Melatih Anak Autis di Tempat Umum

Salah satu hal tersulit dari memiliki anak autis adalah menghadapi dunia luar. Terkadang orang tua sudah berat menghadapi kenyataan bahwa anaknya berada di spektrum autis, orang-orang sekitar juga tidak menolong dan memahami, malah membuat orangtua semakin menderita dengan pertanyaan, pernyataan atau tindakan yang tidak perlu sehingga situasipun menjadi tambah sulit. Orangtua harus menghadapi judgment dari orang lain, apakah itu menjelaskan ke orang lain tentang kondisi sang anak supaya mendapatkan permakluman, menghadapi pandangan sinis atau kasihan dari orang sekitar, dll. Beberapa orang memilih untuk terus meninggalkan anak di rumah supaya tidak ada yang merasa terganggu atau malas menghadapi situasi sulit di tempat umum.

Padahal namanya manusia adalah makhluk sosial, walaupun anak autis tidak suka atau lebih suka asik dengan dunianya sendiri, tetapi bagaimanapun dia adalah bagian dari keluarga, dan bagian dari masyarakat. Mau tidak mau, orangtua harus mengajak anak untuk dapat beradaptasi dengan dunia sebenar-benarnya bukan hanya dunia yang anak autis sukai saja dan terbiasa seperti rumah, tempat terapi atau sekolah saja, tetapi juga di mall, taman bermain, terminal, airport, dalam perjalanan, dll. Karena tidak mungkin kita seterusnya mengurung mereka di rumah atau menghindar dari berpergian. Dunia tetap harus berjalan, keluarga tetap harus utuh, kemana-mana sebisa mungkin bersama. Apa anda mau liburan dan meninggalkan anak autis anda di rumah sendirian karena tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan luar yang baru?

Sebelum kita berpikir strategi yuk kita dalami kenapa anak autis tidak nyaman berada di luar suatu lingkungan yang baru atau lingkungan yang terlalu ramai seperti di tempat umum, mall, pasar, terminal, airport, dll. Mari kita selami ada apa di pikiran mereka, mungkin video Carly ini dapat menggambarkan apa yang ada dalam benak mereka. Anak autis memiliki kelainan memproses sensori, mereka tidak dapat memilah-milah sensori yang masuk dari lingkungan, seperti Carly ini. Dia tidak bisa memilah pertanyaan ayahnya ingin minum apa sebagai fokus utama dari bunyi-bunyi lain sebagai background. Mesin kopi yang berbunyi, suara-suara lain di dalam kafe tersebut serta suara ayahnya yang bertanya “Mau coklat hangat atau jus jeruk?” semua terdengar sama kerasnya. Sementara dia sendiri ingin kopi, tetapi karena dia tidak dapat merespons, akhirnya sang ayah memilih untuk membelikan coklat hangat. Rasa frustasi tidak bisa mendapat yang dia inginkan, ditambah lagi sensori berlebihan yang masuk ke dirinya, melihat orang-orang yang melihat sinis kepadanya, suara-suara dentingan gelas, mesin kopi, aliran air dan seruputan saudara kembarnya, semua terdengar saling bersautan dan masuk sebagai fokus utama suara tersebut ke sensori auditori dan penglihatannya. Kondisi jauh berbeda yang dialami saudara kembarnya yang dapat menjawab dan fokus terhadap pertanyaan sang ayah dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Mengerikan bukan? Tidak heran banyak anak autis yang tantrum dan marah-marah jika berada di tempat umum, atau mereka mengeluarkan suara-suara sendiri (stimming) dan berteriak yang dapat menenangkan mereka atas sensori overload yang masuk dari lingkungan. https://www.youtube.com/watch?v=KmDGvquzn2k

Semua anak sebetulnya sama saja. Anak-anak typical pun sama terkadang mereka ingin tahu atau antusias jika diajak bepergian, tetapi mereka bisa bertanya kepada orangtuanya. Kita mau kemana? Ada apa disana? Berapa lama? Kapan kita pulang? Nah bagaiman dengan anak-anak autis yang tidak bisa berkomunikasi? Anak autis suka sesuatu yang rutin karena tidak tahu bagaimana menanyakan situasi di tempat baru. Mereka sudah dapat mengantisipasi apa yang akan terjadi, mereka sudah paham bagaimana keadaan ditempat yang mereka sudah terbiasa datangi. Terkadang hanya sedikit perubahan sudah cukup menciptakan ketakutan yang mendalam dari diri mereka. Sayangnya mereka tidak bisa mengkomunikasikannya, walaupun mungkin anak itu sudah vokal. Contoh jika kita biasa antar sekolah anak dari rumah ke sekolah langsung tanpa mampir kemana-mana padahal hari itu anda harus ke supermarket dulu untuk beli sesuatu keperluan sekolah. Beberapa anak autis ada yang menjadi terganggu dan kuatir apa yang terjadi, karena mereka tidak bisa bertanya, akhinya yang timbul adalah problem behavior sebagai cara mereka komunikasi, menangis, tantrum, banyak stimming, dll.

Jadi orang tua harus mengantisipasi sebelumnya, apa yang akan terjadi dan hadapi. Yang pasti anda harus tenang dalam menghadapi anak yang mengalami problem behavior dan jangan anda merasa malu. Anda adalah orangtua yang baik dan memang kondisi anak anda autis sehingga memiliki perbedaan sensori dari anak biasa. Kalau anda bisa menghadapi behavior anak autis anda di tempat umum, itu berarti anda orangtua yang hebat. Kalau orang lain tidak paham dan memandang aneh, biarkan saja, itu masalah mereka yang kurang ‘piknik’.

Untuk mengurangi kecemasan ini, anda bisa menerangkan kepada anak autis anda menggunakan visual skedul. Anak autis belajar secara visual dan lebih cepat menangkap konsep dengan gambar. Jadi setiap hari, ceritakan hari ini kegiatan dia apa saja secara visual. Pagi sekolah (gambar sekolah), sebelumnya mampir sebentar ke supermarket (gambar supermarket), terapi (gambar terapi), bermain, dll. Visual skedul ini juga bisa di detailkan untuk kegiatan tugas sang anak dirumah seperti contoh terlampir sehingga anda tidak harus berulang-ulang mengingatkan. Walaupun anak anda vokal (tetapi kemampuan bahasa terbatas), visual skedul ini tetap berguna.

Yang anda harus yakini adalah anak autis bisa belajar apa saja. Secara alami mereka tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi sensori berlebihan dari dunia luar, tetapi itu bukannya tidak bisa dilatih. Anak autis bukan tidak bisa belajar, tetapi mereka belajar dengan cara yang berbeda. Kenali pula masalah sensori pada anak anda, apakah anak anda memiliki masalah pada 5 panca indera dan 2 indera tambahan, proprioceptive (hal-hal yang berhubungan dengan posisi tubuh, tekanan dan gerakan) dan vestibular (hal-hal yang berhubungan dengan keseimbangan, gravitasi dan gerakan kepala). Apakah mereka sensitif terhadap suara bising, batuk, tangis bayi, hand dryer di toilet, suka musik atau kebalikannya (auditori); lampu yang terlalu terang atau kebalikannya, sering menutup mata (penglihatan); senang memegang semua barang atau kebalikannya, tidak suka pakai baju dengan bahan tertentu (peraba); suka segala makanan yang berasa atau kebalikannya (perasa); suka segala jenis bau barang atau kebalikannya sangat sensitif dan sering complain tentang hal tersebut (penciuman); suka bermain secara kasar, suka di peluk erat, terkadang agresif dan tidak tau kekuatan diri (proprioceptive); dan senang berayun, memutar, meloncat atau kebalikannya takut ketinggian, tidak suka berayun atau berputar (vestibular). Untuk masalah sensori anak anda, diskusikan dengan terapis okupasi (OT) atau terapis sensori integrasi (SI).

Selain masalah sensori, kenali sifat anak anda. Kenali fungsi dari masalah behaviornya, apakah untuk atensi, mendapatkan sesuatu, menghindari sesuatu atau otomatis sehingga anda dapat menanganinya dengan tepat. Kuncinya adalah dengan tidak memberikan fungsi dari behavior itu, sensori otomatis masalah behavior itu akan turun (Baca http://rurysoeriawinata.com/mengatasi-problem-behavior-pad…/). Tentunya anda juga harus mengajarkan anak cara berkomunikasi (teknik mand) dimana saja termasuk di tempat umum, dengan vokal jika anak bisa bicara atau dengan bahasa isyarat atau gambar (pecs, compic) jika anak belum vokal, sehingga anak tidak perlu melakukan problem behavior untuk mendapatkan keinginannya.

Jika terbukti masalahnya adalah sensori anda bisa melatihnya untuk anak menghadapi masalah tersebut. Tetapi jangan lupa, satu problem behavior bisa jadi terdiri dari beberapa sebab, bisa saja cara anda menghadapi anak anda saat problem behavior terjadi mengakibatkan timbul fungsi yang lain selain karena masalah sensori tersebut. Contoh anak yang awalnya tantrum karena tidak suka dengan suara bising, mungkin senang dengan perhatian berlebihan yang anda berikan jika dia tantrum, akhirnya problem behavior tantrum menjadi fungsi dari atensi. Jadi hati-hatilah dan kenali anak anda sendiri. Jangan lupa reinforcer/reward jika anak berkelakuan baik. Reinforcer/reward diinformasikan di awal, bukan saat anak melakukan problem behavior. Bukan saat menangis baru anda menjanjikan nanti anak dibelikan mainan jika anak diam, itu namanya penyuapan.

Seperti ketrampilan yang lain perlu dilatih berulang-ulang untuk mahir, pergi ke tempat umumpun membutuhkan latihan secara bertahap dan berulang untuk anak autis. Dimulai dengan tempat yang nyaman untuk anak misalnya anak tidak suka pergi ke restoran karena harus duduk tenang dan mendengar musik yang mungkin mengganggu mereka atau suara anak lain yang berisik. Undang beberapa saudara dan teman, makan dirumah di meja makan seperti di restoran. Langkah berikutnya minta saudara atau tetangga untuk mengundang anda sekeluarga untuk latihan di tempat yang dia baru tetapi masih bisa ditolerir jika timbul problem behavior. Jika anak dapat mentolerir, anda bisa tingkatkan di restoran saat sepi, sehingga anak dapat berlatih tanpa terganggu dengan sensori yang terlalu banyak. Demikian seterusnya secara perlahan sampa anak dapat mentolerir saat restoran ramai. Perlu diingat juga, sebelum dapat dilakukan anak harus memiliki kemampuan duduk tenang tanpa problem behavior (lari-lari), bisa menggunakan alat-alat makan sendiri, atau anda dapat menyiapkan mainan, buku, aktivitas lain tergantung usia anak sebagai antisipasi jika anak bosan menunggu makanan. Yang harus diingat bahwa waktu makan adalah waktu makan bukan makan sambil bermain atau bermain sambil makan.

Demikian juga untuk pergi ke pasar atau mall, anda dapat memulai dengan situasi saat pasar atau mall sepi saat baru buka, pelan-pelan anda latih sampai anak dapat mentolerir pasar atau mall saat ramai. Anak juga harus dilatih untuk selalu dapat dekat dengan anda, tanpa berlari-lari yang berlebihan di dalam pasar atau mall sehingga anak anda bisa hilang. Jangan lupa anda perlu melatih bagaimana anak meminta tolong jika dia hilang, ajarkan anak nama ayah, ibu, nomer telfon yang bisa dihubungi, alamat, dll. Ajarkan anak untuk hanya minta tolong pada petugas security, polisi, petugas informasi pasar atau mall bukan bertanya pada sembarang orang. Jika anak belum verbal, anda bisa bekali dia dengan kertas informasi di saku celananya supaya dia bisa berikan ke orang yang berkepentingan jika dia hilang. Kenali bagian-bagian pasar atau mall yang anda duga dapat memberikan sensori berlebihan kepada sang anak, misal dekorasi toko dengan lampu atau suara tertentu, hand dryer atau suara flush di toilet, dll. Pelan-pelan latih anak untuk menghadapi sensori tersebut. Jangan lupa semua ini memerlukan proses, jadi kalau anda sekali dua kali tidak berhasil, ya coba lagi ketiga kali dan seterusnya sampai berhasil. Yakinlah bahwa anda pasti berhasil.

Selain latihan anda juga harus menyiapkan ‘escape plan’. Anda sudah memperhitungkan semua rencana dan resikonya tetapi ternyata tetap anak anda diluar kontrol anda? Tetap tenang, ajarkan anak anda bagaimana dapat menghadapi emosinya sendiri, misal dengan sistem berhitung, pecah kosentrasi emosi anak dengan suruh berhitung, misalnya sampai 10, atau jika anak anda ingin menyerang sesuatu ajarkan selalu untuk “tangan yang baik” atau “berdiri tegak’ di mana anak anda memegang 2 tangannya atau berdiri posisi tegak dan lakukan perhitungan supaya anak anda tidak melukai dirinya sendiri atau orang lain. Perintahkan anak dengan suara tegas tapi datar, tanpa emosi. Atau kalau anak anda dalam posisi benar-benar diluar kendali, biarkan saja, tetapi perhatikan jangan sampai dia melukai dirinya sendiri atau orang lain. Kemudian setelah anak anda sedikit tenang, secepatnya pergi ke kendaraan dan pulang ke rumah. Anda bisa mencobanya di hari lain.

Demikian juga jika anda ingin melatih pergi ke tempat yang mau tidak mau anda harus tinggal lebih lama, misalnya terminal, airport. Pikirkan sensori apa saja yang bisa membuat anak anda overload? Contoh: jika anak hiper dan suka berayun, lari-lari, pikirkan bagaimana anak mendapat kegiatan tersebut sebelum pergi ke terminal, stasiun, airport. Jika anak anda sensitif terhadap bunyi bis, kereta api, pesawat, mungkin anak anda bisa gunakan headphone berisi musik, dll. Jelaskan sebelumnya dengan bantuan gambar (visual skedul) apa saja yang anak anda lakukan saat di tempat tersebut. Siapkan aktivitas favorit untuk anak anda selama menunggu. Jika memungkinkan, ajak anak bepergian disaat dekat waktu tidurnya, lakukan perjalanan di malam hari, sehingga anak tidak terlalu lama menunggu saat dia bangun dan aktif. Jangan lupa berikan reinforcer/reward jika anak dalam waktu tertentu berkelakuan baik.

Satu yang paling penting sebelum mencoba adalah orangtua harus dapat mengontrol sang anak apapun problem behaviornya dan cepat mengambil tindakan tanpa emosi terhadap anak atau reaksi orang sekitar. Sebaiknya ketrampilan ini dilatih sedini mungkin sehingga secara fisik kita masih bisa mengontrol anak, jika diperlukan.

Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.