Hasil Interpetrasi VB-MAPP

*

*

Hasil dari VB-MAPP Milestones Assessment, Barrier Assessment dan Transition Assessment dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai sang anak sehingga dapat digunakan untuk menyusun program intervensi. Ketiga alat assessment ini mengidentifikasi kemampuan apa yang anak miliki, serta hambatan untuk belajar bahasa dan belajar yang harus dikurangi atau dihilangkan sebelum anak memulai program terapi. VB-MAPP task analysis memberikan informasi tentang kemampuan tambahan yang perlu ditambahkan ke dalam program sehari-hari. Meskipun task analysis tidak didesain sebagai alat assessmsen karena sangat banyak (sekitar 900 kemampuan) tetapi dapat digunakan untuk mengidentifikasi perkembangan intervensi yang lebih menyeluruh. Tips dalam membaca VB-MAPP:

 

  1. Tentukan level dari sang anak, level 1, 2 atau 3. Anak-anak autis atau terlambat perkembangannya sangat unik, setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan yang sangat spesifik, tetapi anak secara umum dapat di identifikasi berada pada level 1, level 2 atau level 3. Karena setiap level di desain untuk penggabungan dari kemampuan bahasa dan sosial yang mirip sehingga dapat ditentukan kemampuan, target dan sistem pengajaran yang lebih efektif untuk level tertentu (misal intensif satu-satu, pengajaran dalam grup dalam lingkungan yang lebih alami).
  2. Analisa nilai dari setiap kemampuan dan bagaimana hubungannya dengan peforma sang anak. Harus dilihat kekuatan dan kelebihannya setiap individu, dan mententukan kekuatan tertentu dari sang anak untuk menutupi dan melatih kekurangannya. Contohnya jika anak memiliki kemampuan yang lemah di mand tetapi kuat di tact sehingga program melatih mand (meminta) menggunakan tact (melabel), atau istilahnya di-transfer kemampuannya dengan “prosedur transfer” tact ke mand.
  3. Melihat keseimbangan dari semua kemampuan dari setiap level. Milestone assessment di desain untuk secara cepat membaca profil dari kemampuan umum sang anak. Untuk membangun bahasa dan sosial yang baik, semua perkembangan sebisa mungkin seimbang. Contohnya jik anak memiliki ratusan listener discrimination (bahasa receptive) tetapi hanya sedikit tact (labeling), maka intervensi harus di fokuskan untuk menyeimbangkan kemampuan tact terlebih dahulu.

 

Interpretasi VB-MAPP Level 1

Secara umum untuk anak dilevel 1, intervensi fokus pada membangun 6 kemampuan bahasa dan kemampuan yang berhubungan dengan itu seperti mand, echoic, imitasi motor, listener discrimination, tact, dan persepsi visual dan menyamakan (VP-MTS). Kemampuan bermain dan kemampuan bermain sosial juga penting dan harus merupakan bagian utama dari intervensi, termasuk meningkatkan kemampuan vokal yang spontan. Penting juga untuk tidak melupakan kemampuan lain yang anak butuhkan seperti kemampuan motor halus, kemampuan self-help dan kemampuan toilet.

 

Metoda pengajaran dari level 1 ini lebih kearah intensive teaching yang melibatkan banyak pengulangan (DTT), tetapi untuk beberapa anak strategi yang lebih baik dengan menambahkan training di lingkungan alami mungkin juga efektif, tetapi goal dari pembelajaran tetap sama. Kombinasi dari strategi DTT dan NET tetap diperlukan.

 

Ciri-ciri Program Level 1

  1. Anak di level ini membutuhkan training yang intensif dan langsung menangani bahasa serta kemampuan sosial anak. Intensif berarti training sang anak harus dilakukan setiap hari dalam situasi yang di rencanakan dengan baik dengan target yang jelas dan best-practices dari prosedur behavior dan edukasi intervensi. Jumlah jam pengajaran harus intensif seperti 25 jam seminggu di tempat terapi/sekolah dengan follow up dan generalisasi oleh orangtua di rumah. Semua program bahasa dan sosial anak harus diintervensi 24 jam oleh pihak yang berinteraksi dengan anak, terutama anggota keluarga.
  2. Program intervensi dari sang anak harus melibatkan DTT (sistem pengajaran yang tersktruktur, di atas meja atau di lantai) dan NET (mengajarkan anak dalam kegiatan sehari-hari). Campuran dari kedua pengajaran ini sangat dianjurkan, dengan di tempat terapi, kelas atau di rumah menggunakan DTT yang dilaksanakan oleh terapis, dan kemudian dilanjutkan diimplemantasikan oleh orangtua di rumah.
  3. Menurut Skinner verbal behavior dapat terjadi dalam beberapa bentuk respons vokal, bahasa tubuh, visual stimuli dan tulisan. Untuk anak autis dan terlambat perkembangannya, vokal adalah respons yang sangat diharapkan dan setiap usaha harus dilakukan untuk mencapai target ini. Tetapi untuk beberapa anak yang sudah dicoba untuk vokal tetapi belum ada kemajuan, alternatif cara berkomunikasi dapat dikenalkan, seperti bahasa isyarat, PECS atau menggunakan tulisan. Pemilihan sarana komunikasi ini sangat tergantung dari kelebihan sang anak, apakah anak mahir imitasi, menyamakan gambar atau membaca tulisan (hyperlexia).
  4. Contoh kasus yang umum untuk anak autis level 1 adalah anak yang tidak memiliki mand, tact, maka fokus harus ditekankan pada melatih mand dan tact baru dilatih setelah anak mahir beberapa mand.
  5. Kunci dari efektif program:
    1. Assessment yang akurat dari kemampuan bahasa, belajar dan hambatan yang mengganggu proses akusisi kemampuan baru
    2. Setelah baseline dari kemampuan anak diketahui, program intervensi di desain dan implementasi oleh professional
      1. Skedul anak sehari-hari
      2. Metoda komunikasi: vokal, bahasa isyarat, pecs/compic atau menggunakan device (program di ipad)
  • Metoda dan gaya pengajaran
  1. Koleksi data dan pengukuran
  2. Kurikulum (IEP)
  3. Training staff (orang-orang) yang mengimplementasi
  • Supervisi secara berkala dari professional
  • Melibatkan orangtua (orangtua terlibat, terlatih dan memberikan support penuh pada program

 

Interpretasi VB-MAPP Level 2

Anak yang berada di level 2 adalah tetap merupakan belajar pemula, tetapi sudah mulai menunjukkan kemampuan yang solid utk kemampuan belajar dan bahasa. Fokus dari intervensi adalah mengembangkan kemampuan ini dengan berbagai macam cara dan dari segala arah. Secara umum target dari intervensi program adalah:

  1. Mengembangkan ukuran dan scope dari mand, tact dan listener (LD) dengan mengajarkan kata benda, kata kerja dan kata sifat
  2. Mengembangkan antecedent 2 dan 3 komponen verbal dan non-verbal
  3. Awal dari listener responding dengan fungsi, sifat dan kategori/kelas (LRFFC)
  4. Awal dari intraverbal
  5. Mengembangkan sosial dan interaksi verbal dengan teman sebaya
  6. Mengembangkan grup dan kemampuan dalam kelas
  7. Belajar di lingkungan yang lebih luas dan alami (dalam grup, bermain, mengerjakan prakarya, dll)

Selain program di atas tentu tidak dilupakan belajar kemampuan yang lain seperti kemampuan motorik halus dan kasar, program kemandirian (self help dan toileting), mengurangi hambatan bahasa dan behavior. Sistem pengajaran menggunakan format yang intensif tetapi secara perlahan dapat dilakukan di kegiatan yang tidak terstruktur  dan lebih alami (NET=natural environment teaching).

 

Assessor harus menganalisa setiap point dalam VB-MAPP, dimana kelebihan anak digunakan untuk melatih kemampuan yang lebih lemah, atau yang disebut transfer prosedur. Contoh seorang anak di level 2 memiliki nilai mand yang lemah dibanding tact. Kemampuan tact ini dapat digunakan untuk mengembangkan dan menyeimbangkan kemampuan mand.

 

Ciri-ciri Program Level 2

  1. Intervensi di level 2 lebih rumit dibanding level 1 karena mayoritas dari goal di level 1 berbentuk konkrit dan pasti. Sementara level 2 sudah pada konsep yang lebih abstrak. Banyak anak cepat mengisi level 1 tetapi menjadi stagnan di level 2, ini adalah hal yang umum untuk anak autis. Perpindahan dari kemampuan dasar di level 1 kata benda, kata kerja, mand dasar dan tact menjadi sangat komplikasi setelah konsep bahasa yang lebih mahir dikenalkan seperti LRFFC, intraverbal, interaksi verbal dan non-verbal. Terapis harus mampu mengimplementasi prosedur level advanced, untuk membawa kemampuan dasar yang sudah dimilik anak ke LRFFC dan intraverbal, menangkap motivasi untuk meningkatkan kemampuan anak, yang tadinya mand makanan yang terlihat menjadi mand yang lebih abstrak (kegiatan) dan barang yang tidak terlihat. Pengajaran juga harus meliputi generalisasi prosedur berbagai tempat, orang dan kemampuan, spontanitas, transfer antara verbal operant, interaksi sosial dan verbal dengan teman sebaya dan penggunaan kemampuan anak yang mahir di ruang terapi pada kegiatan sehari-hari. Jika tidak dilakukan dengan hati-hati, anak akan terlibat dengan ‘rote response’ (menghapal jawaban) tapi tidak paham dengan konsepnya. Ini akan terjadi jika urutan pengajaran kurang tepat, seperti terlalu cepat mengajarkan kata sifat, kata ganti orang, preposisi dan intraverbal. Pemahaman konsep BF Skinner dan VB-MAPP penting untuk mengurangi kemungkinan anak terjebak menghapal jawaban.
  2. Sama seperti level 1, anak level 2 masih membutuhkan intensif dan program desain yang sangat hati-hati untuk program intervensinya. Format dan jumlah jam pengajaran sama dengan level 1 yaitu misalnya 25 jam per minggu dengan terapi/sekolah dengan follow up dan generalisasi oleh orangtua dan pihak yang berinteraksi dengan anak selama 24 jam.
  3. Anak level 2 memerlukan pengajaran yang intensif model DTT, tetapi sudah perlu mengembangkan fokus dari intervensi ke arah generalisasi dan penggunaan apa yang dilakukan di meja di lingkungan alami. Jumlah jam dari pengajaran terformat masih sama dengan level 1 di terapi intensif atau sekolah, tetapi oragn tua harus mengimplemlentasikan kemampuan itu dalam kehidupan sehari hari di rumah.
  4. Sangat penting untuk menyeimbangkan antara DTT dan NET karena keduanya memberikan kombinasi yang unik untuk pengajaran bahasa dan sosial. Beberapa contoh sistem belajar yang berguna untuk anak level 2 adalah prakarya, bermain dengan bantuan/prompt, field trip, social games dan kegiatan lain yang biasa dilakukan di pre-school atau sekolah dasar. Tetapi guru dari kelas tentu harus paham bagaimana memperlakukan kemampuan bahasa dan behavior dan anak autis dan telat perkembangannya.
  5. Dari awal intervensi program, harus ada proses integrasi dan interaksi dengan teman sebaya. Tetapi pada level 2, fokus dari intervensi integrasi dan interaksi sosial sudah bisa mengambil porsi yang lebih besar karena anak mulai menguasai konsep berbahasa dan bisa dilatih konsep berbahasa dan perilaku yang lebih advanced.
  6. Kemampuan berbahasa akan sangat berkembang di anak typical diantara usia 2-3 tahun. Anak dengan autis dan terlambat perkembangannya dapat kehilangan kesempatan ini. VB-MAPP didesain untuk memberikan arahan professional dan orangtua melalu beberapa fasa dari perkembangan bahasa dan sosial. Sangat penting untuk konsisten urutan terhadap perkembangan. Jika pindah terlalu cepat sebelum anak mahir kemampuan yang seharusnya diajarkan terlebih dahulu atau menyampingkan analisa yang hati-hati dari VB-MAPP, intervensi dapat menghasilkan hasil yang tidak diinginkan seperti menimbulkan hambatan lain, prompt dependency, rote respoense, dll.

 

Intervensi VB-MAPP Level 3

Anak yang berada di level 3 di VB-MAPP milestones assessment sudah memiliki dasar yang kuat untuk semakin mudah mempelajari bahasa yang lebih advanced, sosial dan instruksi akademik. Level 3 dimulai di usia 30 bulan, dimana anak typical dapat menguasai mand, tact, LR dan belajar kata baru setiap harinya tanpa training. Mand menjadi spontan, sering dan dikontrol oleh motivasi sang anak terutama untuk bertanya tentang informasi. Malahan di anak typical menjadi terlalu banyak mand (terrible two’s). Echoic dan imitasi sudah terbentuk sehingga pengajaran bahasa baru dan kemampuan baru semakin mudah. VP-MTS mulai menunjukkan konsep berpikir yang lebih abstrak dan sebagai jalan membentuk bermacam kemampuan sosial dan akademik. Intraverbal juga bergerak cepat per harinya dan dapat membentuk ribuan koneksi intraverbal. Interaksi sosial dan dengan orang dewasa dan teman sebaya juga memberikan kontribusi beberapa kemampuan baru.

 

Secara garis besar fokus dari intervensi level ini adalah:

  1. Mengembangkan isi dari percakapan sehari-hari untuk pengajaran mand, tact dan LD baru.
  2. Mengembangkan penggunaan kalimat dengan menambahkan kata sifat, kata preposisi tempat, kata ganti orang dan kata keterangan
  3. Mengembangkan kemampuan mand yang lebih kompleks seperti meminta informasi
  4. Mengajarkan advanced intraverbal (bagaimana membicarakan barang dan event yang tidak terlihat)
  5. Mempelajari kemampuan verbal yang sesuai dalam situasi sosial tertentu
  6. Meningkatkan frekuensi dan kompleksitas dari sosial interaksi dengan teman sebaya dan orang dewasa
  7. Mengembangkan kemampuan anak untuk belajar di dalam grup
  8. Perpindahan ke setting pendidikan dari yang khusus ke konsep yang lebih umum
  9. Pengembangan awal dari kemampuan akademik

 

Selain program tersebut harus dilakukan seperti program self-help, motorik halus dan kasar, kemandirian self-help skill, kemampuan mengisi waktu luang, keamanan dan pengurangan problem behavior atau hambatan bahasa dan belajar yang terdeteksi pada anak.

 

CIri-ciri Program Level 3

  1. Anak yang berada di level ini sudah menguasai beberapa kemampuan bahasa yang penting dan kemampuan untuk belajar yang baru. Tetapi anak di level ini sering menunjukkan beberapa hambatan dalam implementasi program, karena level 3 membutuhkan kemampuan linguistik, sosial dan problem behavior (jika ada) level advanced
  2. Karena perkembangan bahasa adalah sesuatu yang kompleks, anak di level 3 dapat terjebak pada kesulitan untuk menguasai kompleks mand dan intraverbal behavior. Konsep ini sulit dikuasai karena antecedent untuk mand dan intraverbal (MO dan complex verbal stimuli) menjadi sangat rumit dan sangat mudah terjebak pada bermacam defective verbal operant, yang tentu mempengaruhi kemampuan interaksi verbal dan sosial anak. Tetapi harus diingat bahwa setiap anak adalah unik sehingga sangat penting untuk mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan anak, hambatan belajar, cara belajar, dll.
  3. Anak yang berada di level 3 mungkin masih membutuhkan intensif intervensi tetapi pengaturannya sudah berbeda dan tidak se-intensif level 1 dan level 2. Keseimbangan antara DTT dan NET training karena keduanya memberikan kontribusi yang unik untuk belajar dan penting dalam pengembangan bahasa dan sosial anak. Intervensi program harus didesain secara hati-hati, tetapi pengajaran 1:1 atau 1:2 semakin sedikit. Sistem pengajaran lebih pada kemampuan akademik, bekerja mandiri, generalisasi, ekspansi kemampuan baru, dan pengembangan yang lain dimana NET dan group teaching dapat digunakan untuk mengembangkan bahasa dan sosial skill yang lain.
  4. Pengembangan advanced mand tidak mudah dilakukan di table top tetapi dapat terjadi di lingkungan alami seperti bermain sosial, aktivitas prakarya, aktivitas dalam grup, istirhahat, di dalam komunitas, di rumah, dll. Adalah anggapan yang salah bahwa anak dengan sendirinya belajar advanced mand, advanced intraverbal dan advanced sosial dengan hanya menempatkan anak di program tersebut, tetapi tanpa pengaturan prosedur pengajaran yang dibutuhkan untuk membangun dan mempertahankan kemampuan ini.
  5. Integrasi adalah salah satu aspek yang penting dalam intervensi program anak level 3, dimana anak diharapkan sudah tidak memiliki masalah perilaku yang parah sehingga waktu dapat dialokasikan pada belajar kemampuan baru. Anak pada level ini, memiliki kemampuan dasar verbal yang kuat, tetapi bisa mendapat keuntungan dari modelling dari teman sebaya untuk lebih mengembangkan kemampuan sosial, mand dan intraverbal. Anak juga sudah dapat mendapatkan keuntungan pada sistem pengajaran dan kurikulum pada kelas atau sekolah umum.

 

Untuk bergabung dengan diskusi ini silahkan add:

  • FB Group: Rury ABA/VB Untuk Autisma
  • Telegram link: https://t.me/joinchat/EPjWgA1eIBgrn7-QLJ37aw
Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.