesuatu yang menarik perhatian sang anak?

Joint attention tidak sama dengan inattention (tidak perhatian). Contohnya anak-anak ADHD yang menunjukkan ketidakmampuan dalam atensi ke sesuatu obyek dalam waktu tertentu, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk mengikuti referensi dari orang lain dan dapat memulai memberikan/meminta atensi tetapi hanya waktunya mungkin sangat pendek dan terbatas.

Ada 2 tipe dari joint attention yaitu responding joint attention dan initiation join attention. Responding joint attention adalah response terhadap interaksi orang lain untuk komunikasi bersama misalnya terapis berkata (mungkin sambil menunjuk) terhadap anak, “Lihat diluar ada pesawat lewat”. Disini jika anak tidak mampu melihat hal yang ditunjuk berarti anak tidak memiliki kemampuan tersebut. Sementra iniatiting joint attention adalah kemampuan anak untuk menarik perhatian orang lain terhadap sesuatu obyek, misalnya anak berkata “Ibu, lihat ada cicak di dinding”, “Lihat gambar yang aku buat”, dll.

Aktivitas apakah yang terlibat dalam joint attention. Yang pertama adalah tatapan mata, yang bentuknya bisa 2 individu melihat ke dalam satu obyek, melihat obyek sambil bertukar ekspresi wajah, sharing tatapan mata ke suatu obyek dan juga mengikuti obyek itu bergerak. Yang kedua adalah kemampuan menunjuk sebagai bentuk komunikasi gesture pertama dan yang kemudian berkembang menjadi kebutuhan untuk di dengarkan/ditanggapi dalam komunikasi. Yang ketiga, sang anak juga harus memiliki kemampuan untuk imitasi dari kemampuan yang dia amati. Dari paparan di atas bisa dimengerti mengapa anak autis sulit untuk melakukan joint attention, karena mereka biasanya memiliki kekurangan di 3 aktivitas di atas.

Bagaimana melatih joint attention? Joint attention dapat dilatih dengan menggunakan konsep ABA, dengan memberikan motivasi atau reinforcers setelah anak mengerjakan tugas dan jika perlu menggunakan prompts. Teknik manding juga dapat sebagai dasar melatih joint attention, karena teknik ini mengharuskan anak berinteraksi dengan orang lain sementara motivasi anak tinggi karena ingin mendapatkan reinforcernya.  Jangan lupa lakukan errorless learning supaya anak senang berlatih dan terapis juga memberikan model bagaimana jawaban atau aktivitas yang benar dan diharapkan dari anak.

Terapis juga harus melihat tipe dari joint attention yang ingin diajarkan, apakah itu responding joint attention ataukah initiation joint attention. Kemudian terapis juga harus melihat bentuk tugasnya, pra syarat apakah untuk dapat melatih tugas itu, apakah kemampuan tatapan mata, imitasi atau kemampuan menunjuk ataukah ketiganya? Assess kemampuan yang ada pada anak dan persiapkan program dari  kemampuan apa yang anak tidak punya.

Apa saja yang harus dilatih dalam joint attention? untuk melatih responding joint attention dilakukan mengikuti dengan tatapan mata, imitasi motorik kasar, dengan atau tanpa obyek, mengikuti gerakan wajah, mengikuti seri dari gerakan motor kasar, mengikuti imitasi dengan blok/pattern, dll.  Sementara untuk melatih initiating joint attention, hal yang harus dilatih adalah kontak mata, mengikuti kontak mata, melatih berbicara timbal balik, melatih dengan games yang timbal balik serta latihan bergiliran. Kontak mata dilatih dengan selalu memberikan reinforcer di dekat mata supaya anak mau tak mau melihat mata kita. Melatih respons anak jika namanya dipanggil juga merupakan latihan dasar. Sedang yang lainnya dilatih setelah anak memiliki sedikit bahasa dan interaksi sosial dengan cara bermain sosial yang melibatkan orang lain.

Joint attention tahap dasar dilakukan dengan discrete trials di atas meja sehingga anak belajar secara sistematik konsep dari tatapan mata, imitasi dan kemampuan menunjuk, dll. Setelah tugas disampaikan anak merespons dan menerima reinforcement jika aktivitasnya benar dan jika diperlukan berikan prompt.  Jika anak sudah mahir, dapat di implementasikan di kehidupan sehari-hari (natural environment training) dimana sistem pelatihannya diintegrasikan dalam kegiatan sehari-hari. Program joint attention dalam natural environment akan berhasil jika orangtua terlibat aktif dalam pelaksanaannya sehingga anak dapat mendapat kesempatan lebih banyak untuk berlatih di kehidupan sehari-hari dirumah.  Jika anak sudah siap untuk berinteraksi sosial, undang saudara atau anak tetangga untuk berlatih meningkatkan join attention.

Terapis memberikan kesempatan kepada anak untuk menginisiasi atau merespons kegiatan interaksi dengan anak menggunakan kegiatan joint attention. Misal untuk melatih responding joint attention menunjuk ke pesawat yang terbang di langit, “Apa itu yang terbang?” Atau mungkin suara hujan, terapis bisa berkata “Hujan” dengan memberikan anak prompt untuk merespons. Sementara untuk melatih intiating joint attention, terapis bisa memancing anak mengeluarkan kata-kata “Lihat ibu, ada kupu-kupu terbang” jika anak melihat kupu-kupu atau sambil membaca anak menunjuk gambar yang dibacanya dan menarik orang yang membaca bersama untuk berkomentar tentang bukunya.

Jangan lupa bahwa terapi ABA akan berhasil jika dilakukan dengan konsisten dan terus menerus. Untuk anak yang sangat lemah memiliki joint attention disarankan total 40 jam seminggu dalam pelatihan joint attention dan kemampuan dasar yang lain dengan banyak terapi dilakukan di DTT dan sebagian di NET. Sementara untuk anak yang sudah memiliki kemampuan dasar tetapi masih belum konsisten dalam pelaksanaannya diperlukan sekitar 10 jam per minggu. Untuk anak yang sudah mahir kemampuan dasar dan NET dapat dilakukan lebih banyak di NET sesuai kebutuhannya.

Contoh scenario joint attention:

  • Siapkan peralatan dan lingkungan
  • Terapis ‘memancing’ anak dengan bermain dengan mainan yang diinginkan
  • Anak diharapkan memberikan respons, jika anak tidak memberikan respons terapis memberikan prompts agar anak memilih mainan yang dia inginkan
  • Terapis dan anak bermain bersama
  • Berikan waktu untuk anak berkomunikasi
  • Terapis bertanya kepada anak tentang permainan itu dan memberi prompt supaya anak menjawab atau bertanya sesuai konteksnya dan jangan lupa memberikan reinforcer jika anak merespons dengan benar.
Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *