VB-MAPP Barrier Assessment

*

 

VB-MAPP Barrier Assessment adalah alat assessmen yang di desain untuk mengidentifikasi dan menilai 24 hambatan belajar dan hambatan pembelajaran bahasa yang dapat mempengaruhi perkembangan sang anak. Assessment ini bertujuan untuk menentukan apakah ada hambatan pada diri anak, dan jika ditemukan hambatan yang besar, diharapkan dilakukan deskripsi atau functional analysis dari hambatan tersebut sehingga intervensi program dapat dibuat lebih tepat.

 

Terdapat beberapa kategori dari hambatan yang dapat mempengaruhi pembelajaran sang anak, yaitu:

  1. Memiliki masalah perilaku negatif yang kuat dan terus menerus seperti tantrum, agresif, suka menyakiti diri sendiri.
  2. Verbal operant (mand, tact, echoic, intraverbal) yang tidak ada, lemah atau terganggu seperti echolalia, rote intraverbal (jawaban pertanyaan seperti menghapal).
  3. Gangguan perilaku sosial (motivasi terbatas untuk interaksi sosial atau gangguan mand).
  4. Gangguan hambatan dasar untuk belajar yang harus dianalisa dan diperbaiki, seperti kegagalan untuk generalisasi, motivasi yang lemah, ketergantungan terhadap prompt.
  5. Beberapa masalah perilaku yang menghambat belajar seperti self-stimulation, hiperaktif dan masalah sensori.
  6. Masalah yang berhubungan dengan hambatan fisik atau medis yang harus ditangani, diakomadasi dan diperhitungkan misalnya kejang, adanya penyakit, masalah tidur, masalah penglihatan, cerebal palsy, dll.

 

Intervensi program yang baik harus mengikutsertakan kedua jenis assessment, milestones assessment dan barrier assesment karena semua saling berhubungan. Intervensi mengajarkan kemampuan yang baru atau kemampuan yang harus ditingkatkan seperti mand, tact, bermain dan sosial) dan hambatan masalah perilaku yang harus diturunkan (tantrum, rote intraverbal). Kedua assessment ini saling berhubungan, misalnya ketidakadaan kemampuan (misalnya mand) menimbulkan masalah perilaku (karena tidak dapat mengungkapkan apa yang dia inginkan).

 

Cara Pengisian VB-MAPP Barrier Assessment

VB-MAPP Barrier Assessment menggunakan skala 0-4 sebagai berikut:

  • Nilai 0 : tidak ada masalah berarti dan tidak diperlukan intervensi untuk area tersebut
  • Nilai 1  : masalah kadang terjadi dan harus dimonitor
  • Nilai 2 :  masalah berskala sedang dan pertimbangkan kemungkinan analisa dan intervensi sebelum masalah menjadi semakin buruk
  • Nilai 3 :  masalah yang terus menerus dan membutuhkan analisa masalah perilaku dan program intervensi
  • Nilai 4 : masalah perilaku parah dan sangat membutuhkan analisa masalah perilaku dan program intervensi

 

  1. Negative Behavior (perilaku yang negatif)

Semua anak memiliki perilaku yang negatif di awal perkembangan balita seperti merengek, menangis, tantrum dan agresif. Tetapi perilaku negatif ini berkurang dan diganti dengan perilaku yang bisa diterima seperti penggunaan bahasa dan kemampuan sosialisasi. Jika ada masalah behavior, harus dianalisa apa fungsi dari behavior tersebut, sehingga kita dapat mengurangi masalahnya.

0 : Tidak ada masalah perilaku yang negatif
1 : Terlibat di masalah minor perilaku yang negatif mingguan, tetapi cepat pulih

2 : Terlibat di masalah minor perilaku yang negatif harian seperti menangis, menolak, menjatuhkan diri di lantai.
3 : Terlibat masalah perilaku yang parah setiap hari seperti tantrum, melempar barang, merusak barang-barang.
4 : Sering terlibat masalah perilaku yang parah dan berbahaya untuk dirinya dan orang lain, seperti menyerang, menyakiti diri sendiri.

  1. Instructional Control

Adalah jika guru, orangtua atau terapis menyuruh anak untuk melakukan sesuatu dan anak dapat melakukannya dengan baik. Beberapa anak yang sedang belajar melakukan masalah perilaku untuk menghindar dari tugas, mulai dari yang ringan seperti pura-pura tidak melihat atau tidak respons sampai yang parah seperti agresif dan perilaku yang dapat menyakiti diri sendiri. Walaupun tampilannya berbeda, sudah jelas fungsi dari behavior ini adalah untuk menghindari tugas.

0 : Kooperatif dengan instruksi dan tugas dari orang dewasa.
1 : Beberapa tugas tidak dipatuhi, tetapi cepat pulih

2 : Beberapa tugas tidak dipatuhi dalam sehari, dengan minor tantrum atau minor masalah perilaku yang lain
3 : Beberapa tugas tidak dipatuhi dalam beberapa kali dalam sehari, dengan tantrum yang lebih lama dan masalah perilaku yang lebih parah
4 : Mayoritas tidak patuh dalam satu hari, masalah perilaku parah dan berbahaya

 

  1. Tidak Ada, Lemah atau Gangguan Mand

Tidak ada, lemah atau gangguan mand adalah hambatan yang sangat penting karena manding memberikan beberapa fungsi untuk anak. Jika anak pintar mand, anak dapat menginformasikan orang dewasa apa yang dia inginkan (lapar, haus, dll) dan juga apa yang tidak mereka inginkan (takut, sakit, dll). Interaksi verbal ini memasangkan orang dewasa dengan apa yang anak inginkan akan sangat berharga untuk anak, utamanya anak autis karena akan memposisikan orang dewasa sebagai reinforcer untuk sang anak yang dapat meningkatkan hubungan sosial sang anak dengan orang lain.

0 : Mand berkembang konsisten sesuai dengan milestones yang lain
1 : Ada mand, echoic kuat, tetapi tact dan LD lebih tinggi dari mand.

2 : Mand terbatas pada reinforcer yang habis dipakai meskipun tact, LD dan echoic kuat
3 : Mand terbatas, harus prompt, seperti menghapal, menebak, respons tidak sesuai dengan MO, ada problem behavior sebagai fungsi dari mand, mand yang berlebihan atau tidak sesuai.
4 : Mand tidak efektif, menggunakan negative behavior, problem no 3 terjadi.

 

  1. Tidak Ada, Lemah atau Gangguan Tact

Tact biasanya jarang memiliki ganguan dibanding mand atau intraverbal karena sifat dari variabelnya. Nonverbal stimulus lebih mudah untuk di ukur dan di akses dan secara umum lebih jelas dibanding mand (motivational control) dan intraverbal (verbal stimulus control). Masalah yang mungkin timbul diantaranya jika anak melabel ‘minum jus’ ketika melihat gelas. Beberapa anak memiliki kesulitan untuk melabel sesuatu yang lebih kompleks dan abstrak seperti kata sifat, kata preposisi tempat, kata ganti keterangan, kata ganti orang dan kadar emosi.

0 : Tact berkembang konsisten sesuai dengan milestones yang lain
1 : Ada tact, echoic kuat, LD lebih tinggi dari tact.
2 : Ada tact error, echoic kuat dan LD, tact harus diprompt, menebak dan membutuhkan maintenance
3 : Banyak tact error, echoic dan LD kuat, terjebak pada kata benda dan kata kerja, menghapal labelling, satu kata tact meskipun dapat beberapa kata dalam LD, tidak ada spontanitas, gagal untuk generalisasi
4 : Minimal kemampuan tact meskipun echoic dan LD kuat, gagal dalam pengajaran tact.

 

  1. Tidak Ada, Lemah atau Gangguan Imitasi Motor

Kemampuan imitasi memegang peranan penting dalam perkembangan manusia, terutama pada kemampuan bermain, perkembangan sosial dan kemampuan mandiri. Beberapa anak dengan gangguan autis dan perkembangan mengalami kesulitan dalam membangun imitasi motor.

0 : Kemampuan imitasi motor berkembang konsisten sesuai dengan milestones yang lain
1 : Ada imitasi motor, tetapi angkanya lebih rendah daripada milestones yang lain

2 : Imitasi tidak tergeneralisasi, tidak tepat atau ketergantungan dengan prompt
3 : Imitasi harus diprompt fisik atau verbal, lemah MO untuk imitasi, memiliki kemampuan di area yang lain
4 : Tidak ada kemampuan imitasi atau ada kemampuan imitasi tetapi tidak fungsional

 

  1. Tidak Ada, Lemah atau Gangguan Echoic

Kemampuan anak untuk meng-echo kata-kata adalah salah satu pengukuran yang penting untuk potensi pengembangan bahasa, karena lebih mudah untuk men-transfer echoic ke mand, tact atau intraverbal menggunakan prosedur transfer stimulus control. Ketidakmampuan echoic akan menghasilkan hambatan besar dalam perkembangan bahasa sang anak. Tetapi jika kemampuan echoic terlalu besar akan menjadi hambatan pula seperti adanya echolalia dan scripting.

0 : Kemampuan echoic berkembang konsisten sesuai dengan milestones yang lain
1 : Ada echoic, tetapi imitasi motor lebih besar daripada echoic

2 : Bergantung pada prompt echoic, transfer dari echoic sulit, gagal untuk generalisasi kemampuan echoic
3 : Echolalia atau delayed echolalia, membutuhkan training yang lama untuk menghasilkan echoic yang baru
4 : Tidak ada kemampuan echoic, tetapi ada kemampuan yang lain, menggunakan bahasa isyarat, PECS, training echoic dapat menimbulkan negative behavior.

 

  1. Tidak Ada, Lemah atau Gangguan Persepsi Visual dan Menyamakan (VP-MTS)

Kemampuan untuk atensi dan diskriminasi visual stimuli adalah salah satu komponen untuk IQ test. Sangat umum bahwa anak yang terlambat perkembangan bahasanya memiliki kemampuan VP-MTS yang baik terutama menyamakan. Tetapi ada beberapa anak yang memiliki kesulitan dalam mengerjakan tugas ini, karena mereka mereka memiliki kekurangan di atensi pada satu visual stimulus, scan barisan visual stimuli dan memilih barang yang sesuai dengan kriteria, yang melibatkan banyak stimulus kontrol.

0 : Kemampuan VP-MTS berkembang konsisten sesuai dengan milestones yang lain
1 : Ada menyamakan, tetapi nilainya lebih rendah dari milestones yang lain, terutama nilai LD
2 : Menyamakan error karena menebak, posisi barang, scan yang lemah atau memilih yang terakhir direinforce saja.
3 : Negative behavior selama MTS, tidak ada generalisasi, hanya dapat scan sedikit barisan, masalah dengan stimuli yang mirip
4 : Tidak ada kemampuan menyamakan, tetapi memiliki kemampuan yang lain, kegagalan dalam melatih MTS, melarikan diri atau menghindari tugas terjadi.

 

  1. Tidak Ada, Lemah atau Gangguan Listener Repertoire (LD dan LRFFC)

Ada 3 kemampuan utama dalam listener repertoire yaitu atensi kepada orang yang berbicara yang membutuhkan kontak mata, fokus kepada orang tersebut dan apa yang dikatakannya; reinforce orang yang berbicara yaitu dengan anggukan, respons; serta menunjukkan pemahaman apa yang dikatakan orang lain atau listener discrimination atau bahasa recpetive.

0 : Kemampuan Listener Repertoire berkembang konsisten sesuai dengan milestones yang lain
1 : Ada LD, tetapi nilainya lebih rendah dari milestones yang lain, terutama nilai tact.
2 : LD error karena menebak, posisi barang, scan yang lemah atau memilih yang terakhir direinforce saja.
3 : Negative behavior selama MTS, tidak ada generalisasi, hanya dapat scan sedikit barisan, masalah dengan stimuli yang mirip
4 : Tidak ada kemampuan LD, tetapi memiliki kemampuan yang lain, kegagalan dalam melatih LD, melarikan diri atau menghindari tugas terjadi.

 

  1. Tidak ada, Lemah atau Gangguan Intraverbal

Intraverbal adalah verbal operant yang paling kompleks untuk diajarkan dan cenderung menjadi gangguan dalam anak autis atau atau gangguan perkembangan lainnya. Meskipun anak sudah mahir ratusan tact tetapi mengalami kesulitan dalam menjawab intraverbal sederhana seperti siapa namamu? Tidak seperti tact, echoic dan LD yang memiliki hubungan konsisten antara stimulus dan respons, intraverbal memiliki antecedent yang selalu berubah.

0 : Intraverbal berkembang konsisten sesuai dengan milestones yang lain
1 : Ada intraverbal, tetapi nilainya lebih rendah dari milestones yang lain, terutama nilai LD dan LRFFC
2 : Intraverbal error menghafal, menebak, tergantung prompt, tidak spotan dan echolalia
3 : Perkembangan terbatas dalam training intraverbal, sering error, menghafal, cepat terlupakan, tidak generalisasi, tidak ada intraverbal behavior dengan teman sebaya, tetapi memiliki mand, tact dan kemampuan LD
4 : Tidak ada intraverbal yang fungsional, atau hanya kuat menghafal, meskipun ada mand, tact dan kemampuan LD

 

  1. Tidak Ada Lemah atau Gangguan Kemampuan Sosial

Beberapa anak autis cukup sosial dan dapat direinforce oleh interaksi sosial, tetapi mereka mungkin kesulitan dalam belajar sosial behavior yang tepat dan memiliki bermacam gangguan sosial. Kemampuan sosial di anak autis mengalami gangguan karena kemampuan ini cukup kompleks dan terdiri dari beberapa kemampuan berbeda. Aturan sosialpun sangat samar dan selalu berubah. Apa yang diterima di satu tempat belum tentu diterima ditempat lain. Lebih kompleksnya lagi, ke 23 point hambatan yang lain dapat mempengaruhi kemampuan sosial sang anak.

0 : Kemampuan sosial sesuai umurnya dan berkembang konsisten sesuai dengan milestones yang lain
1 : Ada kemampuan sosial, tetapi tertinggal dari milestones yang lain
2 : Dapat melakukan bermain parallel, tetapi tidak memulai interaksi sosial, jarang imitasi atau mand ke teman
3 : Tidak bermain bergantian atau berbagi, tidak respons terhadap mand dari teman sebaya atau bermain dengan teman, tidak terlibat di dalam sosial atau bermain imajinasi dengan teman padahal memiliki kemampuan bahasa
4 : Mayoritas bermain sendirian, tidak melakukan interaksi verbal atau non-verbal dengan temannya, kemampuan lain mungkin tinggi

 

  1. Ketergantungan Prompt

Prompt adalah petunjuk yang membantu seseorang untuk menjawab atau melakukan behavior dengan benar. Prompt adalah tool yang penting dalam mengajarkan anak, tetapi jika tidak dilakukan secara benar, anak menjadi tergantung terhadap prompt. Seharusnya prompt di kurangi secara sistematis sampai sang anak tidak memerlukan prompt lagi untuk mahir menguasi kemampuan baru.

0 : Konsisten dalam belajar skills baru dan tidak ada tanda ketergantungan prompt
1 : Memerlukan beberapa trial untuk mengurangi prompt, tetapi transfer control biasanya sukses.
2 : Beberapa skills tergantung pada prompt seperti intraverbal, behavior sosial dan LD
3 : Biasanya sulit untuk mengurangi prompt, mereka biasanya sulit dan kemampuan verbal terbatas
4 : Prompt sangat sulit untuk di kurangi, mayoritas dari kemampuan tergantung prompt seperti echoic, imitasi dan prompt verbal.

 

  1. Respons Scrolling (Menebak)

Salah satu masalah yang umum terjadi pada anak yang baru belajar bahasa adalah kecdenderungan untuk menebak jawaban dengan menjawab beberapa kata (atau bahasa isyarat atau pecs) yang di reinforce dari sesi sebelumnya atau dalam verbal operant class yang sama. Penyebab dari scrolling adalah responsnya tidak dibawa ke dalam kontrol stimulus yang benar sehingga anak tidak paham mana jawaban yang benar dan akhirnya menebak-nebak.

0 : Tidak ada scrolling
1 : Terkadang scrolling ketika kata baru ditambah, tetapi scrolling stop setelah beberapa trial
2 : Scrolling sering terjadi, membutuhkan beberapa trial untuk stop tetapi banyak belajar kata baru
3 : Scrolling terjadi termasuk dengan kata yang diajarkan sebelumnya, terjadi di (atau semua) mand, tact, LD dan intraverbal tetapi tidak di echoic atau imitasi, sangat sedikit belajar kata baru
4 : Scrolling terjadi dalam semua trial, gagal berusaha untuk men-stop scrolling.

 

  1. Gangguan Kemampuan Scanning

Ada 3 kemampuan yang membutuhkan anak untuk scan barisan visual yaitu menyamakan, LD dan LRFFC. Kemampuan untuk memilih jawaban yang benar tidak akan berhasil jika anak tidak dapat men- scan barisan visual. Beberapa anak gagal memiliki kemampuan scanning karena terbiasa menjawab dengan 1 posisi (selalu kanan atau kiri jawaban benar), bergantung terhadap prompt dari gerakan mata, ekspresi wajah, posisi tangan, penempatan kartu oleh terapis.

0 : Biasa scan barisan jika tugas membutuhkan scanning
1 : Barisan kartu yang banyak dengan stimuli yang mirip dapat menyebakan masalah scanning, tetapi benar setelah 2 kali dicoba.
2 : Scanning lemah, sering membutuhkan prompt, terbatas pada barisan 5 kartu atau kurang
3 : Scanning terbatas pada barisan 2 atau 3 kartu, respons bergantung prompt, lemah di MTS, LD dan LRFFC
4 : Tidak scan barisan, respons sebelum scanning, scanning menyebabkan negative behavior jika ditanyakan

 

  1. Kegagalan untuk Conditional Discrimination

Conditional Discrimination melibatkan beberapa controlled response yang saling berhubungan, dimana keefektifan dari respons tergantung dengan yang lain. Contohnya dalam LD, tugas verbal stimulus ‘bola’ menimbulkan nonverbal stimulus melihat bola dalam barisan kartu yang merupakan SD untuk memilih jawaban ‘bola’. Atau yang lebih kompleks yang melibatkan tugas yang lebih kompleks seperti “Temukan binatang yang besar!” “Manakah yang merupakan buah berwarna merah?”

0 : Conditional discrimination seimbang dengan milestone yang lain
1 : Memiliki masalah ketika conditional discrimination membutuhkan usaha yang lebh berat (barisan yang besar, banyak setting dan stimuli yang mirip)
2 : Perkembangan yang terbatas untuk tugas yang melibatkan conditional discriminataion (LD, LRFFC, IV), tetapi perkembangan baik di area yang lain
3 : Kegagalan hampir di semua tugas yang melibatkan CD (kecuali MTS), ada negative behavior, gagal dalam mencoba.
4 : Tidak ada CD, tetapi dapat melakukan diskriminasi sederhana (satu mand, tact, imitasi).

 

  1. Kegagalan Untuk Generalisasi

Masalah yang umum dalam pembelajaran keterlambatan bahasa yang dialami anak autis adalah mahir belajar sesuatu yang diajarkan tetapi gagal untuk men-generalisasi kemampuan tersebut di lingkungan baru atau gagal memberikan variasi dari respons mereka. Generalisasi harus terjadi di semua kemampuan 16 VB-MAPP assessment. Maka pentingnya men-desain program sehingga anak dapat men-generalisasi respons di berbagai setting dan juga dengan menjawab pertanyaan dari beberapa orang. Ada 2 jenis generalisasi yaitu stimulus generalisasi dan respons generalisasi. Stimulus generalisasi adalah respons dibawah 1 kondisi stimulus dan tanpa training lagi sudah bisa merespons hal yang sama di bawah kondisi stimulus yang lain. Contoh: anak tact bola jika ditanya ibu dan menjawab bola juga jika ditanya gurunya (berbeda orang, tempat). Respons generalisasi adalah anak belajar 1 respons dibawah kontrol 1 stimulus, tetapi dapat untuk memberikan respons yang lain yang sesuai dengan stimulus yang sama. Contoh: Jika ditanyakan jenis binatang, kucing adalah binatang dan kelinci pun merupakan jawaban yang benar.

0 : Mampu melakukan kedua stimulus dan respons generalisasi di level yang sama dengan kemampuan yang lain
1 : Memiliki beberapa kesulitan dengan stimulus generalisasi atau generalisasi beberapa kemampuan
2 : Membutuhkan latihan generalisasi yang formal hampir disemua kemampuan, tetapi bisa menangkap konsepnya.
3 : Membutuhkan latihan yang banyak untuk semua kemampuan, terkadang kemampuan generalisasi terhambat
4 : Tidak mampu generalisasi selain tugas yang paling sederhana, menjawab hapalan dan perkembangan lambat.

 

  1. Lemah Atau Motivating Operation (MO) Yang Tidak Normal

Motivasi adalah sesuatu yang menyebabkan manusia berbeda satu sama lain. Semua manusia terlahir memiliki motivasi yang tidak dipelajari (unlearned motivator) seperti lapar, haus, oksigen, ingin kehangatan atau penghilangan rasa sakit, tetapi kemudian ini berubah dan menjadi lebih luas dengan motivation yang dipelajari (learned motivator) yang unik untuk setiap orang. Anak mulai senang termotivasi dengan berbagai mancam mainan. Sayangnya anak autis tidak tertarik dengan motivasi yang dipelajari ini, malahan mereka tertarik melakukan hal-hal yang tidak biasa seperti stimming, membuat patter tertentu, dll. Motivasi adalah penting untuk mengajarkan sesuatu karena ada hubungannya dengan konsep reinforcement. Orang tua dan terapis harus menciptakan reinforcer yang memotivasi anak untuk belajar.

0 : Menunjukkan berbagai macam MO sesuai usianya
1 : Orang dewasa mulai memperhatikan motivasi berbeda dengan anak sebaya
2 : MO untuk behavior yang tidak umum, lemah MO yang sesuai umur, lemah MO sosial
3 : MO yang menyimpang untuk reinforcer yang tidak dipelajari, nilai dari MO cepat turun, stimming kuat
4 : MO yang terbatas, MO aneh yang sangat kuat, sangat sedikit MO sesuai umur

 

  1. Response Requirement Weakens dalam MO

Hal umum yang dialami oleh orangtua dan terapis adalah anak cepat hilang ketertarikan anak dengan sebuah reinforcer ketika anak harus mengerjakan tugas untuk mendapatkan reinforcer tersebut. Diawal terapi karena diberi secara gratis anak senang, tetapi begitu diberikan tugas anak kurang tertarik karena buat mereka reinforcer itu kurang menarik sebagai imbalan suatu tugas berat atau mungkin anak sudah jenuh dengan reinforcer tersebut.

0 : Tidak hilang ketertarikan dengan reinforcer ketika tugas sesuai
1 : Menunujukkan hilang ketertarikan jika tugas agak sulit
2 : Memiliki MO yang kuat, tetapi hanya melakukan sedikit respons, kemudian hilang kertarikan terhadap reinforcer
3 : Cepat menunjukkan hilang ketertarikan setelah memberikan beberapa respons
4 : Pergi dari reinforcer yang paling dia sukai jika tugas diberikan

 

  1. Ketergantungan Terhadap Reinforcement

Reinforcement yang kontinu dang langsung dari respons yang benar adalah alat yang paling ampuh untuk mempelajari kemampuan baru, tetapi reinforcement yang berselang seling (intermittent) baik untuk memepertahankan kontrol terhadap respons karena reinforcer tidak selalu ada dalam lingkungan alami. Pelan-pelan reinforcer harus dikurangi mengikuti variable ratio schedule of reinforcement (VR 3 misalnya reinforcer diberikan setiap rata-rata 3 jawaban benar, bisa 4 bisa 5 bisa 3 tapi rata-rata 3). Pelan-pelan reinforcer yang tadinya berbentuk barang (makanan, mainan) diubah menjadi reinforcer yang alami seperti sosial dan verbal reinforcement, dengan pemberian reinforcer yang bervariasi skedulnya dan menjadi semakin jarang, dan akhirnya anak dapat dan mau menjawab tanpa reinforcer.

0 : Tidak ada masalah pindah dari reinforcement berselang seling ke sosial atau verbal reinforcer
1 : Memiliki kesulitan untuk pindah ke sosial atau reinforcer berselang, tetapi akhirnya bisa
2 : Masih membutuhkan reinforcer yang bisa dimakan dan terukur dalam skedul reinforcer yang berselang
3 : Sulit untuk bekerja dengan sang anak tanpa pemberian banyak reinforcer dan masih menggunakan reinforcer yang berbentuk dimakan atau barang, memiliki problem behavior lari dan menghindar
4 : Bergantung pada reinforcer yang bisa dimakan dan barang dan harus di berikan setiap respons supaya anak mau belajar

 

  1. Stimulasi Diri (Stimming)

Anak dengan autisme memiliki perilaku stimulasi diri atau stereotypi yang biasa dikenal dengan stimming, contohnya, flapping hand, rocking, membariskan mainan, merobek kertas, memandang bentuk, ujung, huruf, angka, dll. Perilaku ini sulit distop karena menyenangkan buat sang anak atau biasa disebut automatic reinforcement. Perilaku ini tidak ada hubungannya dengan satu tugas tertentu dan merupakan reinforcement bebas sehingga behavior ini kuat pada anak-anak yang kurang kemampuan verbal dan sosialnya. Buat mereka, kegiatan ini sangat menarik sehingga mereka tidak tertarik untuk mempelajari kegiatan lain yang bermakna. Malahan reinforcer yang umumnya menarik untuk anak seusianya, tidak menarik buat mereka.

0 : Tidak memiliki masalah stimulasi diri atau behavior yang berulang
1 : Terlibat dalam stimulasi diri tetapi tidak mengganggu aktivitas lain
2 : Terlibat dalam stimulasi diri yang relatif tinggi tetapi terkadang mengganggu aktivitas yang lain
3 : Terlibat dalam stimulasi diri yang tinggi dan mengganggu belajar dan aktivitas sosial
4 : Hampir selalu terlibat dalam stimulasi diri yang tinggi, sementara reinforcer lain sangat lemah

 

  1. Masalah Artikulasi

Beberapa anak memiliki masalah artikulasi, beberapa dari mereka memerlukan alat bantu komunikasi seperti bahasa isyarat atau PECS jika diperlukan. Alat bantu ini jika digunakan dengan tepat dapat membantu mengajarkan kemampuan berbahasa, dan mengurangi masalah behavior dan meningkatkan masalah artikulasi. Jika ada masalah dalam artikulasi sebaiknya anak dirujuk ke terapi wicara.

0 : Orang dewasa dapat paham dengan yang diucapkan anak
1 : Beberapa kata sulit dicuapkan tetapi biasanya dapat dimengerti oleh orang dewasa dan artikulasi mengalami perbaikan
2 : Agak sulit dimengerti oleh orang baru, padahal sanga anak mayoritas ada di level 2 VB-MAPP milestone.
3 : Sangat terbatas dalam kemampuan vokal dan memiliki banyak artikulasi error
4 : Non-vokal atau kata yang sulit dimengerti meskipun nilai di milestone lain meningkat

 

  1. Obsessive-Compulsive Behavior

Beberapa anak dengan autisme terobsesi dengan beberapa aspek dari lingkungan, seperti baju, tekstur, rutinitas dan pattern. Obsesi ini akan menjadi masalah jika menghambat belajar dan dapat memperlemah MO dan reinforcer. Contoh anak terbiasa dengan rutinitas pergi ke tempat terapi, jika rutinitas berubah akan tantrum. Atau anak terbiasa dengan kelas terapi yang satu, begitu dipindah ke kelas yang lain akan tantrum.

0 : Tidak memperlihatkan obsessive behavior yang dapat menghambat belajar
1 : Memiliki sedikit obsesi tetapi biasanya dapat diselesaikan dan tidak menghambat belajar
2 : Beberapa obsesi menghasilkan perilaku negatif jika tidak tercapai, tetapi biasanya patuh dan berpartisipasi dalam tugas tanpa gangguan lebih lanjut
3 : Beberapa obsesi menghasilkan perilaku negatif, dan anak tidak patuh jika tidak melakukan obsesi dan belajar akan terganggu
4 : Obsesi sangat kuat dan menjadi fokus setiap harinya, dapat menghabiskan waktu yang tidak sedikit, perilaku negatif parah jika tidak tercapai dan biasanya belajar akan terganggu.

 

  1. Perilaku Hiperaktif

Beberapa anak autis juga didiagnosa dengan ADHD (attention deficit hyperactive disorder). Anak ini terlibat dengan banyak kegiatan yang bersifat motor behavior seperti lari-lari, manjat, gelisah, sulit bermain dengan tenang, dan selalu terlihat ‘on the go’. Mereka juga memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi dngan akademik, menyelesaikan tugas dan kemandirian atau terlibat dengan tugas yang harus dia selesaikan. Perilaku ini mempengaruhi pembelajaran bahasa dan perkembangan sosial, apalagi jika anak juga terdiagnosa autis.

0 : Tidak hiperaktif secara berlebihan dibandingkan teman sebaya, atau mengerjakan tugas tanpa kesulitan
1 : Sesekali terlibat perilaku hiperaktif atau gagal untuk fokus, tetapi perilaku tidak mengganggu belajar atau kegiatan sehari-hari
2 : Sering bergerak di lingkungan, gelisah, kesulitan fokus di tugas, belajar terganggu
3 : Sering sulit mengontrol perilaku hiperaktif, tidak mau menungu di barisan, duduk tenang atau mengerjakan tugas panjang lebih dari beberapa menit, sering memerlukan prompting untuk diam
4 : Selalu ‘on the go’, gelisah, impulsive, memanjat atau loncat di furniture, mungkin bicara terlalu banyak, sulit konsenterasi terhadap akademik dan aktivitas sosial, belajar sangat terganggu

 

  1. Kegagalan untuk Melakukan Kontak Mata atau Atensi ke Orang

Bayi dan balita belajar komunikasi dengan orang lain menggunakan kontak mata untuk mendapatkan perhatian (mand) diikuti dengan gerakan tubuh dan akhirnya terjadi komunikasi behavior yang diinginkan. Kontak mata merupakan awal dari pertukaran sosial komunikasi pembicara dan pendengar. Anak dengan autis banyak yang tidak melakukan kontak mata padahal kontak mata adalah kemampuan yang penting untuk mendapatkan informasi dari muka dan mata seseorang.

0 : Memilik kontak mata sesuai dengan umurnya dan atensi ke orang lain
1 : Orang dewasa mulai melihat bahwa kontak mata berbeda dari anak lain
2 : Tidak memilik kontak mata yang sering, atau atensi ke muka atau orang lain seperti anak yang lain
3 : Tidak ada kontak mata saat manding, sulit untuk mendapatkan kontak mata, biasanya akan melihat keluar ketika berbicara dengan orang lain, atensi lebih ke obyek dibanding ke orang.
4 : Hampir selalu tidak ada kontak mata, menghindari orang, padahal memiliki kemampuan verbal

 

  1. Masalah Sensori

Anak dengan autisme memiliki hipersensitif terhadap berbagai macam stimulasi sensori yang masuk ke panca inderanya. Anak yang sensitif terhadap suara akan sering menutup kupingnya dengan tangan, demikian juga anak yang sensitif tactilenya dan tidak suka dengan bajunya akan sibuk melepaskan bajunya yang tentunya akan mengganggu proses belajar. Analisa sensori dari sang anak sangat penting untuk keberhasilan intervensi.

0 : Tidak ada masalah dengan sensori

1 : Orang dewasa mulai melihat bahwa anak sensitif terhadap beberapa sensori stimuli dibanding anak lain
2 : Beberapa stimulasi sensori mempengaruhi sang anak, tetapi pengaruhnya kecil dan tidak mengganggu aktivitas belajar
3 : Sering bereaksi terhadap spsesifik sensori stimuli dengan menghindari tugas seperti tangan menutupi kuping, menutup mata atau menjadi gelisah
4 : Secara konstan bereaksi terhadap spesifik sensori stimuli dengan perilaku negatif seperti tantrum, agresif, kehadiaran spesifik sensori stimuli bersaing dengan aktivitas belajar.

 

Untuk bergabung dengan diskusi ini silahkan add:

  • FB Group: Rury ABA/VB Untuk Autisma
  • Telegram link: https://t.me/joinchat/EPjWgA1eIBgrn7-QLJ37aw

 

Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.