VB-MAPP Transition Assessment

*

*

*

VB-MAPP Transistion Assessment di desain untuk memberikan evaluasi obyektif untuk kemampuan umum dan kemampuan belajar yang ada pada anak. Ada 18 area yang diidentifikasi untuk dapat membantu guru, terapis dan orangtua membuat keputusan dan menentukan prioritas dari pendidikan sang anak. Salah satu tujuan yang umum ingin dilakukan oleh guru, terapis dan orangtua adalah transisi sang anak dari program yang intensif (terapi intensif) ke sekolah umum melalui program integrasi (paruh waktu) atau inklusi program. Terkadang penempatan ini tidak berdasarkan bukti yang menunjang tetapi berdasarkan kepercayaan sendiri, emosi atau faktor ekonomi dibanding yang terbaik untuk sang anak. Kebalikannya anak yang terlalu lama didalam situasi intensif terapi dan sudah siap ke lingkungan yang lebih luas, tentu akan lebih tepat jika ditempatkan di sekolah umum untuk mengembangkan kemampuan belajar dalam grup dan meningkatkan kemampuan sosialnya.

Menurut VB-MAPP Transition Assessment, ada 3 kategori kemampuan yang menentukan dalam penempatan tempat pendidikan anak, yang meliputi 18 point penilaian:

  1. Kategori pertama meliputi kemampuan berbahasa anak, sosial anak, mandiri dalam mengerjakan tugas akademik dan potensi hambatan dalam belajar berbahasa sang anak yang dapat mempengaruhi belajar dalam lingkungan yang terbatas.
  2. Kategori kedua meliputi gaya bejalar sang anak untuk menguasai suatu kemampuan
  3. Kategori ketiga meliputi kemandirian untuk mengurus diri sendiri, spontanitas dan kemandirian sang anak.

 

Cara Penilaian VB-MAPP Transition Assessment

Assessor menilai setiap point transition assessment dalam skala 1-5 sesuai kriteria yang ditetapkan pada setiap pointnya, yang kemudian dapat ditransfer ke dalam form scoring. Jika anak secara umum berada di point 0-2, maka anak sebaiknya berada dalam kelas yang memberikan rasio besar terhadap guru-murid dan memerlukan pengajaran yang intensif dan individu, metodologi behavior yang efektif dan pengukuran keberhasilan, supervisi yang regular dan monitoring yang efektif dari professional, atau dengan kata lain masih memerlukan terapi intensif. Jika anak secara umum berada di point 4-5, anak akan lebih bermanfaat jika berada di dalam kelas umum dengan sistem pengajaran yang mendekati anak normal, tetapi tetap dengan pendekatan metodologi behavior dan pengukuran keberhasilan. Penempatan anak tergantung dari keputusan bersama tim dan dengan tujuan utama anak dapat mengambil manfaat terbesar dari penempatan tersebut.

  1. Nilai VB-MAPP Milestones Assessment

Jika anak sudah memiliki level bahasa yang sampai tahap komprehensif, tentu ini adalah model ideal anak ditempatkan di sekolah umum, dimana anak sudah memiliki modal untuk berbahasa yang setara dengan teman-teman sebaya di kelas, sehingga anak dapat belajar hal-hal yang lain seperti interaksi sosial, hubungan pertemanan, dll. Tetapi jika kemampuan berbahasa anak jauh dibawah teman-temannya, kecil kemungkinan dia dapat belajar langsung dari teman-temannya.

Kemampuan umum dari nilai VB-MAPP milestone assessment merupakan dasar dari membuat keputusan mengenai penempatan sang anak.

  • Level 1
    Anak yang berada di level 1 masih memerlukan instensif dan spesialiasi dalam program intervensinya. Progam ini bisa dilakukan di rumah, tempat terapi (atau sekolah khusus) atau kombinasi keduanya. Ada baiknya untuk belajar disaat terbaik belajar, misal untuk anak dibawah 5 tahun, belajar terbaik adalah di pagi hari dimana anak mungkin masih memerlukan tidur siang pada siang hari. Interaksi dengan teman-teman untuk saat ini bukan prioritas, tetapi bisa dikenalkan dalam situasi yang lebih santai seperti bermain di tempat bermain, taman, play date.
  • Level 2
    Anak yang berada di level 2 menunjukkan bahwa anak memiliki kemampuan dasar untuk mand, tact, kemampuan mendengarkan dan dapat belajar kemampuan baru dengan lebih cepat. Anak sudah mulai dapat mengikuti belajar dalam grup, belajar secara alami (seperti aktivitas prakarya, permainan, music, dan aktivitas lain) dan mulai fokus di verbal interaksi dengan teman sebaya. Tetapi, sistem pengajaran dalam level 2 yang ideal masih dalam bentuk struktur dan intensif pengajaran (high ratio teaching format) karena masih banyak kemampuan bahasa dan sosial yang perlu dipelajari seperti kata ganti preposisi, kata sifat, intraverbal, kemampuan sosial dan bermain, dll.
  • Level 3
    Anak yang berada di level 3 tidak hanya mereka sudah memiliki semua kemampuan dasar berbahasa dan sosial, mereka juga sudah dapat menunjukkan kemampuan mahir di mand, tact, intraverbal dan juga sudah bisa memberikan komentar spontan di lingkungan yang tentunya merupakan tonggak penting bahwa anak memiliki dasar kemampuan berbahasa dan siap untuk belajar akademik dan penempatan sosial di sekolah umum.

1: Nilai 0-25 pada Milestones Assessment
2: Nilai 26-50 pada Milestones Assessment
3: Nilai 51-100 pada Milestones Assessment
4. Nilai 101-135 pada Milestones Assessment
5: Nilai 136-170 pada Milestones Assessment

  1. Nilai VB-MAPP Barrier Assessment

Barrier Assessment di desain untuk mengidentifikasi hambatan bahasa dan belajar yang mempengaruhi kemampuan untuk mempelajari kemampuan baru. Hambatan ini harus dikurangi atau dihilangkan yang terkadang merupakan bagian utama dari intervensi sehari-hari (ketergantungan terhadap prompt, masalah perilaku, stimulasi diri sendiri, hiperaktif dan tidak patuh). Seringnya hambatan ini merupakan halangan dari sang anak untuk bergabung di sekolah umum.

1: Nilai 56-96 pada Barriers Assessment
2: Nilai 31-55 pada Barriers Assessment
3: Nilai 21-30pada Barriers Assessment
4. Nilai 11-20 pada Barriers Assessment
5: Nilai 0-10 pada Barriers Assessment

  1. VB-MAPP Barrier Assessment pada Masalah Perilaku dan Instructional Control

Masalah perilaku seperti berteriak, agresif, suka merusak barang dan menolak untuk partisipasi dalam aktivitas akan membatasi anak untuk sukses di sekolah umum. Masalah ini akan menyebabkan anak sulit untuk belajar, dan juga bisa merupakan masalah keamanan bagi anak lain di dalam kelas. Terkadang anak yang tantrum dikelas, mau tidak mau dikeluarkan oleh guru karena mengganggu kelas atau mungkin bisa melukai anak lain, tetapi tentu ini bukan penyelesaian yang tepat jika fungsi dari anak ini adalah menghindari tugas. Sehingga penempatan yang terlalu cepat untuk anak ini akan mengganggu program jangka panjang sang anak.

1: Nilai total 6 atau 7 pada negative behavior dan instructional control pada Barrier Assessment
2: Nilai total 5 pada negative behavior dan instructional control pada Barrier Assessment
3: Nilai total 3 atau 4 pada negative behavior dan instructional control pada Barrier Assessment
4. Nilai total 2 pada negative behavior dan instructional control pada Barrier Assessment
5: Anak tidak memiliki masalah perilaku, nilai 0 atau 1 pada Barrier Assessment

  1. VB-MAPP Milestones Assessment pada Rutinitas Kelas dan Kemampuan dalam Grup

Jika anak masih memerlukan prompting dan reinforcement yang ekstensif untuk transisi dan partipasi dalam aktivitas kelas sehari-hari, makan anak masih harus selalu dalam pengawasan guru. Anak yang baru belajar dan berada di level 1 atau awal level 2 masih akan belajar jika berada di lingkungan yang memerlukan ratio 1:1 guru dan murid. Dan sebaliknya, jika anak sudah mulai dapat belajar sedikit mandiri, anak sudah bisa ditempatkan di lingkungan belajar dalam grup atau yang lebih luas.

1: Nilai total 2 pada rutinitas kelas dan kemampuan dalam grup di Milestones Assessment
2: Nilai total 3-4 pada rutinitas kelas dan kemampuan dalam grup di Milestones Assessment
3: Nilai total 5-7 pada rutinitas kelas dan kemampuan dalam grup di Milestones Assessment
4: Nilai total 8-9 pada rutinitas kelas dan kemampuan dalam grup di Milestones Assessment
5: Nilai total 10 pada rutinitas kelas dan kemampuan dalam grup di Milestones Assessment

  1. VB-MAPP Milestones Assessment pada Perilaku Sosial dan Bermain Sosial

Banyak sekali kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sosial di dalam kelas yang tidak bisa dilakukan di rumah, tetapi sampai mana anak dapat memanfaatkan kesempatan ini harus diperhitungkan oleh pihak yang terlibat. Secara umum penempatan yang tepat adalah anak tidak berada di atas atau dibawah kemampuan sosial dari teman-teman di kelasnya. Contohnya anak yang tidak bisa mand ke teman, tidak imitasi perilaku temannya, tidak merespons secara intraverbal ke temannya tentu menjadi terisolasi dan kurang mendapatkan manfaat dari sekolah umum. Sementara kebalikannya, anak yang sangat tertarik pada teman, dan memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan mand, intraverbal, imitasi dan lain-lain terhadap temannya tentu penempatan terapi hanya dirumah saja kurang tepat.

1: Nilai total 2 atau 3 pada kemampuan sosial dan bermain sosial di Milestones Assessment
2: Nilai total 4 atau 5 pada kemampuan sosial dan bermain sosial di Milestones Assessment
3: Nilai total 6 atau 9 pada kemampuan sosial dan bermain sosial di Milestones Assessment
4: Nilai total 10 atau 12 pada kemampuan sosial dan bermain sosial di Milestones Assessment
5: Nilai total 13 atau 15 pada kemampuan sosial dan bermain sosial di Milestones Assessment

  1. Bekerja Mandiri dalam Tugas Akademik

Komponen utama dalam sekolah umum adalah kemampuan anak untuk mandiri dalam mengerjakan tugas akademik seperti menyelesaikan lembar kerja, partisipasi dalam proyek grup, membaca dengan tenang, dll. Dalam kegiatan ini, anak diharapkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut tanpa prompting dari guru untuk selalu fokus pada tugas dan tidak melakukan behavior yang mengganggu, serta dapat menunggu jika membutuhkan pertolongan.

1: Mengerjakan tugas akademik secara mandiri paling tidak 30 detik dengan prompt maksimal 1 kali dari orang dewasa
2: Mengerjakan tugas akademik secara mandiri paling tidak 1 menit dengan prompt maksimal 1 kali dari orang dewasa
3: Mengerjakan tugas akademik secara mandiri paling tidak 2 menit tanpa prompt
4: Mengerjakan tugas akademik secara mandiri paling tidak 5 menit tanpa prompt
5: Mengerjakan tugas akademik secara mandiri paling tidak 10 menit tanpa prompt

  1. Generalisasi Kemampuan Lintas Waktu, Tempat, Behavior, Material dan Orang

Proses dari generalisasi akan menyebabkan pembelajaran berjalan secara cepat. Awalnya anak dengan keterlambatan bahasa harus diajarkan setiap kemampuan, biasanya dengan program yang hati-hati pada pemberian prompt, teknik fading dan pemberian reinforcement  yang berbeda untuk setiap respons sekecil apapun (differential reinforcement). Terkadang dengan sedikit latihan anak dapat mahir belajar kemampuan baru, dan dengan sedikit atau tanpa latihan anak dapat mengembangkannya dengan mengakusisi kemampuan baru lainnya.  Contoh: anak dapat tact sepatu untuk sepatunya, dan tanpa training dapat tact sepatu kakaknya (stimulus generalization), anak diajarkan tact ‘anjing’ untuk anjing piaraannya dan tanpa training dapat mengenali dan tact anjing tersebut dengan “Maggie” nama sang anjing (response generalization).

1: Generaliasi sedikit kemampuan ke beebrapa orang dan berbagai waktu, tetapi tidak mudah untuk antar material
2: Generalisasi ke material baru, tetapi hanya setelah memberi contoh yang banyak (multiple exemplar training)
3: Generalisasi stimulus secara spontan pada lingkungan alami pada 10 kesempatan
4: Generalisasi respons stimulus secara spontan pada lingkungan alami pada 10 kesempatan
5: Secara konsisten melakukan kedua stimulus generalisasi dan response generalisasi pada 1-2 kesempatan

  1. Variasi Barang atau Peristiwa yang dapat berfungsi sebagai Reinforcer

Alat yang paling kuat untuk mengembangkan bahasa, pembelajaran dan kemampuan sosial dari anak autis dan terlambat perkembangan lainnnya adalah reinforcement. Salah satu aspek dari reinforcement adalah variasi dan peristiwa yang berfungsi sebagai reinforcer untuk seorang individu. Masalah yang timbul dari anak autis adalah keterbatasan dalam reinforcer. Secara umum, reinforcer yang ampuh untuk anak ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan unconditioned MO seperti lapar, haus, kontak fisik dan pemindahan rasa sakit. Beberapa reinforcer lain untuk di awal terapi adalah berbagai mainan. Beberapa anak sulit untuk berpindah dari reinforcer dasar diatas, padahal seharusnya tujuan akhir dari terapi adalah mengurangi reinforcer dasar diatas dan anak harus dapat berpindah ke arah reinforcer sosial, reinforcer otomatis dan reinforcer yang sesuai umurnya. Contoh reinforcer yang biasanya dapat diterima atau diberikan di kelas umum, seperti sosial reinforcer, stiker, stamp, dan lain-lain.

1: Harus sering diberi reinforcers, umumnya unleard motivators (makanan, minuman, kontak fisik)
2: Reinforcer dapat di ukur, sensori atau manipulative seperti mainan, sebab-akibat, music, boneka
3: Reinforcer berbentuk sosial (atensi), media teman (games), tempat tertentu (taman, toko) atau reinforcer yang diajarkan khusus untuk belajar
4: Reinforcer adalah berselang seling, soisal, otomatis, dan melibatkan banyak benda berbeda dan aktivitas
5: Reinfrocer adalah berselang seling, sosial, sesuai umur, bervariasi, dan melibatkan informasi dan sering berubah

  1. Kecepatan Menguasai Kemampuan Baru

Jumlah training untuk menghasilkan kemampuan baru adalah sangat yang penting untuk sukses di sekolah umum. Pada awalnya, mungkin membutuhkan ratusan training untuk mengajarkan kata baru dalam tact, tetapi setelah anak semakin ahli dalam belajar, jumlah dari training menjadi satu atau dua training saja sudah dapat melabel benda baru.

1: Biasanya memerlukan 2 atau 3 minggu untuk training dan ratusan trial untuk mempelajari kemampuan baru
2: Membutuhkan paling tidak 1 minggu dan 100 atau lebih trials untuk mencapai target kemampuan baru
3: Belajar beberapa target baru dalam seminggu dengan rata-rata 50 trials
4: Belajar beberapa target baru dalam seminggu dengan rata-rata 25 trials
5: Secara konsisten belajar target baru per hari dengan rata-rata 5 trials atau kurang

  1. Kemampuan Menyimpan Kemampuan Baru

Kemampuan anak untuk menyimpan kemampuan baru adalah sangat penting dalam pembelajaran. Jika anak secara konstan membutuhkan pengulangan training untuk kemampuan sebelumnya (yang sudah diajarkan), maka analisa dari kurikulum dan prosedur pengajaran harus dilakukan. Pengulangan pengajaran perlu dilakukan jika kemampuan diajarkan diluar perkembangan bahasa atau akademik (misal mengajarkan kata sifat sebelum anak paham betul kata benda), mengajarkan target kemampuan belum sampai mahir, dan kemampuan diajarkan diluar fungsinya.

1: Mengingat kemampuan baru paling tidak 10 menit setelah di nilai benar dalam satu sesi
2: Mengingat kemampuan baru paling tidak 1 jam setelah dinilai benar dalam satu sesi
3: Mengingat kemampuan baru selama 24 jam setelah dinilai benar dengan 5 atau kurang maintenance trials
4: Mengingat pelajaran baru setelah 24 jam tanpa maintenance
5: Biasanya mengingat pelajaran baru paling tidak 1 minggu tanpa maintenance

  1. Belajar dari Lingkungan Alami

Belajar dari lingkungan alami memiliki beberapa arti dalam proses mengajar dan belajar.

  • Aktivitas yang berhubungan dengan aktivitas anak sehari-hari (prakarya, makan, bermain sosial, waktu istirahat, naik mobil-mobilan, dll.
  • Belajar yang melibatkan situasi dimana behavior berubah tanpa pengaturan langsung dari guru, orangtua atau orang lain atau terjadi karena konsekuensi alami. Contoh menutup pintu jika tidak hati-hati akan terjepit sehingga anak akan berhati-hati untuk selanjutnya menutup pintu.

Untuk anak autis dan terlambat perkembangan lainnya, belajar harus dilakukan pada pengajaran yang terstruktur dan pemprograman secara hati-hati, tetapi setelah belajar menjadi lebih mudah, akan mulai dapat belajar kemampuan baru tanpa pengajaran yang terstruktur, reinforcer atau intervensi yang intensif. Selain konsep generalisasi, belajar dari lingkungan alami adalah salah satu cara memperkuat kemampuan baru dalam kegiatan sehari-hari dengan kontak sehari-hari dengan lingkungan sosial.

1: Belajar 2 kemampuan motor baru dalam lingkungan alami tanpa training intensif
2: Belajar 5 mand baru atau tact dalam lingkungan alami tanpa training intensif
3: Belajar 25 mand baru atau tact dalam lingkugan alami tanpa training intensif
4: Belajar 25 intraverbal baru dalam lingkungan alami tanpa training intensif
5: Secara mudah dan konsisten belajar kemampuan baru sehari-hari dalam lingkungan alami atau grup setting tanpa training intensif

  1. Kemampuan untuk Transfer Antara Verbal Operant Tanpa Training

Studi dalam bahasa menunjukkan bahwa anak mahir satu verbal operant tidak jaminan dia dapat menguasai verbal operant lain tanpa diajari. Bahasa receptive pun tidak otomatis ditransfer ke bahasa ekspresif. Tetapi dapat ditunjukkan bahwa kesulitan ini terjadi di awal pengajaran bahasa. Banyak training program untuk anak autis dan terlambat perkembangan lain menggunakan transfer prosedur dari kemampuan yang mahir untuk melatih yang belum dikuasai. Tujuan akhir dari prosedur ini adalah generalisasi untuk dapat mentransfer bahasa diantara verbal operant tanpa training.

1: Demonstrasi transfer echoic ke mand atau transfer tact pada 2 respons verbal dengan 2 atau kurang transfer trial
2: Demonstrasi transfer echoic ke mand atau transfer tact pada 5 respons verbal tanpa transfer trial
3: Demonstrasi transfer tact ke mand pada 10 respons verbal tanpa training
4: Demonstrasi transfer tact ke intraverbal pada 10 topik atau kejadian tanpa training
5: Demonstrasi transfer setiap hari, melibatkan bicara tingkat mahir dan pada semua pembicara dan pendengar di semua kemampuan berbahasa

  1. Adaptasi Terhadap Perubahan

Beberapa anak dengan terlambat perkembangannya terutama autisme, memiliki kesulitan untuk mengikuti perubahan dalam rutinitas dan aktivitas yang sudah direncanankan. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari dan di sekolah, sering banyak terjadi perubahan yang tidak terencana. Ketidakmampuan anak untuk fleksible terhadap perubahan dapat menimbulkan masalah di kelas umum, yang menyebabkan anak melakukan problem behavior, yang awalnya karena ketakutan dan kecemasan. Beberapa anak lain mungkin tidak ada masalah dengan perubahan, tetapi mereka memiliki kesulitan untuk kembali ke tugas yang harus dilakukan.  Anak diharapkan harus dapat beradaptasi dengan kondisi kelas yang selalu berubah.

1: Beradaptasi dengan beberapa perubahan minor dengan persiapan verbal, tetapi mungkin terlibat pada beberapa  behavior negatif
2: Menerima beberapa perubahan kecil, terlihat tertekan, membutuhkan persiapan besar pada perubahan
3: Menjadi terganggu dan mengeluh tentang perubahan, mungkin berulang, tetapi tetap mengikuti perubahan
4: Beradaptasi secara cepat dan tanpa negative behavior, tetapi menunjukkan sedikit tertekan
5: Anak mengatasi perubahan dengan baik, dan mengabaikan atau dapat mengatasi gangguan dan perubahan

  1. Perilaku Spontanitas

Salah satu masalah yang umum terjadi pada anak dengan keterlambatan bahasa terutama anak autis adalah bahasa dan kemampuan sosialnya membutuhkan prompt, tidak spontan. Target behavior tidak terjadi tanpa bantuan prompt. Awal dari interaksi sosial tidak terjadi jika perilaku harus didahului oleh prompt.

1: Menghasilkan beberapa behavior spontan, tetapi mayoritas bahasa dan sosial masih harus diprompt
2: Menghasilkan beberapa behavior spontan, tetapy mereka kebanyakan nonverbal behavior
3: Spontan (tanpa prompt verbal) mand dan tact beberapa kali sehari
4: Spontan mand, tact, intraverbal dan sosial verbal behavior beberapa kali sehari
5: Menghasilkan spontan behavior yang cocok untuk semua 16 area milestones assessment

  1. Kemampuan Bermain dan Melakukan Aktivitas Bermakna Secara Mandiri

Kemampuan bermain dan memanfaatkan waktu luang secara mandiri adalah komponen dalam pembelajaran dikelas. Banyak kesempatan dalam kelas yang harus dilakukan secara mandiri seperti waktu istirahat, membaca dalam hati, saat guru sibuk membersihkan atau mengajarkan anak lain. Untuk anak autis, kemampuan untuk mencari kegiatan mandiri untuk bermain atau melakukan aktivitas bermakna secara mandiri di kelas adalah cukup sulit, terutama untuk anak yang banyak memiliki stimming yang dapat berkompetisi dengan kemampuan bermain dan aktivitas bermakna yang dapat dilakukan di kelas.

1: Nilai 3 untuk bermain mandiri (independent play) di milestones assessment
2: Nilai 5 untuk bermain mandiri (independent play) di milestones assessment
3: Nilai 8 untuk bermain mandiri (independent play) di milestones assessment
4: Nilai 11 untuk bermain mandiri (independent play) di milestones assessment
5: Nilai 14 untuk bermain mandiri (independent play) di milestones assessment

  1. Kemampuan Mengurus Diri Sendiri Secara Umum

Beberapa aspek yang dapat di assess secara mandiri yaitu:

  • Motivasi (MO), apakah anak termotivasi untuk mengurus dirinya sendiri?
  • Inisiatif sendiri, apakah anak dapat berinisiatif mengurus dirinya sendiri tanpa prompt? Misal anak berinisiatif meletakkan sepatunya di rak
  • Mencoba kemampuan mengurus diri sendiri, apakah anak berusaha untuk mengurus dirinya sendiri? Misal anak berusaha untuk meletakkan sepatunya di rak sepatu.
  • Apakah kemampuan mengurus dirinya sendiri ini tergeneralisasi?
  • Apakah anak dalam perilaku negatif jika orang dewasa berusaha membantu atau memberikan kemampuan itu?

Contoh kemampuan ini adalah mencuci tangannya, mengganti pakaian sendiri, sikat gigi, membereskan tas sekolah, dll

1: Tidak ada skills untuk mengurus diri sendiri, tetapi tidak terlibat dengan negative behavior ketika orang dewasa mengurus sang anak
2: Membutuhkan verbal dan prompt fisik untuk menyelesaikan hampir semua kemampuan mengurus diri sendiri
3: Membutuhkan hampir semua verbal prompt, tetapi mencoba mendekati melakukan beberapa kemampuan mengurus diri sendiri
4: Inisiasi beberapa kemampuan mengurus diri sendiri dan biasanya mencoba mendekati melakukan beberapa kemampuan mengurus diri sendiri, tetapi masih membutuhkan prompt.
5: Termotivasi, menginisiasi mendekati kemampuan mengurus diri sendiri dan generalisasi, mungkin membutuhkan prompt.

  1. Kemampuan Toilet

Kemampuan menggunakan toilet adalah salah satu komponen yang penting dalam penentuan penempatan sekolah. Kemampuan ini tidak hanya anak dilatih untuk ke toilet dalam jangka tertentu tetapi anak harus bisa mengutarakan keinginannya jika ingin pergi ke toilet.

1: Masih menggunakan popok, tetapi menunjukkan kesiapan untuk toilet training (misal popok kering lama, bisa duduk 2 menit, dll)
2: Toilet training sudah dimulai, tetapi terkadang duduk untuk buang air kecil di toilet, tetapi masih menggunakan popok
3: Siang hari sudah terlatih, menggunakan popok celana dan terkadang ada kecelakaan, membutuhkan prompt dan pertolongan untuk rutinitas toilet
4: Kedua buang air sudah terlatih, tetapi masih butuh bantuan dan prompt untuk menyelesaikan rutinitas toilet
5: Inisiasi atau mand untuk menggunakan toilet dan mandiri untuk menyelesaikan semua langkah pada rutinitas toilet

  1. Kemampuan Makan

Kemampuan anak untuk makan mandiri adalah penting sehingga anak dapat berpartisipasi dalam makan siang bersama teman-temannya dengan minimal supervisi dari guru. Jika anak masih harus selalu diingatkan untuk duduk saat makan tentu akan mengganggu jalannya istirahat makan. Motivasi, inisiasi dan generalisasi seperti dijabarkan point diatas juga ada relevansinya dengan kemampuan makan.

1: Demonstrasi beberapa makan secara mandiri, tetapi membutuhkan prompt fisik untuk makan, terkadang makan secara berantakan
2: Secara mandiri makan makanan kecil, tetapi membutuhkan bantuan orang dewasa untuk makan, verbal prompt dan membersihkan makanannya
3: Secara mandiri mengambil makanan dari kotak makanan, makan snack, tetapi membutuhkan verbal prompt dari orang dewasa untuk makan
4: Secara mandiri menggunakan sendok, makan tanpa prompt, sedikit berantakan, membutuhkan prompt untuk membersihkan sisa makanan
5: Secara mandiri mengambil makanan, makan dan menggunakan peralatan, membersihkan secara mandiri atau dengan 1 verbal promt

Untuk bergabung dengan diskusi ini silahkan add:

  • FB Group: Rury ABA/VB Untuk Autisma
  • Telegram link: https://t.me/joinchat/EPjWgA1eIBgrn7-QLJ37aw
Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda, tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda terima.